Catatan Perjalanan

Gua Pawon, Keindahan yang Terlupakan

PDFPrintE-mail

Gua Pawon adalah sebuah tempat yang penting bagi orang Sunda karena di sana pernah ditemukan kerangka manusia purba yang konon adalah nenek moyang orang Sunda (masih diteliti di balai Arkeolog Bandung). Gua ini sebenarnya adalah sebuah situs purbakala yang terletak di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, atau sekitar 25 km arah barat Kota Bandung.

Namun sayangnya popularitas Gua Pawon sendiri sebagai sebuah tempat wisata kalah dengan tempat-tempat wisata lainnya yang berada di sekitar Bandung. Misalanya saja oleh Kawah Putih, Tangkuban Perahu ataupun Situ Cibutur yang berada di dekatnya. Jadi bagi yang tinggal di daerah Bandung atau pun yang sering berdomisili di Jatinagor seperti kami, kami sarankan untuk berkunjung ke Gua Pawon ini.

Untuk ke Gua Pawon, khusunya untuk yang berdomisili di Bandung atau Jatinangor, sebenarnya tidaklah sulit dan tidak memerlukan biaya yang besar. Kita tinggal naik bus jurusan Jakarta, Cianjur atau Bogor yang melewati Padalarang.

Setelah itu turun di di jalan raya Bandung -  Cianjur, tepatnya di daerah Citatah. Tidak sulit ditemukan karena di pinggir jalannya ada plang bertuliskan ’Situs Sejarah Gua Pawon’. Semoga saat teman-teman pas kesana plangnya tidak sedang ambruk. Letaknya tidak jauh setelah melewati Situ Ciburuy. Kalau sama sekali tidak tahu kawasan ini, bisa minta tolong pada kernet bisnya. Ongkos yang harus dikeluarkan juga tidak terlalu mahal. Saat itu kami naik dari Cileunyi dan diharuskan membayar Rp 7.000, mungkin kalau dari Bandung antara Rp 20.000 -  Rp 25.000.

Setelah sampai di plang tersebut ada sebuah belokan berupa sebuah jalan panjang yang tidak terlalu besar hanya saja jalanya sudah rusak cukup parah. Mungkin karena banyaknya truk pengangkut batu kapur yang sering pulang pergi lewat jalan itu. Sebenarnya untuk sampai ke Gua Pawon dari jalan tersebut, mempunyai dua pilihan. Pertama, naik ojeg dengan tarif sekitar Rp 10.000,- atau jika ingin merasakan perjalanan yang lebih seru, sebaiknya jalan kaki saja, karena pemandangan yang ditawarkan juga cukup cantik.

Bila ingin berjalan kaki, maka akan menempuh jalan yang berbatu-batu, menanjak dan jauh. Di tambah lagi matahari yang menyengat. Tapi semua itu akan terbayar karena sambil berjalan, bisa merasakan hembusan angin segar dan indahnya tebing di karst Citatah yang meneluarkan semburat emas terekena sinar matahari.

Dalam perjalanan ini, harus banyak bertanya pada warga sekitar karena sama sekali tidak ada papan petunjuk jalan untuk menuju ke Gua Pawon. Setelah berjalan cukup lama dan melewati beberapa tanjakan serta turunan ditambah jalan tanah merah becek barulah sampai di mulut Gua Pawon.

Selain menuju ke Gua Pawon, yang datang ke sini juag bisa memanjat teving di karst Citatah ataupun ke Gunung Masigit, karena kami pun sempat melihat beberapa orang yang sepertinya adalah pecinta alam sedang memanjat tebing.

Indah, eksotis dan misterius. Mungkin itulah kata-kata yang bisa menggambarkan Saat kami sampai ke Gua Pawon. Saat itu kami jadi ingin cepat-cepat masuk ke sana. Sayangnya harus siap-meliahat banyak sekali coretan-coretan pilox yang mengotori plang nama gua tersebut maupun dinding-dinding disekitarnya.

Saat sampai di sana, jangan berpikir kalau akan menemukan penjaga Gua atau orang yang bisa mengajak berkeliling gua. Karena gua tersebut benar-benar sepi. Tidak ada kehidupan manusia. Paling hanya beberapa anak kecil saja yang terkadang lewat.

Kalau berani, bisa langsung masuk dan menjelajahi gua itu sendiri. Namun bila merasa tempat itu sedikit spookey, gelap gulita dan takut tersesat seperti kami waktu itu, kami sarankan mencari penduduk sekitar yang bisa dijadikan guide. Waktu itu kebetulan penduduk sekitar sana merekomendasikan kami pada Pak RT setempat, yaitu Pak Koswara. Jadi kalau memang butuh pemandu, tidak ada salahnya mencari Pak Koswara. Cukup bertanya saja ke penduduk sekitar, maka akan diantar ke rumanya.

Saat itu Pak Koswara menawari kami melewati dua jalur untuk sampai ke Gua Pawon. Pertama lewat jalan utama yang tadi sudah kami lewati. Dan yang kedua lewat jalan alternatif di sebelah utara jalan utama. Kata Pak Kosawara,  kalau mau menjelajah dan yang lebih dekat dari sawah tempat kami bertemu adalah jalan alternatif, jadi kami pun memilih lewat jalan alternatif saja. Jadi tergantung pada mau melesati jalan yang mana. Pakah ingin aman-aman saja dan melalui multu utama, atau ingin merasakan sedikit jalanan terjal melalui jalan alternatif seperti kami.

Jalan alternatif yang ditawarkan Pak RT ini memang juara karena sangat terjal dan juga licin, sangat berbeda jauh dengan jalan utama yang kami lewati sebelumnya. Tapi dengan begitu kita bisa merasakanpetualangan lebih lho..

Waktu itu kami sempat beberapa kali mengalami kesulitan saat menanjak, mungkin karena sepatu yang kami pakai. Jadi kami saranakan bagi untuk memakai alas kaki yang aman dan nyaman. Pakailah sandal gunung atau sepatu boot. Pokoknya pakai alas kaki yang tidak licin dan nyaman.

Begitu sampai ke mulut gua, akan disambut oleh pandangan yang hebat. Saat itu berarti sudah berada di mulut Gua Poek. Gua ini sering dipakai sebagai tempat bermalam oleh orang yang berkunjung ke Gua Pawon.  Di dalamnya terdapat sebuah ruangan yang cukup luas yang memang terlihat seperti sebuah kamar untuk menginap. Menurut Pak RT, dalam legenda orang Sunda (legenda Sangkuriang), gua ini dulunya adalah dapur Dayang Sumbi.

Untuk sampai ke ruang berikutnya yang merupakan ruang utama harus sedikit memanjat dan menyelip di bawah batu besar. Cukup sulit, jadi harus berhati-hati.

Sampai di sisi lain gua, kedatangan kita akan kembali disambut oleh pemandangan yang indah. Ada tiga mulut gua yang seperti mendadahi minta dimasuki, dan ada satu lagi yang letaknya di bawah, jadi seperti kolam kering yang di pojoknya ada sebuah celah besar. Saat berada si sana, kami sarankan mengambil foto yang banyak, karena pemandangannya bagus sekali. Sayang jika tidak diabadikan.

Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan memasuki mulut gua paling kiri. Gua ini masih temasuk ke dalam bagian dari Gua Lega, karena ruangannya memang nyambung dengan ruangan dari kedua mulut gua yang lainnya, sehingga di namakan sebagai ruang utama.

Di bagian kiri atas gua ini, ada sebuah spot yang dinamakan Sumur Bandung. Sumur Bandung ini sebenarnya bukanlah sebuah sumur, lebih seperti sebuah kolam kecil yang cukup dalam yang tentu aja berisi air. Konon kata Pak RT biasanya orang-orang yang datang kesana itu percaya kalo air dari sumur itu sakti, ya bisa bawa tuah katanya. Menurut Pak RT juga, air sumur itu tidak selalu ada, kadang-kadang saja. Dan kebetulan sekarnag sedang terisi.

Sumur Bandung ini tempatnya cukup tinggi dan jalan kesana total harus memanjat dinding batu yang terjal dan licin. Untuk itu bagi yang memakai sepatu kets biasa seperti kami waktu itu, kami sarankan untuk mencopot sepatu saja, kareana sangat licin. Dan carilah batu untuk pijakan meloncat ke atas.

