Geowisata Bandung Selatan
Last Updated on Monday, 26 April 2010 16:15 Written by Nurul Wachdiyyah Wednesday, 27 January 2010 18:39
Jalan-jalan. Tema yang sedang jadi tren hampir dua tahun belakangan ini di Bandung. Tema jalan-jalan yang saat ini sedang berlangsung di Bandung adalah Geowisata karena perdua-bulannya diselenggarakan oleh TRUEDEE, sebuah Penerbit di Bandung. Loh kok penerbit? Iya. Mereka adalah penerbit buku berjudul Wisata Bumi Cekungan Bandung (WBCB) yang jadi pedoman jalan-jalan yang bertemakan GEOTREK. Jalan-jalannya dipandu oleh penulis buku tersebut, yaitu T. Bachtiar (TB) dan Budi Brahmantyo (BB). Keduanya adalah dedengkot geografi, geologi, dan budaya di Bandung. Sebenarnya masih banyak yang jadi ahlinya kedua bidang diatas, hanya saja bapak-bapak tersebutlah yang aktif mendekati masyarakat umum melalui acara jalan-jalan.
Geotrek adalah rute perjalanan menyusuri beberapa kawasan tertentu yang saling terhubung satu sama lain. Lintasan yang dilalui mengandung unsur sejarah hunian dan budaya kawasan, asal usul kawasan, serta bentukan geologi dan geografi. Wisata geotrek ini bernama Geowisata. Selain menggunakan kendaraan umum, hampir setengahnya dari Geotrek dilakukan dengan berjalan kaki. Karena itu, kondisi tubuh yang sehat itu syarat mutlak kalau ikutan jalan-jalan model gini.
Buku ini memuat sembilan trek Geowisata. Truedee mengajak masyarakat umum untuk cicip jalur Geotrek yang terdapat dalam buku berhalaman 276 ini. Geowisata geotrek I dilakukan pada bulan Agustus 2009. pada akhir tahun 2009, Truedee kembali menyelenggarakan geowisata geotrek II. Tujuannya adalah Bandung selatan, yaitu kawasan Gunung Puntang di lereng Gunung Malabar dan Pangalengan.
Pagi pukul 6.28 jalan Ganesa depan kampus ITB sudah ramai oleh kerumunan orang. Salah satunya kelompok Geotrek II. Kami diminta kumpul setengah tujuh pagi. Keberangkatan menuju Pangalengan dijadwalkan pukul 7 pagi. Jumlah pesertanya mencapai 60 orang dan dua minibus siap mengangkut kami menuju tempat lokasi.
Bandung hari sabtu pagi, tidak terlalu ramai. Bahkan terusan Buah Batu juga bisa dilewati dengan cukup mulus. Salah satu biangnya kemacetan di Bandung Selatan, perbaikan Jembatan Citarum, juga lancar dilalui. TB sempat cerita sedikit tentang sungai Citarum. Tahun 2005 Pemerintah kota merubah aliran sungai Citarum di daerah Dayeuh Kolot ini. Tujuannya untuk mencegah agar luapan airnya di kala hujan tidak membanjiri kawasan Banjaran. 15 miliar terpakai percuma karena hasilnya sekarang sama saja, yaitu banjir.
Sekitar satu setengah jam kemudian, bis berbelok ke kiri menuju kaki Gunung Puntang (lereng gunung Malabar). Lereng Gunung Malabar adalah daftar kunjungan pertama Geotrek II. Kami akan lihat puing-puing kompleks stasiun radio Malabar dan sungai Ci geureuh. Pada jaman kolonial, karena alasan tertentu tahun 1918 Belanda pernah membangun stasiun radio di kawasan lereng ini, namanya Stasiun Radio Malabar. Stasiun radio pertama di Hindia Belanda ini adalah yang terbesar dan tercanggih pada jamannya. Pintu komunikasi Bandung dengan dunia internasional dilakukan melalui radio ini. Disamping stasiun radio, Belanda juga membangun kota satelit sebagai sarana pelengkap fasilitas stasiun radio. Call sign terkenal pada masa itu adalah “Hallo (disini) Bandung!”. Namun sayangnya, kobaran api pada peristiwa Bandung Lautan Api tidak hanya membumihanguskan kota Bandung, tapi juga stasiun radio Malabar. Beberapa pejuang BLA membom kawasan kompleks. Sekarang ini kita hanya bisa menyaksikan puing-puingnya saja. Sisa gedung radio Malabar entah disebelah mana, tapi rumah-rumah yang dulu ada di kompleks ini jejaknya masih bisa dilihat. Beberapa puing bahkan ada papan nama pemiliknya, seperti Marsongko dan Soeganda. (gambar di kanan adalah narasumber Geotrek, sedang menerangkan tentang areal pegunungan).
