khantry design

Selamat Datang di Website Mahanagari

PDFPrint

Halo! Selamat datang bin wilujeng sumping,

Selamat datang di Website resmi Mahanagari, sekaligus toko kedua kami setelah Mahanagari di CiWalk (Cihampelas Walk). Mahanagari mendesain kaos-kaos bertema Bandung. Kami mengangkat tema sejarah, budaya, hingga kehidupan sosial Bandung ke dalam media kaos. Beli kaos Mahanagari dapat dilakukan via online. Masuki Shop Online, yang terdapat di panel atas dan kiri, pilih link untuk tshirt laki-laki dan tshirt perempuan, lalu pilih kaos yang Anda sukai. Ikuti prosedur pembeliannya dan jangan lupa: daftar dahulu sebagai member website ini ya!

Karena website ini juga bertujuan untuk kampanye pengetahuan mengenai Budaya Bandung, maka Mahanagari akan terus meng-update informasi mengenai Kota Bandung tercinta - mulai dari tempat-tempat yang seru untuk dijelajahi, makanan yang harus dicoba, sejarah yang harus diketahui, dan cerita-cerita menarik lain. Termasuk beberapa komunitas di Bandung yang aktif berkegiatan. Masuki Catatan Perjalanan, Cerita Bandung, Travel Guide, dan Komunitas-komunitas di Bandung di All About Bandung. Panel ini ada disebelah kiri Anda. Mahanagari dan kegiatan Jalan-jalan Budaya dapat dilihat di Bandung City Tour, klik di bagian atas ujung kanan web ini.

Album Foto Mahanagari yang berisi Local Genius Mahanagari, Weega Mahanagari, Contributing Designer dan Contributing Writer dapat diakses melalui tombol di panel kiri.  Album Bandung Tempo Dulu pun dapat anda nikmati jika anda register terlebih dahulu di mahanagari.com.

Untuk teman-teman yang tertarik untuk memesan kaos khusus atau ingin desain merchandise perusahaan atau komunitasnya di-upgrade agar se-keren desain-desain Mahanagari, silahkan klik tombol Special Order di bagian atas website ini.

Dan jangan lupa berikan komentar Anda di web ini ;)

Hatur nuhun & enjoy the site!

-www.mahanagari.com-

 

5 Toko Roti Super Enak di Bandung

22-11-2010 | Nurul Wachdiyyah Karena doyan jajan, berikut ini kami rekomendasikan beberapa toko roti yang sering kami kunjungi. Rasanya super enak, harganya variatif. Roti-roti ini cocok sama lidah lokal maupun internasional. Rata-rata mereka ini juga home-made rotinya. Bukan kelas pabrikan. Sambil makan roti, sambil melestarikan usaha-usaha yang dikerjakan oleh tangan-tangan manusia, bukan mesin. Ayo dicoba! 1. Roti Sidodadi Roti bebas pengawet ini ada sejak nenek kami masih muda belia. Lokasi Sidodadi ada di Jl. Otista 255, Dekat dengan pusat perbelanjaan Pasar Baru. Diantara semua toko roti ala Belanda, toko roti Sidodadi didirikan dengan konsep citra roti yang dianggap sebagai penganan kaum elite bisa pula jadi makanan semua kalangan. Meski harga terjangkau, kualitas rotinya tetap terjaga. Tekstur rotinya lembut dan mungil tanggung. Rasanya dijamin enak. Harganya terjangkau, satu roti favorit kami : kornet keju harganya 3.700. Roti sosisnya pun sama. Sosisnya juga bukan sosis abal-abal. Asli sosis. Toko yang buka sejak pagi hingga sore ini selalu penuh pengunjung. Makanya disarankan beli roti pagi hari. Segar-segar, makan roti Sidodadi dan lanjut jalan-jalan di Bandung! kalau belinya sore mah keabisan.Roti jadul macam roti gambang, roti krenten atau kismis, dan roti tawar frans, masih bisa kita beli. 2. Roti Sumber Hidangan Roti-roti disini khas Belanda semua. Lokasinya yang ada di titik jayanya Bandung di tahun 1930an membuat Sumber Hidangan juga ikut berjaya pada masanya. Dahulu namanya Snoephuis dan kalau kita mampir ke toko ini, masih ada beberapa barang yang jadul-jadul. Tokonya juga sama jadulnya. Ayo pesan roti-roti enak disini. Cobain Zwieback, roti kering berlapis susu campuran vanilla, kayu manis, pala, dll. Manis banget dan dipanggang dua kali jadi rasanya : enak banget!. Cemil juga Frou frou Mocca, dua biskuit dengan krim mocca dan bertabur bubuk manis. Manisnya manis banget. Yang suka manis, cocok kalau datangnya kesini. Masih belum puas? ayo makan krentenbrood (roti kismis),...
+Baca terus ...