Sumur tersebut sebenarnya tidak terlalu besar. Mungkin juga tidak akan bisa melihat seberapa dalam sumur itu karena gelap. Airnya bening dan dingin. Bagai yang percaya bahwa air di sana membawa tuah, bisa membasih muka, tangan atau kaki dengan air itu. Dan tentu saja saran kami jangan lupa foto-foto.

Dari situ bisa terus berjalan ke arah belakang. Menuju sebuah celah besar, tapi sayangnya lagi- lagi  di dalam sana harus menemukan banyak sekali coretan-coretan pilox tidak penting yang merusak keindahan gua.

Melewati celah besar itu kita akan kagum melihat pemandangan yang ada di sana, seperti kami waktu itu. Ada sebuah tebing yang indah sekali. Sebelah kanannya ada sebuah gua kecil yang di depannnya terdapat lokasi penemuan fosil manusia purba. Jadi ternyata gua ini pernah di pakai sebagi tempat tinggal manusia purba, yang konon adalah nenek moyangya orang Bandung.

Di situ kita bisa menikmati indahnya tebing yang menjulang tinggi dengan warna emas kecoklatan, lalu berjalan ke bawah sedikit ada lagi celah di pinggir tebing yang bentuknya seperti sebuah jendela besar bagi Gua Pawon sebagai rumahnya. Menurut Pak RT, tempat ini dinamalakn Gua Kopi  karena dulunya di sini banyak pohon kopi yang tumbuh.

Dari sana bisa lanjut ke bagian depan  Gua Pawon. Bagian yang pertama kali kami masuki sebelum bertemu Pak RT. Untuk sampai ke sana, harus kembali lagi ke Gua ruang utama dan kali ini berjalan turun ke bawah, ke tempat yang sebelumnya kami sebut sebagai kolam kering dengan celah yang cukup besar di pojoknya.

Setelah melewati celah itu, kita akan sampai di tempat yang di beri plat 'kamar 1'. Disini bau kotoran kelelawar menyengat sekali. Ya,  disarankan tidak usah berdiam terlalu lama disini karena banyak kelelawar dan bau kotorannya yang menyengat. Dari situ bisa langsung keluar Gua Pawon melalui mulut utama.

Setelah keluar dari mulut gua itu masuk ke satu gua lagi, yaitu Gua Barong. Gua ini terletak di sebelah kanan jalan masuk utama. Menurut Pak  RT, di dalam gua itu banyak benda-benda  pusaka yang cukup sacral. Sayangnya saat itu kamiterpaksa menguruhkan niat untuk memasuki gua itu karena trek ke gua itu yang sangat terjal, di tambah hujan turun semakin lebat.

Bila tidak jadi masuk ke Gua Barong, kita bisa melanjutkan perjalanan meliahat pemandangan yang indah dari bukit-bukit di karst Citatah atau bila membawa perlengakapan yang memadai kita bisa lanjut ke Gunung Masigit. Dan jangan lupa memeberikan tip kepada orang yang mengatar kita berkeliling gua, hitung-hitung ucapan terima kasih. Kami waktu itu memberi Pak Koswara lima puluh ribu rupiah, ya sebanding dengan yang kami dapatkan. Karena dia pun rela meninggalkan pekerjaannya di sawah. Heu…

Saran dari kami, bila memang ingin berkunjung ke Gua Pawon atau kawasan karst Citatah lainnya sebaiknya cepat-cepat. Karena yang mengkhawatirkan kami juga, tempat tersebut sebentar lagi terancam bertambah rusak bahkan mungkin akan hancur oleh  penambangan fosfat dan batu kapur. Bahkan beberapa lokasi di sekitar gunung Masigit sudah cukup porak poranda dan gundul akibat penggalian.

Ya, semoga saja ini tidak terjadi dan hanya menjadi kekahwatiran kami saja. Jadi untuk yang ingin ke sana, selamat mencoba. Oh ya, daran dari kami lagi, bila punya waktu lebih setelah atau sebelum dari Gua pawon, bisa sekalian menikmati keindahan Situ Ciburuy, jadi sekali mendayung dua pulau terlampaui. ^-^ (ARG)

 

Geowisata Bandung Selatan

PDFPrintE-mail

Jalan-jalan. Tema yang sedang jadi tren hampir dua tahun belakangan ini di Bandung. Tema jalan-jalan yang saat ini sedang berlangsung di Bandung adalah Geowisata karena perdua-bulannya diselenggarakan oleh TRUEDEE, sebuah Penerbit di Bandung. Loh kok penerbit? Iya. Mereka adalah penerbit buku berjudul Wisata Bumi Cekungan Bandung (WBCB) yang jadi pedoman jalan-jalan yang bertemakan GEOTREK. Jalan-jalannya dipandu oleh penulis buku tersebut, yaitu T. Bachtiar (TB) dan Budi Brahmantyo (BB). Keduanya adalah dedengkot geografi, geologi, dan budaya di Bandung. Sebenarnya masih banyak yang jadi ahlinya kedua bidang diatas, hanya saja bapak-bapak tersebutlah yang aktif mendekati masyarakat umum melalui acara jalan-jalan.

Geotrek adalah rute perjalanan menyusuri beberapa kawasan tertentu yang saling terhubung satu sama lain. Lintasan yang dilalui  mengandung unsur sejarah hunian dan budaya kawasan, asal usul kawasan, serta bentukan geologi dan geografi. Wisata geotrek ini bernama Geowisata. Selain menggunakan kendaraan umum, hampir setengahnya dari Geotrek dilakukan dengan berjalan kaki. Karena itu, kondisi tubuh yang sehat itu syarat mutlak kalau ikutan jalan-jalan model gini.

Buku ini memuat sembilan trek Geowisata. Truedee mengajak masyarakat umum untuk cicip jalur Geotrek yang terdapat dalam buku berhalaman 276 ini. Geowisata geotrek I dilakukan pada bulan Agustus 2009. pada akhir tahun 2009, Truedee kembali menyelenggarakan geowisata geotrek II. Tujuannya adalah Bandung selatan, yaitu kawasan Gunung Puntang di lereng Gunung Malabar dan Pangalengan.

Pagi pukul 6.28 jalan Ganesa depan kampus ITB sudah ramai oleh kerumunan orang. Salah satunya kelompok Geotrek II. Kami diminta kumpul setengah tujuh pagi. Keberangkatan menuju Pangalengan dijadwalkan pukul 7 pagi. Jumlah pesertanya mencapai 60 orang dan dua minibus siap mengangkut kami menuju tempat lokasi.

Bandung hari sabtu pagi, tidak terlalu ramai. Bahkan terusan Buah Batu juga bisa dilewati dengan cukup mulus. Salah satu biangnya kemacetan di Bandung Selatan, perbaikan Jembatan Citarum, juga lancar dilalui. TB sempat cerita sedikit tentang sungai Citarum. Tahun 2005 Pemerintah kota merubah aliran sungai Citarum di daerah Dayeuh Kolot ini. Tujuannya untuk mencegah agar luapan airnya di kala hujan tidak membanjiri kawasan Banjaran. 15 miliar terpakai percuma karena hasilnya sekarang sama saja, yaitu banjir.

Sekitar satu setengah jam kemudian, bis berbelok ke kiri menuju kaki Gunung Puntang (lereng gunung Malabar). Lereng Gunung Malabar adalah daftar kunjungan pertama Geotrek II. Kami akan lihat puing-puing kompleks stasiun radio Malabar dan sungai Ci geureuh. Pada jaman kolonial, karena alasan tertentu tahun 1918 Belanda pernah membangun stasiun radio di kawasan lereng ini, namanya Stasiun Radio Malabar. Stasiun radio pertama di Hindia Belanda ini adalah yang terbesar dan tercanggih pada jamannya. Pintu komunikasi Bandung dengan dunia internasional dilakukan melalui radio ini. Disamping stasiun radio, Belanda juga membangun kota satelit sebagai sarana pelengkap fasilitas stasiun radio.  Call sign terkenal pada masa itu adalah “Hallo (disini) Bandung!”. Namun sayangnya, kobaran api pada peristiwa Bandung Lautan Api tidak hanya membumihanguskan kota Bandung, tapi juga stasiun radio Malabar. Beberapa pejuang BLA membom kawasan kompleks. Sekarang ini kita hanya bisa menyaksikan puing-puingnya saja. Sisa gedung radio Malabar entah disebelah mana, tapi rumah-rumah yang dulu ada di kompleks ini jejaknya masih bisa dilihat. Beberapa puing bahkan ada papan nama pemiliknya, seperti Marsongko dan Soeganda. (gambar di kanan adalah narasumber Geotrek, sedang menerangkan tentang areal pegunungan).

