Tur Purbakala Gua dan Bukit Pawon
Last Updated on Thursday, 06 May 2010 09:42 Written by Nurul Wachdiyyah Wednesday, 22 October 2008 17:58
Bandung 25 juta tahun yang lalu adalah lautan yang jejaknya dapat kita lihat (dan sentuh) di tempat bernama Pasir Pawon dan Gua Pawon.
9000 tahun yang lalu manusia purba pernah menghuni Gua Pawon dan mereka dipercaya sebagai manusia pertama yang menempati Bandung.
Biaya: Rp 245.000/Orang (untuk 20 orang)
Fasilitas:
- Panduan Jalan-jalan Bandung Purba
- Souvenir Mahanagari berupa kaos dan pin Mahanagari
- Transportasi (tergantung jumlah peserta)
- Pemandu
- Makan
- Cemilan
- Tim Sweeper selama di lokasi
Cara pendaftaran:
1. Hubungi Ulu di no 0813-9488-9090 atau email ke mahanagari@gmail dengan subjek: Tur Mahanagari
2. Pendaftaran dilakukan minimal dua minggu sebelum keberangkatan
3. Syarat-syarat ketentuan tur Mahanagari dapat diperoleh dengan mengirim email ke
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Tentang Pasir Pawon dan Goa Pawon
Pasir Pawon

Ada banyak fosil koral (ingat film 'Finding Nemo'?) yang banyak ditemukan di Pasir Pawon. Inilah artifak yang membuktikan bahwa jutaan tahun yang lalu perbukitan ini memang berada di bawah laut.Di luar nilai estetiknya yang luar biasa, proses terbentuknya batu-batu ini juga adalah sesuatu yang pantas diketahui.
Pasir Pawon terletak di Kabupaten Bandung Barat. Perjalanan ke sana menempuh waktu 30 menit ke arah barat kota Bandung. Di sekeliling Pasir Pawon terdapat banyak perbukitan kapur lain- yang pada jutaan tahun yang lalu berada di bawah lautan. Terangkat ke atas karena gejala tektonik alam. Hampir semua perbukitan lain di sekelilingnya (Gunung Masigit, Bancana, Leuit, dll) telah hancur ditambang oleh pengusaha-pengusaha kapur. Pada bukit-bukit tertentu dapat ditemukan sampai 7 perusahaan penambang kapur yang setiap saat meledakkan, memecah-mecah dan mengangkat bongkahan batu kapur besar ke pabrik pengolahan Kapur. Pasir Pawon adalah satu-satunya bukit yang masih selamat dari tangan industri.
Gua Pawon
Seperti kebanyakan goa alami, goa ini terbentuk karena arus air yang mengikis batu kapur sedikit demi sedikit dalam waktu yang sangat lama. Di dalamnya telah ditemukan fosil manusia pawon (homo sapiens) yang diperkirakan berumur 6000 - 9000 th, mungkin nenek moyang orang Sunda.
Goa ini sangat strategis lokasinya (menurut standar manusia purba), karena menghadap sebuah lembah yang memiliki padang perburuan dan mata air di bawahnya. Lokasinya yang tidak terlalu jauh dari danau Bandung Purba (sumber air) juga lah yang mungkin menyebabkan nenek moyang kita merantau sampai daerah ini.
Kita harus hati-hati ketika jalan di dalam Goa Pawon karena jalan-jalan di dalamnya cukup licin. Tapi jangan khawatir, kami akan menyediakan tali untuk membantu kita semua berjalan-jalan dengan lebih aman di dalam. Begitu sampai ke pintu goa, biasanya kita langsung disambut oleh bau menyengat .. bau Guano .. kotoran kelelawar!
Dari temuan-temuan batu obsidian yang digunakan sebagai perkakas dan perhiasan di dalam gua, diperkirakan mereka adalah kelompok pemburu dari timur Bandung yang menyusuri sisi Danau Bandung Purba sekitar 9000 tahun yang lalu.
Ada 5 buah jendela besar di dalam kompleks Goa Pawon, yang semuanya dapat dipergunakan untuk melihat ke lembah di bawahnya. Selain membuat ruangan menjadi lebih segar, mungkin jaman dahulu jendela ini berguna untuk mengamati pergerakan binatang buruan atau juga dipergunakan untuk sistem pertahanan sederhana.
Pangalengan Water Tour
Last Updated on Thursday, 06 May 2010 09:30 Written by Ben Sudarmadji Wednesday, 22 October 2008 17:47
Jalan-jalan ke Pangalengan, sebuah dataran tinggi di kawasan Bandung Selatan yang cuacanya masih sejuk dan dingin. Disana kita bakal mengunjungi perkebunan teh terluas di Jawa, pembangkit listrik tua yang punya Lori dari jaman Belanda, sampai kemudian berarung jeram di Sungai Palayangan yang jernih dan segar airnya, lalu berakhir dengan menikmati pemandangan Pangalengan di teras luar Pabrik Geothermal (atau yang sering dibilang orang sebagai Pabrik Awan).