Soekarno adalah Presiden (Sekaligus Arsitek)

11-01-2010 | Nurul Wachdiyyah Soekarno dan Bandung adalah sejarah, saling terhubung satu sama lain. Soekarno tercatat sebagai mahsiswa angkatan pertama yang bersekolah di ITB (dahulu bernama Technische Hooge School). Soekarno juga menikah dengan Inggit Garnasih, wanita asal Bandung yang tinggal di jalan Ciateul. Soekarno dituntut karena gerakan nasionalismenya, diadili di gedung Landraad Bandung dan jadi narapidana di penjara Banceuy & penjara Sukamiskin Bandung. Terakhir, Soekarno berinisiatif mengajak pemimpin negara-negara Asia dan Afrika dan berkonferensi di Bandung. Lebih daripada itu semua, Soekarno juga ternyata pernah merancang beberapa bangunan di Bandung. Ini dia satu-satunya presiden di Indonesia yang pernah merancang bangunan tempat tinggal. Soekarno, presiden pertama Indonesia adalah insinyur lulusan Sekolah Teknik di Bandung,  (sekarang ITB). Tidak seperti kebanyakan arsitek Belanda yang merancang gedung-gedung besar di Bandung bagian utara, hampir sebagian besar bangunan rancangan Soekarno adalah tempat tinggal di yang terletak di Bandung selatan. Soekarno merupakan murid dari seorang arsitek belanda sekaligus guru besar Sekolah Teknik, Wolff Schoemaker. Schoemaker adalah orang yang merancang rumah belakang Pendopo (sekarang rumah dinas Walikota Bandung), gedung AACC, Gereja Bethel dan Katedral, Landmark, gedung PLN, masjid Cipaganti, hingga Gedung Isola dan bangunan Societeit Concordia (Museum Asia Afrika). Sama halnya dengan sang Guru yang memiliki ciri khas di setiap bangunan yang dirancangnya (yaitu Kala), Soekarno juga mempunyai ciri khas sendiri. Selain atap yang bersusun dua, di puncak atap bangunan rancangan Soekarno selalu terdapat ornamen yang bentuknya menyerupai Gada. (gambar isamping adalah rumah dinas walikota rancangan Soekarno) Soekarno adalah pengagum wayang dan salah satu tokoh favoritnya adalah Bima. Dalam legendanya, senjata yang selalu digunakan Bima adalah Gada. Begitulah salah satu versi yang mengatakan mengapa Soekarno selalu menempatkan Gada di setiap b...
+Baca terus ...

Susu dari Pangalengan

22-10-2008 | Nurul Wachdiyyah Setelah membuat koloni di Indonesia selama 350 tahun, Belanda mewarisi manusia Indonesia banyak hal, termasuk yang ada di Bandung saat ini. Di antaranya gedung-gedung tua yang cantik secara arsitektur. Tata bangunan & jalan yang terorganisir dengan rapi dan cermat (meski sudah diobrak-abrik oleh kita), perkebunan, dan tentu saja: susu. Kehidupan susu di Bandung bermula di dataran tinggi Bandung Selatan. Daerah bernama Pangalengan sudah eksis bahkan sejak Bandung belum ada. Seorang Londo legendaris bernama Bosscha membuka lahan perkebunan teh di Pangalengan. Untuk kehidupan dan bisnisnya, Bosscha tentu membutuhkan perangkat lain, yakni penerangan dan yang tidak kalah pentingnya lagi adalah konsumsi gizinya sebagai orang Belanda. Asupan gizi yang dimaksud adalah susu. Orang-orang Belanda, termasuk Bosscha, menternakan ratusan sapi perah di sekitar Situ Cileunca. Situ Cileunca adalah danau buatan Belanda dan satu-satunya yang ada di Pangalengan. Dataran Pangalengan yang bersuhu 8 hingga 16 derajat celsius membuat pemerintah kolonial Belanda menetapkan Pangalengan sebagai pusat peternakan susu perah. Akibatnya, orang pribumi dibekali pengetahuan memerah susu & mengembangbiakkan sapi perah. Efek ini berimbas pada keahlian masyarakat Pangalengan dalam mengolah susu. Mereka jago dalam beternak & mengolah susu sapi. Kalau pada jaman Bosscha hanya ada susu, kini susu Pangalengan bisa dinikmati dalam bentuk permen, tahu, dodol, hingga kerupuk susu. Dahulu, Pangalengan adalah salah satu dari tiga perusahaan pemerahan susu (Boerderij) yang terkemuka di Bandung. Begitu banyaknya hingga majalah ¨Mooi Indie¨ menyebut wilayah Pangalengan sebagai Friesland in Indie (Frisia adalah daerah penghasil susu di Belanda). Yang ngetop hingga hari ini adalah susu KPBS. Susu siap saji dengan berbagai rasa seperti vanilla, strawberry, dan coklat ini dihargai Rp 2500 per gelasnya. KPBS adalah singkatan dari Koperasi Peternak Bandung Selatan, sebuah koperasi yang cukup berhasil membina para ...
+Baca terus ...