 

Diantara puing-puing bangunan, TB bercerita asal usul nama gunung Malabar. Menurutnya dahulu terdapat sebuah kampung bernama Maleber. Maleber artinya air yang selalu meleber. Dalam bahasa Sunda, Ma = seperti, dan bar, Ber, Bur = air yang moncor banyak dan meleber kemana-mana. Malabar adalah daerah yang airnya meleber kemana-mana.

Kami berjalan kembali meninggalkan reruntuhan bangunan kompleks perumahan Malabar usai mendengar cerita mengenai Gunung Malabar dan stasiun radio Malabar.  Sungai Ci geureuh yang bening nan cantik itu menunggu. Kami berjalan kira-kira 10-15 menit menuju sungai. Air sungainya bening dan segar luar biasa. kami berjalan menyusuri sungai tersebut. Meskipun dingin, sayang sekali kalau tidak nyemplung di sungainya. Dalamnya sungai tidak lebih dari tinggi paha orang dewasa. Arus sungai cukup deras, terutama di setiap jeramnya. Kami berjalan berlawanan arah dengan arus sungai, dari bawah merangkak ke atas. Sekitar 1 km saja jarak yang kami lalui. Kalau sedang berada di sungai jenis seperti ini, jangan lupa tangkupkan air sungai di tangan lalu basuhkan ke wajah. Sejuknya hampir bikin melayang-layang saking senangnya. Sampailah kami di bagian atas yang lebar sungainya lebih luas. Latar belakangnya adalah gunung, besar kemungkinan itu Gunung Haruman dan Puntang.

Beberapa batu di sungai bisa dijadikan sandaran untuk duduk. Semua peserta nampaknya senang juga kayak saya. Selesai bermain dengan air, kami naik ke darat. Kembali, duet TB dan BB bercerita mengenai ilmu kebatuan. Bebatuan yang berada di sungai ternyata sangat bagus untuk memecah derasnya air sungai. Jenis batunya bisa bermacam-macam, dari yang paling besar sampai yang terkecil. batu-batu tersebut berasal dari letusan gunung. Mereka terbawa lava yang mengalir.

Kami kembali ke parkiran bis. Beberapa peserta kepincut kolam cinta yang tertera di papan petunjuk. Sebagian mengusulkan untuk pergi melihat kolamnya. Jadi lah kami beranjak lagi, demi kolam cinta.  Dinamakan kolam cinta karena bentuk kolamnya menyerupai hati, sepertinya begitu. Kolam berada di lembah pegunungan. Bisa saja ya orang Belanda, bikin kolam di tempat seperti ini. Bayangkan, duduk di tepi kolam sambil menikmati pemandangan gunung, kabut, awan, langit, dan pepohonan. Bisa jadi dahulu kala mereka suka bikin garden party disini atau sekedar makan pagi yang indah. Sekarang kolamnya hanya sekedar nempel, tidak dirawat dan tidak dibikin menarik.

Karena terbentur dengan jadwal kunjungan, kami harus segera pergi meninggalkan kawasan Gunung Puntang. Jadwal berikutnya adalah makan siang di areal kompleks perkebunan teh Malabar. Menuju ke kompleks tersebut, bis melaju lewat daerah pasar Pangalengan dan rumah penduduk. Masyarakat Pangalengan sedang membangun rumahnya. Kebanyakan mulai beralih ke bahan bangunan dari bambu. Pasca gempa bulan September, bambu mulai diminati karena tahan goncangan gempa. Sayangnya harga bambu di Pangalengan sedang tinggi.

Bis langsung menuju ke rumah Bosscha. Arena makan siang dilakukan di hall samping rumah Bosscha. Menunya soto, tempe, ayam goreng, telor, perkedel, dan kerupuk melinjo. Ada juga teh tawar hangat dan buah pisang. Usai memenuhi piring dengan menu tersebut (minus ayam, kerupuk,  dan telur), kami duduk di depan taman, lalu makan. Enak sekali, ulangi: ENAK!. Pemandangan oke, makanan oke. Sebelum makan, kami disuguhi makanan pembuka oleh BB dan TB.
BB bercerita tentang gempa dan TB mendongeng asal usul Gunung Wayang.

Wayang adalah gabungan bahasa Sanskerta, Wa = angin, Hyang = dewa. Angin Dewa. Angin yang lembut dan permai, sungguh sesuai dengan semilir angin yang menerpa wajah saya saat itu. “Tapi ada pula versi lain dari asal usul gunung Wayang”, cerita TB. Dan bercelotehlah bapak beranak tiga ini tentang kisah seorang pemuda pemudi, urban legend ceritanya.  Kisahnya  persis Sangkuriang dan Dayang Sumbi.

Berikutnya menuju Tugu/makam Bosscha. Kabut mulai menyelimuti gunung Nini, gunung yang aslinya adalah bukit ini merupakan puncak tertinggi di kompleks Malabar. Kami naik bis disertai gerimis. Menuju makam Bosscha, bis dua kali berhenti untuk menurunkan peserta. Yang pertama untuk mendengarkan penjelasan dari TB dan BB tentang Gunung Bedil, Gunung Windu, dan Gunung Wayang serta tentang energi Geothermal alias energi panas bumi. Perjalanan dilanjut dan berhenti lagi areal kebun teh paling tua yang ada di kompleks. Disini pohon tehnya tinggi-tinggi, tidak kerdil seperti yang kita lihat pada umumnya. Konon pohon teh tersebut adalah pohon teh tertua di kawasan kompleks.

Makam Bosscha adalah tujuan berikutnya. Bosscha adalah pengusaha perkebunan teh di Bandung. Pak Upir, penjaga makam ini cerita banyak soal Juragan Bosscha. Diantaranya adalah betapa dermawannya jutawan Bosscha, atau ketika Bosscha jatuh dari kuda yang tumpanginya serta kemunculan Bosscha di rumahnya sendiri setiap diatas pukul 11 malam.

Cerita selesai dan kami secara beriringan naik lagi ke bis. Rumah Jerman, sebuah rumah dengan gaya arsitektur Eropa dan berada di antara hamparan kebun teh yang ada di pintu gerbang perkebunan Cukul adalah tujuan akhir dari Geotrek II. Disebut Rumah Jerman karena gaya arsitekturnya yang menyerupai rumah-rumah di Jerman sana. Jarum  jam mengarah ke angka setengah 5. sekitar pukul 5 kami berhenti di Situ Cileunca (situ = danau, sundanese). Danau buatan ini dibangun oleh Belanda. Air dari danau ini menggerakkan beberapa turbin pembangkit tenaga listrik di tiga tempat. Air inilah yang jadi konsumsi penduduk di daerah selatan.

 

Pukul 5 lebih 5, dalam mendung, kabut, dan hujan, rumah Jerman mau tidak mau sebaiknya memang harus dikunjungi. Hasilnya, luar biasa, rumah peninggalan Belanda yang luar biasa cantik ini ternyata sudah tidak ada. Ambruk. Rata dengan tanah. Konon katanya karena gempa. Tapi disinyalir rumah belanda ini sengaja diruntuhkan karena kepentingan perusahaan tertentu.

Pulang ke Bandung. Geotrek II berakhir di rumah sejarah yang sudah tidak ada lagi. Kabut tebal secara perlahan menghinggapi semua puncak kebun teh yang jadi pemandangan kami sore itu. Hujan turun lagi.

Kami pulang kembali ke Bandung dengan perasaan masing-masing. Entah senang, entah capek, entah sedih, entah campur sari semua rasa ada.  Selalu ada yang baru dalam acara jalan-jalan. Bertemu teman baru, cerita baru, dan suasana alam yang belum tersentuh teknologi dan bangunan modern.

Terima kasih untuk TB dan BB yang bikin buku Wisata Bumi Cekungan Bandung. Keren! Juga Truedee yang jadi penerbitnya. Cool!