Diantara puing-puing bangunan, TB bercerita asal usul nama gunung Malabar. Menurutnya dahulu terdapat sebuah kampung bernama Maleber. Maleber artinya air yang selalu meleber. Dalam bahasa Sunda, Ma = seperti, dan bar, Ber, Bur = air yang moncor banyak dan meleber kemana-mana. Malabar adalah daerah yang airnya meleber kemana-mana.
Kami berjalan kembali meninggalkan reruntuhan bangunan kompleks perumahan Malabar usai mendengar cerita mengenai Gunung Malabar dan stasiun radio Malabar. Sungai Ci geureuh yang bening nan cantik itu menunggu. Kami berjalan kira-kira 10-15 menit menuju sungai. Air sungainya bening dan segar luar biasa. kami berjalan menyusuri sungai tersebut. Meskipun dingin, sayang sekali kalau tidak nyemplung di sungainya. Dalamnya sungai tidak lebih dari tinggi paha orang dewasa. Arus sungai cukup deras, terutama di setiap jeramnya. Kami berjalan berlawanan arah dengan arus sungai, dari bawah merangkak ke atas. Sekitar 1 km saja jarak yang kami lalui. Kalau sedang berada di sungai jenis seperti ini, jangan lupa tangkupkan air sungai di tangan lalu basuhkan ke wajah. Sejuknya hampir bikin melayang-layang saking senangnya. Sampailah kami di bagian atas yang lebar sungainya lebih luas. Latar belakangnya adalah gunung, besar kemungkinan itu Gunung Haruman dan Puntang.
Beberapa batu di sungai bisa dijadikan sandaran untuk duduk. Semua peserta nampaknya senang juga kayak saya. Selesai bermain dengan air, kami naik ke darat. Kembali, duet TB dan BB bercerita mengenai ilmu kebatuan. Bebatuan yang berada di sungai ternyata sangat bagus untuk memecah derasnya air sungai. Jenis batunya bisa bermacam-macam, dari yang paling besar sampai yang terkecil. batu-batu tersebut berasal dari letusan gunung. Mereka terbawa lava yang mengalir.
Kami kembali ke parkiran bis. Beberapa peserta kepincut kolam cinta yang tertera di papan petunjuk. Sebagian mengusulkan untuk pergi melihat kolamnya. Jadi lah kami beranjak lagi, demi kolam cinta. Dinamakan kolam cinta karena bentuk kolamnya menyerupai hati, sepertinya begitu. Kolam berada di lembah pegunungan. Bisa saja ya orang Belanda, bikin kolam di tempat seperti ini. Bayangkan, duduk di tepi kolam sambil menikmati pemandangan gunung, kabut, awan, langit, dan pepohonan. Bisa jadi dahulu kala mereka suka bikin garden party disini atau sekedar makan pagi yang indah. Sekarang kolamnya hanya sekedar nempel, tidak dirawat dan tidak dibikin menarik.
Karena terbentur dengan jadwal kunjungan, kami harus segera pergi meninggalkan kawasan Gunung Puntang. Jadwal berikutnya adalah makan siang di areal kompleks perkebunan teh Malabar. Menuju ke kompleks tersebut, bis melaju lewat daerah pasar Pangalengan dan rumah penduduk. Masyarakat Pangalengan sedang membangun rumahnya. Kebanyakan mulai beralih ke bahan bangunan dari bambu. Pasca gempa bulan September, bambu mulai diminati karena tahan goncangan gempa. Sayangnya harga bambu di Pangalengan sedang tinggi.
Bis langsung menuju ke rumah Bosscha. Arena makan siang dilakukan di hall samping rumah Bosscha. Menunya soto, tempe, ayam goreng, telor, perkedel, dan kerupuk melinjo. Ada juga teh tawar hangat dan buah pisang. Usai memenuhi piring dengan menu tersebut (minus ayam, kerupuk, dan telur), kami duduk di depan taman, lalu makan. Enak sekali, ulangi: ENAK!. Pemandangan oke, makanan oke. Sebelum makan, kami disuguhi makanan pembuka oleh BB dan TB.