Sedikit Tentang Kue Ape di Bandung

27-08-2010 | Nurul Wachdiyyah Jajanan pinggir jalan ini warnanya hijau. Jadi mudah untuk dikenal. Bentuknya pipih dengan gumpalan adonan di bagian tengah dan disekelilingnya tipis kecoklatan. Pernah beberapa kali ngemil kue ini dan rasa pandan menguar di dalam mulut, beradu dengan rasa manisnya. Hmm nyam nyam... Kalau teman-teman pernah lihat atau makan serabi Notosuman khas Solo, nah makanan khas bernama Kue Ape ini mirip sama jajanan Solo itu. Kue Ape bisa kita beli dipinggir jalan pusat keramaian, seperti mall. Paling sering kami lihat penjual Kue Ape dan gerobaknya nongkrong di daerah Kings jl. Kepatihan. Tidak ada yang spesial dari kue rasa manis ini. Semua serba sederhana. Kecuali harga yang makin kesini makin naik saja. Kue Ape cenderung mengikuti jalan hidup gorengan. Makin mahal saja.Kalau tahun 2006 kami pernah beli Rp 5000 dapat 20 buah. Sekarang dengan duit segitu paling banter dapat 8 atau 10. Yaiks! Hmmm...berhubungan tidak setiap hari makan kue ini yasudah tidak apa-apa. Ada yang pernah makan kue Ape?   Foto dari Flickr oleh Skolastika Lianna ...
+Baca terus ...

Taraweh Keliling : Masjid Lautze

28-09-2010 | Adhadi Praja Kunjungan perdana saya ke masjid ini dalam rangka Taraweh keliling (Tarling) yang diadakan oleh Mahanagari. Masjid ini merupakan masjid terakhir yang kami singgahi dari 7 masjid yang menjadi tujuan kami. Masjid ini adalah masjid terakhir yang jadi tujuan dari 7 kali Tarling. Masjid Lautze bukanlah masjid seperti kebanyakan masjid lain yang ukurannya relatif luas dan kental dengan corak arab. Masjid ini hanya terdiri dari 7×6 meter luas dan hanya bisa menampung kurang lebih 40-50 jamaah saja. Itu pun sudah bersesak-sesakan. Nama Lautze sendiri diambil dari seorang filsuf china Lao Tse yang dikenal akan kearifan dan kebijaksanaanya. Masjid ini didirikan atas prakarsa muslim keturunan Tionghoa Abdulkarim Oie Tjeng Hien yang kemudian mendirikan yayasan yang bernama Yayasan Haji Karim Oei (HKO). Tujuan beliau mendirikan masjid ini untuk media informasi dan sebagai wadah bagi etnis Tionghoa yang ingin belajar dan mengenal Islam lebih dalam. Senapas dengan namanya, nuasa oriental begitu kental terasa di masjid ini. Warna merah mendominasi interior bangunan Lautze, terdapat kantor kecil di atas tempat sholat. Di tangga menuju lantai 2 (ruang DKM) terdapat ukiran-ukiran khas negeri tirai bambu. Ruangannya kecil. Saya suka masjid ini. Mungkin karena interiornya yang berwarna merah cerah sehingga terkesan hidup itu yang membuatnya beda dari masjid-masjid lain yang rata-rata ber-cat-kan putih atau krem. Konsepnya pun cukup minimalis namun nuansa Tiongkok-nya begitu terasa. Beberapa teman yang lain berkata kalau sholat di masjid ini bikin kepala pening. Warna merah yang disinari lampu putih bikin 'nyolok' mata. Yah tiap orang punya pendapatnya sendiri. Jadi ayo teman-teman dicoba juga mampir ke Lautze dan sholat disana ya! Ah, suatu saat saya pasti akan datang lagi ke masjid ini, entah sholat atau sekedar berkunjung...     Foto : Ayu 'Kuke' Wulandari ...
+Baca terus ...
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Indonesian Arabic Chinese (Simplified) Dutch English Filipino French German Hindi Italian Japanese Korean Malay Portuguese Russian Swahili Thai Vietnamese
- - Contact Us - - About Us - - Jobs - - Help and FAQ - -
JoomlaWatch Stats 1.2.9 by Matej Koval