 

 

 

Foto oleh Ayu 'kuke' Wulandari

 

Siluman Tulen di Puncak Gunung Manglayang

PDFPrintE-mail

Minggu (02/08/09) keberangkatan yang dijadwalkan pagi pukul 6 molor hingga hampir menyentuh angka 7. Peserta yang datang dikala Bandung masih gelap, Gedebage, Margahayu, bahkan Jakarta, mesti rela menunggu. Briefing pun dimulai saja sambil menanti kedatangan beberapa peserta yang lain. Setelah perkenalan peserta, jalur, dan sedikit bahasan mengenai Gunung Manglayang, total 25 orang siap berangkat. Truk militer sewaan mengangkut dan membawa kami menuju Wana Wisata Batu Kuda di Ujung Berung. Melalui lokasi wisata inilah kami akan memulai petualangan menaklukan tanjakan Manglayang yang tidak ada habisnya.

Masuk melalui kawasan bernama Ciguruwik, truk meluncur mulus di jalanan yang hanya muat untuk satu kendaraan saja. Sisi kanan dan kiri adalah kompleks perumahan dan masyarakat yang lalu lalang menikmati hari minggu. Gunung Malangyang yang dari jauh terlihat biru kini mulai menghijau. Kami sudah dekat dengannya. Truk melaju menaiki jalan yang mulai menanjak. Mendekati lokasi wisata, truk sempat valid (naon valid? kata orang Sunda mah Palid) karena pak Toleh, sopir truk, lupa memindahkan gigi. Di tanjakan yang memanjang curam itu truk mundur mendadak. Beberapa peserta perempuan teriak ketakutan. Dengan sigap pak Toleh menginjak rem dan memundurkan truk secara perlahan. Begitu sampai di titik yang dia anggap cocok untuk restart mesin, dia berhenti dan mulai bergerak dengan gigi kendaraan yang sesuai. Brummm....truk maju. Pelan-pelan. This is the real rollercoaster...pengalaman pertama, jantung hampir copot di atas truk yang kami tumpangi.

Pohon pinus, udara sejuk, dan loket masuk. Artinya, kami sudah ada di dalam lokasi Batu Kuda. Semua peserta turun dari mesin cadas itu. Sebelum naik gunung, beberapa peserta menuntaskan bisnisnya di toilet yang tersedia. Setelah itu pemanasan. Kang Asep, salah satu peserta yang rumahnya di Ujung Berung mengatakan pemanasan ini sangat perlu mengingat jalur mendaki yang tidak biasa. Usai lk. 15 menit peregangan otot-otot di tubuh, kami siap maju tempur! Manglayang, kami datang!

27 orang, tambahan 2 orang peserta yang sudah menunggu di lokasi, terpencar-pencar jalannya. Yang jalannya cepat, dia lah yang berada di paling depan. Yang terseok-seok dan keasikan memotret, dia lah yang paling belakang. Saya berada diantaranya, dan di setengah perjalanan saya termasuk geng paling bontot, bersama-sama dengan Frisda, Dimas, Yanstri, pak Bachtiar, pasutri Ichsan dan Medina, Hamda, dan Deni.

Tanjakan demi tanjakan kami lalui. Tanjakan botak sampai tanjakan rimbun dan tanjakan batu. Pak Bachtiar berpesan, bila istirahat sejenak dari perjalanan saat mendaki gunung, jangan tunggu sampai keringat kita mengering. Hal ini dapat membuat badan kita jadi 'malas' dan justru bikin lebih cepat capek. Buat lah kondisi dimana tubuh kita adaptif dengan kontur pijakan yang naik turun (kebanyakan naik). Yang penting jalan terus, istirahat yang banyak dan pendek-pendek, dan jangan lupa persedian minum & cemilan penambah tenaga.

Pemandangan juga bisa menjadi pemicu untuk para peserta, terutama saya sendiri. Wana wisata Batu Kuda saja sudah berada di ketinggian 1.150 dpl. Jadi setelah 1.5 jam mendaki saya rasa saya sedang berada di ketinggian... 1.400 dpl. Mungkin begitu :D Pemandangan Bandung sangat terlihat jelas. Warna Bandung didominasi warna oranye, kebanyakan genting rumah. Padat menempel satu sama lain. Jalan nanjak lagi dan bertemu lagi sedikit lahan terbuka. Tempat kami bisa mengistirahatkan betis, paha, dan jantung. Tentunya, sambil foto-foto dan melihat pemandangan dong.

Sebagian besar peserta sudah sampai di puncak Manglayang. Sementara itu kami yang berada di barisan terakhir masih berjuang mencapai puncak. Semakin ke atas vegetasi hutan semakin lebat semakin merapat. Buah-buah kecil bulat warna-warni bermunculan. Seorang peserta bernama Yanstri sangat menyukainya. Akar-akar pohon dengan mantapnya berlagak tunggang. Siap dijadikan pegangan dan pijakan yang kokoh. Manglayang memang tidak biasa. Selain tanjakannya yang edun luar biasa nanjak untuk ukuran pemula, banyak akar-akar pohon yang berseliweran. Bukan akar sekedar akar, yang ini akarnya mantap-mantap! Akar yang ini, persis otot-otot binaragawan. Besar.

Manglayang, menurut pak Bachtiar, berasal dari kata "Layang". Seiring berjalannya waktu, terjadilah secara alami penambahan kata "ma" dan sekarang menjadi Manglayang. Beberapa batu besar kami lewati. Pak Bachtiar bercerita mengenai batu tersebut. Menurutnya batu-batu tersebut berasal dari debu-debu gunung yang meletus. Mereka menumpuk dan akibat digantung-gantung oleh ratusan, ribuan tahun, mereka memadat, mengeras. Beberapa batu lainnya adalah lemparan dari dalam gunung.

Pukul 11 hampir pukul 12, kami tiba di puncak. Napas tersengal-sengal dan senyum lelah campur gembira karena akhirnya sampai juga di puncak. Puncak Manglayang adalah pelataran yang cukup luas dan rimbun pepohonan menutupi pemandangan alam sekitarnya. Terdapat makam yang entah perpenghuni atau tidak. Makam tersebut dijadikan objek sesajen. Ada puntung rokok, ada bunga-bunga, ada makanan, buah kelapa, dll. Seorang teman menelanjangi puntung rokok, menyobek kulitnya dan membaca merknya. Dia tertawa, "Merk rokoknya Siluman tulen!", kami tertawa. Rokok yang ada-ada saja ya. Ya, unsur mistis ini adalah sisi positifnya adalah kerimbunan yang terjaga. Bagian lain di Gunung tersebut bisa jadi dibabat, habis ditebang. Tapi, dimana ada makam, dimana ada sesajen, hampir tidak ada yang berani macam-macam dengan popepohonan disekitarnya.

Adalah pemandangan yang lumrah bila kita melihat makam di puncak bukit atau gunung. Kami sejenak melepas lelah. Pak Bachtiar adalah kakek-kakek tanpa lelah. Dia menjelaskan proses terbentuknya Gn. Manglayang. Menurutnya, jalan yang tadi kami susuri adalah anak dari gunung Manglayang. Dan puncak tempat terakhir dan paling tinggi yang kami pijaki adalah ibunya Manglayang. Jadi bayangkan, kami belum menjajaki mbahnya Gunung Manglayang! Puncak tersebut hanya satu dari beberapa puncak yang lebih tinggi lainnya. Wuiwww....

Kegiatan berikutnya adalah makan siang! Beberapa peserta yang tidak membawa bekal makanan kecipratan makanan dari peserta lain yang bawa. Berbagi, itu yang penting. Pengalaman nomor sekian, setelah deg-degan di atas truk, menempuh jarak dan tanjakan, menonton pemandangan, maka berbagi makanan adalah satu dari sekian pengalaman asyik. Makan selesai, berikutnya adalah ngobrol-ngobrol santai. Udara gunung mulai menusuk-nusuk tulang. Dingin. Waktunya pulang, tapi eitt!, foto keluarga duluuu.