BB bercerita tentang gempa dan TB mendongeng asal usul Gunung Wayang.
Wayang adalah gabungan bahasa Sanskerta, Wa = angin, Hyang = dewa. Angin Dewa. Angin yang lembut dan permai, sungguh sesuai dengan semilir angin yang menerpa wajah saya saat itu. “Tapi ada pula versi lain dari asal usul gunung Wayang”, cerita TB. Dan bercelotehlah bapak beranak tiga ini tentang kisah seorang pemuda pemudi, urban legend ceritanya. Kisahnya persis Sangkuriang dan Dayang Sumbi.
Berikutnya menuju Tugu/makam Bosscha. Kabut mulai menyelimuti gunung Nini, gunung yang aslinya adalah bukit ini merupakan puncak tertinggi di kompleks Malabar. Kami naik bis disertai gerimis. Menuju makam Bosscha, bis dua kali berhenti untuk menurunkan peserta. Yang pertama untuk mendengarkan penjelasan dari TB dan BB tentang Gunung Bedil, Gunung Windu, dan Gunung Wayang serta tentang energi Geothermal alias energi panas bumi. Perjalanan dilanjut dan berhenti lagi areal kebun teh paling tua yang ada di kompleks. Disini pohon tehnya tinggi-tinggi, tidak kerdil seperti yang kita lihat pada umumnya. Konon pohon teh tersebut adalah pohon teh tertua di kawasan kompleks.
Makam Bosscha adalah tujuan berikutnya. Bosscha adalah pengusaha perkebunan teh di Bandung. Pak Upir, penjaga makam ini cerita banyak soal Juragan Bosscha. Diantaranya adalah betapa dermawannya jutawan Bosscha, atau ketika Bosscha jatuh dari kuda yang tumpanginya serta kemunculan Bosscha di rumahnya sendiri setiap diatas pukul 11 malam.
Cerita selesai dan kami secara beriringan naik lagi ke bis. Rumah Jerman, sebuah rumah dengan gaya arsitektur Eropa dan berada di antara hamparan kebun teh yang ada di pintu gerbang perkebunan Cukul adalah tujuan akhir dari Geotrek II. Disebut Rumah Jerman karena gaya arsitekturnya yang menyerupai rumah-rumah di Jerman sana. Jarum jam mengarah ke angka setengah 5. sekitar pukul 5 kami berhenti di Situ Cileunca (situ = danau, sundanese). Danau buatan ini dibangun oleh Belanda. Air dari danau ini menggerakkan beberapa turbin pembangkit tenaga listrik di tiga tempat. Air inilah yang jadi konsumsi penduduk di daerah selatan.
Pukul 5 lebih 5, dalam mendung, kabut, dan hujan, rumah Jerman mau tidak mau sebaiknya memang harus dikunjungi. Hasilnya, luar biasa, rumah peninggalan Belanda yang luar biasa cantik ini ternyata sudah tidak ada. Ambruk. Rata dengan tanah. Konon katanya karena gempa. Tapi disinyalir rumah belanda ini sengaja diruntuhkan karena kepentingan perusahaan tertentu.
Pulang ke Bandung. Geotrek II berakhir di rumah sejarah yang sudah tidak ada lagi. Kabut tebal secara perlahan menghinggapi semua puncak kebun teh yang jadi pemandangan kami sore itu. Hujan turun lagi.
Kami pulang kembali ke Bandung dengan perasaan masing-masing. Entah senang, entah capek, entah sedih, entah campur sari semua rasa ada. Selalu ada yang baru dalam acara jalan-jalan. Bertemu teman baru, cerita baru, dan suasana alam yang belum tersentuh teknologi dan bangunan modern.
Terima kasih untuk TB dan BB yang bikin buku Wisata Bumi Cekungan Bandung. Keren! Juga Truedee yang jadi penerbitnya. Cool!