Biaya : Rp 430.000/Orang (minimal 15 orang)
Fasilitas:
- Panduan Jalan-jalan Pangalengan
- Souvenir Mahanagari berupa kaos dan pin Mahanagari
- Transportasi (tergantung jumlah peserta)
- Pemandu
- Makan
- Cemilan
- Tim Sweeper selama di lokasi
- Tiket ke tempat wisata/kunjungan
- Arung jeram dan perlengkapannya
Cara pendaftaran:
1. Hubungi Ulu di no 0813-9488-9090 atau email ke mahanagari@gmail dengan subjek: Tur Mahanagari
2. Pendaftaran dilakukan minimal dua minggu sebelum keberangkatan
3. Syarat-syarat ketentuan tur Mahanagari dapat diperoleh dengan mengirim email ke
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Tentang Pangalengan
Pangalengan merupakan dataran setinggi 1.000-1.400 meter di atas permukaan laut yang terletak di sebelah selatan Bandung dengan suhu yang berkisar 12-28 derajat Celcius. Kota kecil ini khas dengan petak-petak kebun tehnya, terkenal dengan olahan peternakan susu (murninya), belum lagi sayur-mayur yang seger-seger, sampai ke jaringan pembangkit listrik yang bikin Bandung terang benderang. Bisa jadi Pangalengan lebih dulu mempunyai jaringan listrik daripada kota Bandung.
Lori Lamajan
Ada tiga Pembangkit Listrik Tenaga Air di Pangalengan, yaitu PLTA Plengan, PLTA Lamajan, dan PLTA Cikalong. PLTA Lamajan merupakan PLN yang akan kita kunjungi. Kenapa hanya Lamajan? Selain karena terbatas waktu juga karena ada lori! Yeah, selain bisa memandang lepas ke panorama yang aduhai hijau mempesona, pipa-pipa turbin dan lingkungan sekitarnya yang berwarna kuning terlihat menyegarkan pandangan, terutama jika dilihat dari kawasan stasiun lori di kawasan PLTA tersebut. Lori ini pun menjadi daya tarik sendiri. Menggunakan mesin berlabel Figee Haarlem Holland 1924, keretanya mampu menampung hingga 10 penumpang dan beban mencapai tonan. Untuk menggerakannya, lori ditarik secara naik turun dengan sling baja sepanjang 280 meter. Lori ini tidak berjalan datar, melainkan menukik melewati trek yang curam sampai kemiringan antara 70-80 derajat. Trek ini menghubungkan ke ruang turbin yang berada di ujung pipa itu. Lumayan bikin jantung deg-degan kok.
Perkebunan Teh Malabar
Dari Lamajan kita teruskan perjalanan ke Malabar. Keliling perkebunan teh, ayo puas-puasin lihat yang hijau-hijau deh. Kompleks perkebunan ini didirikan oleh orang Belanda bernama Bosscha. Dahulu Bosscha adalah juragan teh yang sangat dihormati oleh masyarakat Pangalengan. Saking kaya rayanya, beliau ikut menyumbang berdirinya kampus ITB dan jadi sponsor peneropongan Bosscha di Lembang. Disini kita akan sekalian ‘ngelayat’ di makam Bosscha dan ngobrol sebentar dengan kuncennya.
Situ Cileunca dan Sungai Palayangan
Lalu kita rafting! Kita basah-basahin nyicipin sungai Palayangan, penyuplai air yang dijadikan tenaga pembangkit listrik. Sungai Palayangan merupakan salah satu pilihan tempat berkegiatan arung jeram yang relatif dekat dari kota Bandung. Sungai ini terletak 45 km di selatan Bandung. Air sungai Palayangan berasal dari Situ Cileunca, sebuah danau buatan Belanda dengan luas lebih dari 2 lapangan sepakbola yang dikelilingi oleh hutan pinus, perkebunan teh dan kebun sayuran. Air sungai ini sebenarnya diperuntukkan untuk PLTA di Pangalengan.
Walaupun relatif sempit, Sungai Palayangan memiliki gradien tinggi sehingga arus sungai cukup kencang dengan kelas jeram antara III - IV. Lintasan pengarungan adalah sekitar 4, dengan 14 jeram antara lain jeram selamat datang, rungkun, blender, es, kecapi, comba, anak domba, gadis 1, gadis 2 dan rahong. Kegiatan berarung jeram ini menghabiskan waktu sekitar 1,5 - 2 jam.
Kegiatan arung jeram di sungai ini berbeda dengan berarung jeram di sungai 'liar', tapi yang pasti Sungai Palayangan mampu memberikan tantangan yang menjanjikan. Tantangan yang berlaku tidak saja bagi para pemula, namun juga bagi mereka yang pernah mengikuti kegiatan arung jeram



Curug Sigay
Pondok Hijau