Pukul 2 siang, Manglayang kami turuni. Lagi-lagi saya bersama gerombolan siberat. Berada di paling belakang. Selisih waktu antara kami dengan peserta terdepan ternyata sangat jauh. Wow...entah bagaimana cara mereka turun. Mungkin terbang. hehehe. Perjalanan turun tidak lah semudah yang dibayangkan. Seperempat jalan pertama, lutut mulai menegang. Berikutnya otot lutut gemetaran, dan terakhir menular ke ujung-ujung jari kaki, kesakitan. Manglayang riskan dengan jurang. Meski tidak murni jurang, tapi kalau oleng ke kanan atau ke kiri atau kedua-duanya, ya wasalam. Mungkin menyangkut di batang pepohonan atau terjun bebas ke lembahnya. Hiii....ekstra hati-hati, nih. Di tanjakan botak (artinya gak ada rumput, yang ada tanah lempung yang licin), sebaiknya turun duduk. Anggap seperti sedang di perosotan. Atau ya, turun pelan-pelan saja.

Pukul 15.30 kami masih belum sampai di kaki gunung. Matahari sore muncul. Kami sudah dekat dengan temen-temen yang lain, tinggal menuruni satu bukit lagi. Tapi nanti dulu, ada matahari sore, bukit, rerumputan, dan pemandangan kota Bandung. Paket yang menawan dan sayang dilewatkan.

Kami duduk di punggung bukit, melepas lelah dan memerdekakan pandangan. Kami membicarakan banyak hal. Mulai dari bukit manusia purba, kemampuan melihat perbedaan genetis seseorang, dan trek jalan-jalan berikutnya. Berat rasanya beranjak dari tempat kami duduk-duduk mesra. Ya berat di tubuh, ya berat di hati :P Namun yang lain menunggu...

Turun gunung, kami disuguhi es buah. Wah asyik! Apalagi kalau ada baso. Sayang gak ada :D Setelah beberes barang bawaaan dan sholat, kami semua pulang kembali ke tempat pertama kami berangkat, Taman Ganesha. Sampai jumpa lagi, kawan-kawan. Selamat menikmati sakit otot di esok hari. 27 orang di keesokan harinya, kesakitan di sekujur paha. hahahaha seru nih :D





Foto oleh M Ichsan Harja Nugraha

   

Jalan-jalan Menghirup Aroma Teh Pangalengan

PDFPrintE-mail

Kali ini jalan-jalan Mahanagari (27/06/09) arahnya ke selatan Bandung, ke sebuah kabupaten bernama Pangalengan. Tur kali ini bertemakan Teh Pangalengan karena selama perjalanan akan mengunjungi beberapa tempat yang menyangkut teh. Tapi sebenarnya ada kegiatan yang tidak berhubungan dengan teh juga. Jadwal jalan-jalan hari ini ada lima tempat. Pertama ke PLTA Lamajan, lalu ke Perkebunan Teh Malabar, lanjut ke makam dan rumah Bosscha, terus ke pabrik teh, dan diakhiri dengan berendam air panas di hot spring Cibolang.

Perjalanan kami dimulai dari meeting point yaitu di taman Ganesha. Setelah absen, kenalan, dan mengumpulkan peserta (yang berjumlah 26 orang), brummm…kita berangkaatt! Awal perjalanan masih belum 'panas', pemandangan masih berupa jalan tol. Semua orang masih ngantuk nampaknya, jadi pada tiduuurr…grok…

Mulai seru waktu kami sampai di daerah selatan, waktu pipa kuning besar mulai kelihatan. Tour guide kita, Teh Linda mulai cerita tentang si pipa kuning ini. Jadi, pipa kuning yang melintang di bukit itu adalah pipa yang mengalirkan air dari PLTA Lamajan. PLTA Lamajan dan Pipa ini dibuat oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1825 untuk mengalirkan air dari PLTA dan menggerakkan turbin yang menghasilkan listrik. Sampai sekarang, PLTA Lamajan dan si pipa kuning ini masih dipakai untuk menyediakan listrik untuk wilayah Jawa dan Bali. Kondisinya masih 95% oke, hebat yah!

Yang sudah pernah lihat, pasti tahu kalo pipa kuning ini panjaaanggg dan ada di bukit. Nah, cara pegawai melakukan maintenance dari kantor adalah dengan naik Lori ke bawah si pipa. Untuk mencek si pipa ya jalan naik tangga, yang jumlahnya 1200 anak tangga. Wooo….kebayang jaman dulu, udah mah naik tangga segitu banyak, ngecek pipa segitu gede, ga ada teh botol dingin pula kan buat nyenengin tenggorokan. Orang jaman dulu emang hebat-hebat…
Lori itu apa sih? Lori itu kereta kecil, seperti delman. Bedanya tidak menggunakan tenaga kuda melainkan menggunakan rel dan mesin. Sedangkan jalurnya si lori ini adalah 45 derajat kebawah sekitar 500 meter. Rencananya sih, tour kali ini nyobain si lori ini, tapi begitu sampai sana, ternyata Lorinya rusak dan tidak ada teknisi. Rencana mencoba lori harus diikhlaskan ga jadi. Lain kali ya, soalnya keliatannya seru deh…Untung semua anggota tour pada suka foto-foto…(semua pada bawa kamera canggih!) jadi kegiatannya diganti jadi foto-foto.

Puas foto-foto, kami lanjut ke Perkebunan Teh Malabar. Perkebunan Teh Malabar ini dulunya adalah perkebunan milik Bosscha (iya, Bosscha yang terkenal itu!). Disini kita turun dari bis, jalan di kebun tehnya. Waa….seger banget deh, dan pas banget hari itu lagi cerah, langitnya biru, jadi bisa foto-foto lagi deh. Sambil ngeliatin hamparan kebun teh yang luaaaaasssss sambil ada selingan pohon merahnya. Katanya pohon ini dimanfaatkan sebagai penanda. Pohon ini berada diantara hijau pendek. Setelah 10 menit jalan kaki, kami sampai di makamnya Bosscha. Nah area makamnya Bosscha ini beda sama kebun teh. Jadi sekitarnya penuh sama pohon-pohon besar dan rindang, tanaman bunga, dan semak-semak teduh. Jadi adeemmm banget begitu masuk area ini. Makam Bosscha ada di ujung area ini, di dalam taman kecil.
Makam Bosscha dipayungi bangunan kecil mirip gazebonya orang bule (pake tangga, pilar semen, warna putih, atepnya bundar). Kalau diperhatikan, ternyata atapnya berbentuk topi, topi yang selalu Bosscha pakai semasa hidupnya. Disini kami ngobrol sama kuncennya. Dia cerita banyak soal Bosscha. Katanya Bosscha memang menyiapkan tempat ini untuk jadi makamnya. Taman ini malah sering dijadikan Bosscha untuk santai sore setelah seharian kerja di kebun teh, kursi-kursinya masih ada sampai sekarang. Dia cerita kalau Bosscha juga penyayang binatang. Dia selalu menyiapkan makanan buat binatang-binatang yang mampir di kebun tehnya. Menurut pak Kuncen, harimau pun kalau ada dikasih makan oleh Bosscha. Tapi binatang-binatang ini tidak dikandangkan atau untuk dipelihara. Hanya dikasih makan tiap hari.

Kami bertanya soal keturunannya Bosscha. Ada nggak sih? Kalau ada dimana sekarang? Nah kata si bapak, Bosscha punya 3 anak. Salah satunya adalah anak perempuan. Anak perempuannya ini terkenal dengan panggilan noni Bosscha. Sekarang tinggal di Jakarta atau Sukabumi (lupa lupa ingat). Setiap tanggal tertentu, mereka datang untuk ziarah ke makam Bosscha.

Kata si bapak juga, Bosscha dulu sangat dicintai masyarakat juga. Waktu beliau meninggal, ribuan orang datang melayat. Dan Bosscha dikuburkan oleh masyarakat ini, masing-masing menabur segenggam pasir ke liangnya. Sepertinya Bosscha memang orang yang sangat disayang, hal ini nampak dari pak Kuncen yang tidak pernah ketemu Bosscha langsung, cuma denger dari ayahnya. Denger dari ayahnya saja bisa terlihat sangat hormat sama Bosscha. Dari penggambaran dia tentang Bosscha, dari cerita dia tentang perkebunan teh ini, dan dari kebanggan dia jadi penjaga makam Bosscha. Setelah puas ngobrol sama si bapak, kami lanjut jalan kaki ke rumah Bosscha. Banyak yang tidak tahu kalau sebenarnya rumah Bosscha ada di selatan, bukannya Lembang. Termasuk saya, hehe.
Kami melewati lagi hamparan kebun teh. Bener-bener gede deh. Sampe-sampe saya jalan sambil kepikiran, apa rasanya ya punya legacy sebesar ini? Ditambah ITB dan observatorium. Wooww…. Saya harus ngapain aja nih biar punya legacy segini juga? Hoho biasa deh mimpi di siang bolong. Dan sempet ngebayangin kebun yang lagi dilewatin tapi di jaman dulu, penuh sama nyai-nyai metikin daun teh, pake baju jadul, terus mandor-mandor keliling pake kuda, terus ada Bosscha lagi keliling naik kuda sama beberapa orang (anggep aja penasihat keuangan sama penasihat perkebunan). Fiuuhh pasti makan waktu deh mesti keliling naik kuda.