Foto oleh Ayu 'kuke' Wulandari
Siluman Tulen di Puncak Gunung Manglayang
Last Updated on Monday, 26 April 2010 16:17 Written by Nurul Wachdiyyah Friday, 07 August 2009 16:17
Minggu (02/08/09) keberangkatan yang dijadwalkan pagi pukul 6 molor hingga hampir menyentuh angka 7. Peserta yang datang dikala Bandung masih gelap, Gedebage, Margahayu, bahkan Jakarta, mesti rela menunggu. Briefing pun dimulai saja sambil menanti kedatangan beberapa peserta yang lain. Setelah perkenalan peserta, jalur, dan sedikit bahasan mengenai Gunung Manglayang, total 25 orang siap berangkat. Truk militer sewaan mengangkut dan membawa kami menuju Wana Wisata Batu Kuda di Ujung Berung. Melalui lokasi wisata inilah kami akan memulai petualangan menaklukan tanjakan Manglayang yang tidak ada habisnya.
Masuk melalui kawasan bernama Ciguruwik, truk meluncur mulus di jalanan yang hanya muat untuk satu kendaraan saja. Sisi kanan dan kiri adalah kompleks perumahan dan masyarakat yang lalu lalang menikmati hari minggu. Gunung Malangyang yang dari jauh terlihat biru kini mulai menghijau. Kami sudah dekat dengannya. Truk melaju menaiki jalan yang mulai menanjak. Mendekati lokasi wisata, truk sempat valid (naon valid? kata orang Sunda mah Palid) karena pak Toleh, sopir truk, lupa memindahkan gigi. Di tanjakan yang memanjang curam itu truk mundur mendadak. Beberapa peserta perempuan teriak ketakutan. Dengan sigap pak Toleh menginjak rem dan memundurkan truk secara perlahan. Begitu sampai di titik yang dia anggap cocok untuk restart mesin, dia berhenti dan mulai bergerak dengan gigi kendaraan yang sesuai. Brummm....truk maju. Pelan-pelan. This is the real rollercoaster...pengalaman pertama, jantung hampir copot di atas truk yang kami tumpangi.
Pohon pinus, udara sejuk, dan loket masuk. Artinya, kami sudah ada di dalam lokasi Batu Kuda. Semua peserta turun dari mesin cadas itu. Sebelum naik gunung, beberapa peserta menuntaskan bisnisnya di toilet yang tersedia. Setelah itu pemanasan. Kang Asep, salah satu peserta yang rumahnya di Ujung Berung mengatakan pemanasan ini sangat perlu mengingat jalur mendaki yang tidak biasa. Usai lk. 15 menit peregangan otot-otot di tubuh, kami siap maju tempur! Manglayang, kami datang!
27 orang, tambahan 2 orang peserta yang sudah menunggu di lokasi, terpencar-pencar jalannya. Yang jalannya cepat, dia lah yang berada di paling depan. Yang terseok-seok dan keasikan memotret, dia lah yang paling belakang. Saya berada diantaranya, dan di setengah perjalanan saya termasuk geng paling bontot, bersama-sama dengan Frisda, Dimas, Yanstri, pak Bachtiar, pasutri Ichsan dan Medina, Hamda, dan Deni.
Tanjakan demi tanjakan kami lalui. Tanjakan botak sampai tanjakan rimbun dan tanjakan batu. Pak Bachtiar berpesan, bila istirahat sejenak dari perjalanan saat mendaki gunung, jangan tunggu sampai keringat kita mengering. Hal ini dapat membuat badan kita jadi 'malas' dan justru bikin lebih cepat capek. Buat lah kondisi dimana tubuh kita adaptif dengan kontur pijakan yang naik turun (kebanyakan naik). Yang penting jalan terus, istirahat yang banyak dan pendek-pendek, dan jangan lupa persedian minum & cemilan penambah tenaga.
Pemandangan juga bisa menjadi pemicu untuk para peserta, terutama saya sendiri. Wana wisata Batu Kuda saja sudah berada di ketinggian 1.150 dpl. Jadi setelah 1.5 jam mendaki saya rasa saya sedang berada di ketinggian... 1.400 dpl. Mungkin begitu :D Pemandangan Bandung sangat terlihat jelas. Warna Bandung didominasi warna oranye, kebanyakan genting rumah. Padat menempel satu sama lain. Jalan nanjak lagi dan bertemu lagi sedikit lahan terbuka. Tempat kami bisa mengistirahatkan betis, paha, dan jantung. Tentunya, sambil foto-foto dan melihat pemandangan dong.