Sebelum sampai rumah Bosscha kami sempet berhenti di satu bangunan. Bangunan ini adalah bangunan sekolah. Sekolah ini didirikan oleh Bosscha, letaknya ada di tengah-tengah hamparan kebun teh. Jamin, pasti ngantuukkk terus kalo saya sekolah disini, hehehe. Awalnya ada tiga bangunan, tapi sekarang tinggal 1. Itupun tinggal puing. Pemerintah bikin lagi bangunan baru disampingnya.

Area rumah Bosscha mirip-mirip sama area makamnya, dikelilingi banyak pohon rindang dan tanaman bunga. Di area rumahnya ada rumah, lapangan di kanan dan kiri, dan taman-taman. Di samping lapangan kanan ada bangunan penginapan. Jadi sekarang, yang pengen coba liburan di rumah Bosscha bisa sewa kamar-kamar ini. Di samping lapangan kiri ada selasar. Dulu dipakai kalau ada jamuan, atau pesta outdoor. Sekarang kami pakai untuk makan siang. Pesta outdoor juga hihi. Begitu sampai semua langsung makan. Lapaaarr!! Menunya ikan goreng, perkedel jagung, ayam goreng, dan sayur asem. Disini katanya terkenal sayur asamnya, dan wowww…sayur asemnya enak banget loohhh…ya ampun deh, jadi pengen lagi. Seger banget…! Semua langsung anteeng…pada khusyuk makan.

Begitu makannya selesai, kami semua pindah ke rumah Bosscha. Ngacak-ngacak! Hehe. Ruangan paling depan seperti biasa, ruang tamu. Ada piano yang masih bisa dimainin, tapi tutupnya bunyi ngek-ngok-ngek-ngok kalo digerakin. Habis ruang tamu ada ruang keluarga…ada perapian dan barnya. Dan ada pintu keluar, ke lapangan sebelah kanan. Setelah ruang keluarga ada ruang makan yang nyambung ke dapur, dan lorong ke kamar-kamar. Lorongnya ada dua…tapi satu dikunci. Yang satu lagi ngelewatin satu kamar dulu, lorong panjang yang isinya lemari yang nempel dinding, baru deh kamarnya Bosscha. Kamarnya ga gede-gede amat ternyata. Atau mungkin sinetron jaman sekarang aja ya yang kamarnya berlebihan, jadinya merusak standar orang? Kamarnya bersih dan kaya masih baru.

Kayanya sering dibenerin deh. Soalnya penjaga rumahnya bilang masih asli, tapi berarti udah 100 tahun lebih dong? Nah di dapur ini nemu benda unik! Ceritanya dispenser jaman dulu. Katanya asli punya Bosscha juga! Bahannya dari keramik dan beraaattt, digeser pun tak bisaaa…padahal pengen dibawa pulang. Di ujung dapur ada tangga kebawah, basement, yang dikunci juga. Waktu ditanya, disitu ada ruangan, yang isinya mainan meja moyangnya bilyard. Katanya sebenernya dibawah rumah masih ada satu lantai lagi, tapi sekarang tinggal setengahnya…dulu dijadiin kantor sama tempat main sama Bosscha. Kenapa sekarang tinggal setengah juga tidak tahu alasannya…penjaganya pun tak tahu.

Puas foto-foto dari bebagai pose dan sudut di rumah Bosscha, kita berangkat ke tujuan berikutnya! Yaitu pabrik Teh Malabar. Di Pabrik ini kita dikasih lihat proses pembuatan teh dari masih daun hijau, digiling sampe haluuuuussss, di fermentasi, sampai jadi teh. Baru tau kalo bedanya teh hijau sama teh biasa itu ada di proses fermentasinya. Teh hijau tidak difermentasi, teh hitam difermentasi. Kirain teh hijau special tumbuh di Jepang…eheuu…jadi malu…Dan teh hitam sendiri ada macem-macem jenisnya. Tergantung kasar dan halusnya. Hasil teh dari pabrik ini adalah teh bahan baku. Untuk nantinya dijual ke produsen teh seperti Pickwick, Walini, untuk diolah lagi baru dijual ke pasar. Setelah muter-muter pabrik, kita disuguhin teh hitam. Saya kurang ini teh tersebut dari jenis yang mana, tapi enaakkk segeerr. Bikinnya gampang, daun teh disimpan di saringan, lalu disiram dengan air panas. Tadaaa! Dan minumnya ga boleh pake gula karena merusak tekstur si teh...hmmm…mungkin kita dikasih teh yang mahalan ya?

Beres jalan-jalan di pabrik Teh, kita lanjut lagi ke tujuan terakhir, yaitu pemandian air panas Cibolang! Pemandian air panas ini beda dengan Ciater. Kalau Ciater dari belerang, Cibolang asalnya dari panas bumi. Selain jadi pemandian, panas bumi ini juga dijadikan pembangkit listrik. Tapi karena jumlahnya nggak besar, jadi hanya cukup memenuhi kebutuhan wilayah sendiri aja. Kompleks Pemandian Cibolang ini tempatnya outdoor. Bener-bener outdoor. Jadi di samping kolam langsung padang rumput terus hutan. Enak banget buat santai-santai…buat orang kota bagus nih, mengurangi stress perkotaan, hehe. Di pemandian ini kita main sejam. Haha-hihi ciprat sana sini, balapan, dan foto-foto lagii…tentunya. Begitu selesai langsung pada relax…ga cape lagi…siap untuk pulang!

Di perjalanan pulang kita quiz sebentar, sambil ngerecap perjalanan seharian. Dan waktu di kota Pangalengannya berhenti sebentar untuk beli oleh-oleh. Oleh-oleh khas Pangalengan ada permen susu, kerupuk susu (yang rasanya tetep kaya kerupuk, dan enak loh!), dan dodol. Setelah itu kita langsung menuju Bandung. Dan semua tidur…hehe, abis enaknya abis berendam air panas ya tidur. Sampai lagi di Taman Ganesha, dan perjalanan hari ini selesai…sampai ketemu lagi di jalan-jalan Mahanagari berikutnya!
Foto oleh oleh Zahra Fatimatuz
 

Jelajah Sisi Liar Gunung Tangkuban Parahu

PDFPrintE-mail

Pagi itu udara di sekitar Terminal Ledeng terasa cukup dingin. Sinar matahari belum menyengat. Hanya lalu lalang angkot yang sedikit menambah hawa panas. Aku, bersama dua orang sahabatku, Adis dan Kime, masih menikmati pisang gorang yang diberikan oleh Ulu. Asapnya saja masih mengepul, pasti terbayang kan lezatnya. Sambil sesekali bercanda, kami berempat menunggu datangnya angkot krem dengan label Stasiun-Lembang yang siap mengantarkan kami untuk bertualang.

Ya, hari itu kami berencana untuk mengunjungi salah satu objek wisata paling terkenal di Jawa Barat, Gunung Tangkuban Perahu. Agar lebih menarik, kami sengaja memilih rute yang tidak biasa. Hanya satu modal kami saat itu, NEKAT!! Tanpa pernah tahu medan seperti apa yang akan kami temui. Bahkan untuk Kime, ini adalah perjalanan pertamanya ke Gunung Tangkuban Parahu. Pantas saja dia menggunakan sepatu teplek dengan tas jinjing di tangannya. Ulu malah sempat nyeletuk, “kayak mau ke mall, Ki..”, yang diiringi gelak tawa dari kami semua.


Aku sendiri belum pernah melewati rute ini. Satu-satunya informasi yang aku tahu, rute ini mengacu pada sebuah jalur yang dipaparkan Pak Budi Brahmantyo dan Pak T. Bachtiar dalam bukunya yang berjudul  Wisata Bumi Cekungan Bandung. Dalam buku itu, dijelaskan bahwa untuk mencapai Gunung Tangkuban Parahu kita bisa menjelajahi Hutan Jayagiri hingga tiba di puncak Gunung Tangkuban Parahu. Selanjutnya perjalanan diteruskan dengan menuruni lereng hingga ke Kawah Domas, menembus semak belukar, menapaki hamparan perkebunan teh, sampai akhirnya tiba di Ciater. Wow tampaknya seru, dan percayalah, apa yang kami temui ternyata jauh lebih menyenangkan dari yang kami bayangkan sebelumnya.

Oiya, Tangkuban Parahu adalah bahasa sunda untuk perahu yang terbalik. Bentuk Gn. Tangkuban Parahu memang seperti sebuah perahu yang terbalik atau menelengkup. Hal ini berkaitan dengan dongeng Sangkuriang dan Dayang Sumbi.

***
Waktu masih menunjukkan pukul 07.00 pagi. Tak lama berselang angkot yang kami tunggu menjelang. Segeralah kami menaiki angkot itu. Jangan bayangkan suasana yang penuh sesak. Entah kebetulan atau tidak, angkot yang kami naiki cukup lowong. Isinya hanya kami berempat dan tiga orang penumpang lainnya. Suasana yang nyaman tadi membuat kami asyik bercengkrama selama perjalanan. Jadilah waktu 45 menit seperti tak terasa. Tiba-tiba saja kami sudah berada di Lembang, dan berhenti tepat di sebuah pertigaan dengan sebuah plang bertuliskan “Makam Junghun”.

Di hadapan kami, terbentang jalan lurus sepanjang 2 km dengan sedikit mendaki menuju pintu masuk Hutan Jayagiri. Tetapi sebelum kesana, kami menyempatkan diri untuk mampir ke Makam Junghun seperti yang kami lihat di plang tadi. Lalu siapakah Junghun? Beliau adalah seorang ahli kina yang sangat terkenal pada saat bumi parahyangan ini masih berupa hamparan perkebunan. Percaya atau tidak, dulu negeri tempat kita berpijak ini adalah pengekspor kina terbaik di seluruh dunia. Ironisnya, ketika melihat Makam Junghun, tidak terlihat tanda-tanda kemasyhurannya. Area pemakaman itu tampak tidak terawat. Padahal, jasa yang diberikan Junghun tak ubahnya seperti Boscha dengan sumbangsihnya pada perkebunan teh di Indonesia. Jadi, bagi yang sudah pernah mengunjungi Makam Boscha di Perkebunan Teh Malabar, Pangalengan, pasti akan merasa miris dan sedikit mengelus dada melihat pemandangan di depan mata.

Area pemakaman itu dipagari dengan sebuah gerbang yang terkunci. Untung saja ada celah tembok dan sebilah kayu yang seolah menjadi tangga untuk kami memasuki makam tersebut. Di sekeliling makam, tampak deretan pohon kina. Menurut pengurus makam ini, kina yang ditanam di Lembang adalah kina hasil hibrida antara bibit kina dari luar negeri dengan bibit lokal. Hal ini terkait perbedaan karakteristik dari kedua jenis kina tersebut, yakni kina dari luar negeri memiliki batang yang tinggi tetapi getahnya sedikit, sebaliknya kina lokal memiliki batang yang rendah tetapi getahnya banyak. Alhasil hibrida yang dihasilkan dari kedua jenis ini memiliki batang yang tinggi dan getah yang banyak. Itulah kenapa kina tersebut memiliki kualitas yang sangat baik. Oya soal pemilihan lokasi di Lembang, konon menurut Junghun tanah di Lembang adalah tanah yang paling cocok untuk perkebunan kina. Satu hal lagi yang menarik, dari sana kita bisa melihat pemandangan Obsevatorium Boscha yang berdiri anggun di atas bukit. Cantik sekali. Hmm, itu salah satu scene terbaik yang saya lihat dalam perjalanan ini.

Cahaya matahari sudah mulai terik. Tapi perjalanan kami yang sebenarnya baru saja dimulai. Dengan langkah mantap kami memasuki gerbang Hutan Jayagiri sambil memandangi indahnya patahan Lembang yang membentuk gawir-gawir alam. Jalur ini dibuka dengan trek yang cukup menanjak. Apalagi saat itu masih musim hujan, jadilah tanah setapak itu menjadi licin dan berair. Kime, tentu saja yang paling kerepotan. Dengan nafas tersengal dia terus berusaha mendaki, sementara kami bertiga malah asyik berfoto-foto. Hutan Jayagiri memang indah, khas dengan deretan pinus yang membuat kami seolah tenggelam dalam rerimbunan. Tapi hutan ini tidak lebat, sinar matahari bisa dengan bebas menelesup celah-celah ranting dan dedaunan. Sungguh pemandangan yang menarik, dibarengi dengan udara yang sejuk dan kicau burung yang sesekali menyeruak.

Perjalanan kami lanjutkan dengan menyusuri jalan setapak, yang seolah telah terbentuk dari jejak-jejak para petualang yang telah melewati jalur ini sebelumnya. Untuk kami yang baru pertama kali mengunjungi Jayagiri, tentunya ini sangat membantu. Tak terasa 2 jam sudah berlalu, dan kami masih terus mengikuti kelok jalan setapak itu, hingga kami tersadar bahwa kami sepertinya menempuh arah yang salah. Tanpa kompas dan peta, atau petunjuk lainnya, kami memang tak tahu dimana koordinat kami sekarang dan kemana seharusnya kami melangkah. Tadi memang ada persimpangan, satunya jalan menanjak, yang lan jalan menuju  sungai. Kami pilih jalan menuju sungai. Tetapi itu malah mengantarkan kami ke sebuah padang yang enatahlah apa namanya. Tapi kami sadar itu bukan arah yang dituju. Kami mulai bingung.

Akhirnya kami kembali ke persimpangan tadi, dan mencoba arah lainnya. Tetapi sepertinya ini bukan trek jalan setapak. Ini adalah jalur air dari puncak bukit. Sangat terjal dan licin. Beberapa kali kami saling berpegangan agar bisa sampai ke atas, dan setibanya di sana kami masih belum tahu haru kemana. Lelah, tiba-tiba menyeruak di sekujur tubuh kami, hingga kami putuskan beristirahat sejenak. Parah sekali, kami tidak membawa bekal apa-apa kecuali sebotol air minum yang kubawa dan sewadah mi goreng yang Ulu bawa. Tanpa ragu, hidangan itu akhirnya menjadi milik bersama dan habis dalam sekejap. Kami mendapat energi baru, sambil terus berpikir ke mana sebaiknya kami teruskan arah perjalanan. Tiba-tiba kami melihat serombongan orang sedang berjalan dari jarak yang tak cukup jauh. Segera saja kami kejar. Kami tanya arah yang benar, dan mereka bilang ini memang jalur meuju Tangkuban Perahu. Mereka bahkan menunjukkan sebuah menara telekomunikasi, yang hanya tampak sebesar telunjuk, dan mengatakan bahwa itulah puncak Tangkuban Perahu. Fiuuhh, kami lega.

Setidaknya kami kembali ke jalur yang benar. Perjalanan pun dilanjutkan.

Jalur kami lewati kali ini tampaknya adalah sebuah trek mobil offroad yang penuh dengan genangan air hingga menyerupai sungai kecil. Adis malah sempat bergaya seolah-olah sedang menaiki sampan sambil berdiri di gundukan tanah yang memanjang. Ada-ada saja memang, tapi kami memang benar-benar menikmati setiap kejutan dalam perjalanan ini. Tak lama kemudian, kami pun tiba di suatu areal yang mirip hutan, namun tidak pohon-pohonnya tidak terlalu tinggi. Rupanya lokasi itu adalah jalur trek motorcross yang biasa diliwati para crosser melintasi Hutan Jayagiri. Disana kami juga berpapasan dengan serombongan orang dari sebuah kompleks perumahan di Bandung, yang sedang berwisata ke Gunung Tangkuban Parahu. Menariknya, kostum yang mereka kenakan begitu santai, beda sekali dengan kami yang baru saja nyasar. Kalau wajah kami penuh peluh keringat, kucel, dan kelaparan, mereka tampak segar dan bersih. Bahkan ada seorang wanita yang membawa anjing pudelnya, dengan topi lebar dan kaca muka yang begitu besar. Ckckck..kami seperti bukan sedang di hutan..