Sebagian besar peserta sudah sampai di puncak Manglayang. Sementara itu kami yang berada di barisan terakhir masih berjuang mencapai puncak. Semakin ke atas vegetasi hutan semakin lebat semakin merapat. Buah-buah kecil bulat warna-warni bermunculan. Seorang peserta bernama Yanstri sangat menyukainya. Akar-akar pohon dengan mantapnya berlagak tunggang. Siap dijadikan pegangan dan pijakan yang kokoh. Manglayang memang tidak biasa. Selain tanjakannya yang edun luar biasa nanjak untuk ukuran pemula, banyak akar-akar pohon yang berseliweran. Bukan akar sekedar akar, yang ini akarnya mantap-mantap! Akar yang ini, persis otot-otot binaragawan. Besar.
Manglayang, menurut pak Bachtiar, berasal dari kata "Layang". Seiring berjalannya waktu, terjadilah secara alami penambahan kata "ma" dan sekarang menjadi Manglayang. Beberapa batu besar kami lewati. Pak Bachtiar bercerita mengenai batu tersebut. Menurutnya batu-batu tersebut berasal dari debu-debu gunung yang meletus. Mereka menumpuk dan akibat digantung-gantung oleh ratusan, ribuan tahun, mereka memadat, mengeras. Beberapa batu lainnya adalah lemparan dari dalam gunung.
Pukul 11 hampir pukul 12, kami tiba di puncak. Napas tersengal-sengal dan senyum lelah campur gembira karena akhirnya sampai juga di puncak. Puncak Manglayang adalah pelataran yang cukup luas dan rimbun pepohonan menutupi pemandangan alam sekitarnya. Terdapat makam yang entah perpenghuni atau tidak. Makam tersebut dijadikan objek sesajen. Ada puntung rokok, ada bunga-bunga, ada makanan, buah kelapa, dll. Seorang teman menelanjangi puntung rokok, menyobek kulitnya dan membaca merknya. Dia tertawa, "Merk rokoknya Siluman tulen!", kami tertawa. Rokok yang ada-ada saja ya. Ya, unsur mistis ini adalah sisi positifnya adalah kerimbunan yang terjaga. Bagian lain di Gunung tersebut bisa jadi dibabat, habis ditebang. Tapi, dimana ada makam, dimana ada sesajen, hampir tidak ada yang berani macam-macam dengan popepohonan disekitarnya.
Adalah pemandangan yang lumrah bila kita melihat makam di puncak bukit atau gunung. Kami sejenak melepas lelah. Pak Bachtiar adalah kakek-kakek tanpa lelah. Dia menjelaskan proses terbentuknya Gn. Manglayang. Menurutnya, jalan yang tadi kami susuri adalah anak dari gunung Manglayang. Dan puncak tempat terakhir dan paling tinggi yang kami pijaki adalah ibunya Manglayang. Jadi bayangkan, kami belum menjajaki mbahnya Gunung Manglayang! Puncak tersebut hanya satu dari beberapa puncak yang lebih tinggi lainnya. Wuiwww....
Kegiatan berikutnya adalah makan siang! Beberapa peserta yang tidak membawa bekal makanan kecipratan makanan dari peserta lain yang bawa. Berbagi, itu yang penting. Pengalaman nomor sekian, setelah deg-degan di atas truk, menempuh jarak dan tanjakan, menonton pemandangan, maka berbagi makanan adalah satu dari sekian pengalaman asyik. Makan selesai, berikutnya adalah ngobrol-ngobrol santai. Udara gunung mulai menusuk-nusuk tulang. Dingin. Waktunya pulang, tapi eitt!, foto keluarga duluuu.
Pukul 2 siang, Manglayang kami turuni. Lagi-lagi saya bersama gerombolan siberat. Berada di paling belakang. Selisih waktu antara kami dengan peserta terdepan ternyata sangat jauh. Wow...entah bagaimana cara mereka turun. Mungkin terbang. hehehe. Perjalanan turun tidak lah semudah yang dibayangkan. Seperempat jalan pertama, lutut mulai menegang. Berikutnya otot lutut gemetaran, dan terakhir menular ke ujung-ujung jari kaki, kesakitan. Manglayang riskan dengan jurang. Meski tidak murni jurang, tapi kalau oleng ke kanan atau ke kiri atau kedua-duanya, ya wasalam. Mungkin menyangkut di batang pepohonan atau terjun bebas ke lembahnya. Hiii....ekstra hati-hati, nih. Di tanjakan botak (artinya gak ada rumput, yang ada tanah lempung yang licin), sebaiknya turun duduk. Anggap seperti sedang di perosotan. Atau ya, turun pelan-pelan saja.