Lantas untuk beberapa saat kami berjalan bersama rombongan itu. Namun, sikap mereka yang berisik membuat kami jengah. Tiba-tiba saja kami memutuskan untuk berpisah dan menyelinap masuk ke dalam rimbun hutan, setelah sebelumnya bertemu dengan orang lokal disana yang baru saja pulang dari Tangkuban Perahu melalui jalur hutan. Eh..rombongan itu rupanya malah mengikuti kami. Dasar. Kami jadi terdorong bergerak secepat mungkin agar tak terkejar. Melewati jalur bebatuan, melompati batang pohon melintang, sampai menyeberangi alur sungai kecil, hingga akhirnya menemukan jalan aspal. Ya, akhirnya setelah 4 jam berjalan tanpa tahu arah, kami tiba di tempat parkir Gunung Tangkuban Parahu. Peluh, lelah, dan letih yang tadi menusuk, sekarang jadi tak terasa lagi. Dengan senyum mengembang dan wajah memerah, kami pun tak sabar menaiki kendaraan ontang-anting yang mengantarkan kami ke puncak Gunung Tangkuban Parahu.

Melihat kawah Gunung Tangkuban Parahu memang tak pernah membuatku bosan. Apalagi sangat jarang ada kawah gunung api aktif yang bisa dilihat sedekat ini. Harum belerangnya membawa nuansa eksotis suasana pegunungan. Saat menikmati pemandangan Kawah Ratu, kami serasa melihat mangkuk raksasa yang sangat besar dan dalam.  Cuaca juga cukup cerah sehingga lekukan tanah pada dinding kawah terlihat sangat jelas. Benar-benar pemandangan yang mengagumkan. Tapi sayang, begitu menyusuri bibir Kawah Ratu, indahnya panorama ini sedikit terganggu dengan padatnya tenda-tenda para penjual cinderamata. Kawasan wisata ini jadi seperti tak tertata. Dan yang paling menyebalkan, banyak pedagang menawarkan barang dagangannya dengan cara memaksa. Fasilitas umumnya pun minim sekali. Ah, pantas saja beberapa waktu lalu, kawasan wisata ini dicoret dari daftar tujuan wisatawan asing. Sayang sekali bukan..

Gunung Tangkuban Parahu merupakan salah satu gunung berapi yang masih aktif di Pulau Jawa. Konon,  gunung ini pernah meletus beberapa kali, mengeluarkan isi perutnya sehingga menghasilkan sembilan kawah yang tersebar di berbagai tempat di sekitar puncak gunung. Salah satunya Kawah Domas, dan itu menjadi tujuan kami berikutnya. Setelah puas menikmati ketan bakar di puncak gunung, tanpa berlama-lama kami pun meneruskan perjalanan menuruni lereng Gunung Tangkuban Parahu dengan trek menurun sepanjang 1,2 km. Sambil melewati undakan tanah menyerupai anak tangga dengan pembatas kayu hutan, kami begitu menikmati indahnya pepohonan di sepanjang jalur ini.  Pastinya kesempatan untuk berfoto dan mengabadikan momen-momen seru tidak kami tak sedikit pun kami lewatkan.

{mosimage}Tak sampai satu jam, aroma belerang dari Kawah Domas telah menyambut kedatangan kami. Tampak bebatuan belerang berserakan dimana-mana. Disana juga terdapat beberapa kolam kecil dari sumber air panas alami, tapi bukan untuk berenang. Airnya panas sekali, bahkan sampai mendidih. Yang menarik, pengunjung bisa merebus telur di kolam itu. Tinggal tunggu beberapa menit saja, telur rebus siap dinikmati. Kita juga tak perlu repot-repot membawa telur, karena disana banyak pedagang yang menjual telur, meski dengan harga yang berlipat-lipat. Di kolam lainnya, dengan air yang tidak terlalu panas, kita bisa merendam kaki sambil berisitirahat sejenak. Kabarnya air belerang memang berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit kulit sekaligus memberi efek terapi pada tubuh. Jadi, setelah pegal berjalan, kaki kami kini serasa dipijat. Rasanya enak sekali.

Setelah puas berelaksasi, perjalanan dilanjutkan menuju ke bawah untuk menyusuri aliran sungai kecil dan mencari jalan setapak ke arah Ciater. Kali ini kami kembali ke hutan. Tapi bukan deretan hutan pinus seperti di Jayagiri. Hutan ini lebih tepat disebut semak belukar. Agak susah memang untuk menemukan jalan ini karena jarang dilalui oleh pendaki. Awalnya kami sempat khawatir akan tersesat lagi. Apalagi sepanjang jalan kami menemui banyak ilalang-ilalang tinggi yang menutupi jalan. Satu-satunya petunjuk kami adalah arah panah yang ditinggalkan oleh pendaki sebelumnya. Kami pun patuh mengikuti rute ini, sambil terus mengikuti jalan setapak hingga tiba petualangan ini mengantarkan kami ke perkebunan teh Ciater.

Sesaat kami tak percaya, kalau kami sudah sampai perkebunan teh. Setelah tadi deratan hutan pinus, aroma belerang, semak belukar, kali ini yang ada di hadapan kami adalah rimbunnya daun teh. Hijau dan sangat menyejukkan mata. Saking senangnya, kami bahkan sempat tidur-tiduran di atas rimbunnya pohon teh. Selanjutnya, inilah saatnya tea walk. Ajaib, itu yang kami rasakan ketika menyusuri celah-celah jalan di kerapatan kebun teh. Tanpa tahu jalur ini menuju ke mana, kami begitu santai menyusuri setiap jengkal alur bukit teh ini, sambil bergerak menuju tujuan akhir kami yaitu: menemukan (lagi) jalan aspal. Setelah lebih dari 1 jam melenggang di bukit hijau, kami pun sampai di Jalan Raya Ciater, Subang.

Tak terasa ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Jadi, sudah sekitar 10 jam kami berpetualang, dan sekarang saatnya pulang. Tapi naik apa ya? Tidak ada kendaraan umum yang bisa mengangkut kami langsung ke Bandung dari sini. “Gimana klo kita nebeng mobil kol sayur aja?!”, sahut Ulu tiba-tiba. Ide cemerlang. Ah, kenapa tidak terpikirkan ya. Lantas dengan gaya ala backpacker yang kekehabisan ongkos, kami pun mejeng di pinggir jalan sambil mengacung-acungkan jempol, pertanda minta tumpangan pada kendaraan yang lewat. Benar saja, tak berapa lama, sebuah kol sayur hitam lantas berhenti. Setalah mengutarakan maksud kami untuk menumpang, pak supir yang baik hati itu mempersilahkan kami untuk naik. Terima kasih pak, dan inilah akhir dari perjalanan kami.

***
Entah sudah berapa kilometer jarak yang kami tempuh hingga sejauh ini. Tapi kami tak peduli. Pulang dengan menaiki mobil kol sayur ala film Petualangan Sherina adalah ending yang sempurna untuk perjalanan ini. Terus terang saja, saking girangnya, kami malah sibuk foto-foto di atas mobil kol sambil bergaya ala tukang sayur, lengkap dengan topi dan keranjang sayur. Kaki kami memang terasa berdenyut, tapi rasa lelah dan letih sirna ketika sepoi angin Lembang mengantarkan kami kembali ke Bandung. Aku pikir, ini adalah salah satu petualangan terbaikku. Semuanya serba spontan dan tidak diduga. Kalau suatu hari kamu ingin mendapatkan pengalaman yang berbeda ketika pergi ke Tangkuban Parahu, rasanya rute ini patut dicoba. Jangan lupa siapkan fisik prima, karena kita akan menjelajahi Hutan Tangkuban Parahu. Selamat mencoba!

   

Page 5 of 8

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Indonesian Arabic Chinese (Simplified) Dutch English Filipino French German Hindi Italian Japanese Korean Malay Portuguese Russian Swahili Thai Vietnamese
- - Contact Us - - About Us - - Jobs - - Help and FAQ - -
JoomlaWatch Stats 1.2.9 by Matej Koval