Pukul 15.30 kami masih belum sampai di kaki gunung. Matahari sore muncul. Kami sudah dekat dengan temen-temen yang lain, tinggal menuruni satu bukit lagi. Tapi nanti dulu, ada matahari sore, bukit, rerumputan, dan pemandangan kota Bandung. Paket yang menawan dan sayang dilewatkan.
Kami duduk di punggung bukit, melepas lelah dan memerdekakan pandangan. Kami membicarakan banyak hal. Mulai dari bukit manusia purba, kemampuan melihat perbedaan genetis seseorang, dan trek jalan-jalan berikutnya. Berat rasanya beranjak dari tempat kami duduk-duduk mesra. Ya berat di tubuh, ya berat di hati :P Namun yang lain menunggu...
Turun gunung, kami disuguhi es buah. Wah asyik! Apalagi kalau ada baso. Sayang gak ada :D Setelah beberes barang bawaaan dan sholat, kami semua pulang kembali ke tempat pertama kami berangkat, Taman Ganesha. Sampai jumpa lagi, kawan-kawan. Selamat menikmati sakit otot di esok hari. 27 orang di keesokan harinya, kesakitan di sekujur paha. hahahaha seru nih :D
Foto oleh M Ichsan Harja Nugraha




Melewati celah besar itu kita akan kagum melihat pemandangan yang ada di sana, seperti kami waktu itu. Ada sebuah tebing yang indah sekali. Sebelah kanannya ada sebuah gua kecil yang di depannnya terdapat lokasi penemuan fosil manusia purba. Jadi ternyata gua ini pernah di pakai sebagi tempat tinggal manusia purba, yang konon adalah nenek moyangya orang Bandung.
Bila tidak jadi masuk ke Gua Barong, kita bisa melanjutkan perjalanan meliahat pemandangan yang indah dari bukit-bukit di karst Citatah atau bila membawa perlengakapan yang memadai kita bisa lanjut ke Gunung Masigit. Dan jangan lupa memeberikan tip kepada orang yang mengatar kita berkeliling gua, hitung-hitung ucapan terima kasih. Kami waktu itu memberi Pak Koswara lima puluh ribu rupiah, ya sebanding dengan yang kami dapatkan. Karena dia pun rela meninggalkan pekerjaannya di sawah. Heu…
Puas foto-foto, kami lanjut ke Perkebunan Teh Malabar. Perkebunan Teh Malabar ini dulunya adalah perkebunan milik Bosscha (iya, Bosscha yang terkenal itu!). Disini kita turun dari bis, jalan di kebun tehnya. Waa….seger banget deh, dan pas banget hari itu lagi cerah, langitnya biru, jadi bisa foto-foto lagi deh. Sambil ngeliatin hamparan kebun teh yang luaaaaasssss sambil ada selingan pohon merahnya. Katanya pohon ini dimanfaatkan sebagai penanda. Pohon ini berada diantara hijau pendek. Setelah 10 menit jalan kaki, kami sampai di makamnya Bosscha. Nah area makamnya Bosscha ini beda sama kebun teh. Jadi sekitarnya penuh sama pohon-pohon besar dan rindang, tanaman bunga, dan semak-semak teduh. Jadi adeemmm banget begitu masuk area ini. Makam Bosscha ada di ujung area ini, di dalam taman kecil.
Pagi itu udara di sekitar Terminal Ledeng terasa cukup dingin. Sinar matahari belum menyengat. Hanya lalu lalang angkot yang sedikit menambah hawa panas. Aku, bersama dua orang sahabatku, Adis dan Kime, masih menikmati pisang gorang yang diberikan oleh Ulu. Asapnya saja masih mengepul, pasti terbayang kan lezatnya. Sambil sesekali bercanda, kami berempat menunggu datangnya angkot krem dengan label Stasiun-Lembang yang siap mengantarkan kami untuk bertualang.