Last Updated on Wednesday, 29 September 2010 11:39 Written by Sri Pujiyanti Wednesday, 29 September 2010 11:16
Pada hari Sabtu, 7 Juli 2007, terpaksa saya bangun pagi-pagi sekitar jam 5 (hobi saya bangun siang, hehehe). Bukan karena saya mau menghadiri perkawinan, yang katanya banyak sekali di hari dengan tanggal ‘cantik’ itu, tapi karena pada hari Sabtu itu, Tour de Pangalengan yang dibuat Mahanagari bekerjasama dengan Cantigi akan dimulai tepat pada pukul 7 pagi.
Setelah menjemput dua cowok ‘jemputan’, Intan dari Cantigi yang menjadi operator tur kita kali ini dan Ben, direktur merangkap tukang sapu Mahanagari, kami sampai ke Dipati Ukur 21. Meeting point kami pada jam 7 pagi pas. Disana sudah ada Lemet, geng jalan-jalan Mahanagari yang Managing Editor-nya Business Week Indonesia, dan Utamy dan Adis, dua member Mahanagari yang berkesempatan mencicipi tur kita kali ini. Tidak lama kemudian muncul Pitra, geng jalan-jalan Mahanagari yang lain, dan Mumun, juga teman yang baru pertama kali ini jalan bareng kita. Kemudian muncul juga Nanang dari Cantigi dan Nday dan Ogi, teman kita yang lain. Oden, yang anak Trans TV tapi bukan yang bertugas untuk meliput acara, datang telat sekitar jam 7.30. Saya sudah berpikir, acara ini akan molor. Apalagi teman-teman dari Reportase Minggu Trans TV tidak juga keliatan batang hidungnya. Akhirnya, setelah telpon sana sini, mereka datang sekitar jam 8 setelah kukurilingan di Dipati Ukur mencari Dipati Ukur 21. Maklum, bukan orang Bandung.
Ternyata membawa reporter mendatangkan ‘masalah’. Karena pengen ngambil gambar secara ‘sinematik’, ceunah, teman-teman dari Trans TV terpaksa berkali-kali mengambil ‘take’ hanya untuk menggambarkan gerombolan kami di Dipati Ukur 21. Walhasil, setelah kami bolak-balik diambil gambarnya seperti pemain sinetron, kami baru berangkat dari Dipati Ukur 21 jam 9. Molor 2 jam!
Perjalanan menuju Pangalengan menggunakan 2 Land Rover milik ANHANG (AdveNture Hiking And raftiNG) dan 1 mobil kru Trans TV. Kami mengambil jalan ke arah Dayeuhkolot, karena Kopo pasti ampun-ampunan macetnya. Di jalan relatif tidak begitu macet kecuali di pasar Banjaran. Memasuki jalan raya Banjaran-Pangalengan, udara segar dan hamparan pohon-pohon hijau mulai menyambut. Sebelum perhentian kami yang pertama, yaitu PLTA Lamajan, kami sempat berhenti untuk
mengidentifikasi tempat dahulu berdirinya Radio Malabar, Radio Telepon pertama di Indonesia yang menghubungkan komunikasi Jawa-Belanda dan konon katanya punya kekuatan pancar paling kuat di seluruh dunia pada saat itu. Radio yang dahulu berdiri di lereng gunung Puntang ini sekarang sudah tidak ada lagi bekas-bekasnya.
Setelah Radio Malabar, tidak jauh dari PLTA Lamajan kami berhenti lagi untuk berfoto di atas Land Rover (ehem) dan mengamati pipa pesat PLTA berwarna kuning yang kontras dengan sekitarnya yang hijau, dan mendapatkan penjelasan soal pipa pesat itu dari Intan (yang juga harus menjelaskan berkali-kali demi kepentingan shooting, hehehe…). Ternyata sejarah PLTA Lamajan dan pipa-pipa kuning itu menarik.
Lamajan adalah bagian dari tiga PLTA tua yang dibangun oleh Belanda. Tahun 1920 , untuk pertamakalinya jawatan listrik Hindia Belanda terbentuk di Bandung. Dua tahun kemudian, tahun 1922, PLTA Plengan -yang juga berada di Pangalengan- dibangun dengan memanfaatkan aliran air sungai Cisangkuy. Pada tahun 1923 lahirlah PLTA Bengkok di Dago. Setahun kemudian, PLTA Lamajan pun dibangun dan selesai pada tahun 1925. Fakta lain yang menarik tentang PLLTA Lamajan ini adalah pipa pesat berwarna kuning yang dimilikinya ini semenjak dibangun dan dipergunakan dari tahun 1925 tidak pernah sekalipun bocor!
Pada sekitar pukul dua belas siang kami sampai ke PLTA Lamajan. Disini kami hendak melihat pipa-pipa pesat itu dari dekat dan melihat turbin tua yang menjadi bagian dari sistem penerangan Jawa-Bali. Bagian yang cukup menarik dan memicu adrenalin adalah untuk mencapai gedung dimana turbin-turbin itu berada, kami harus menggunakan lori tua seumur dengan PLTA-nya yang menempuh trek dengan kemiringan 70-80 derajat. Sebenarnya kalau kami tidak berani sih bisa memakai tangga yang jumlahnya sekitar 400 anak tangga. Turun sih gak masalah, tapi pas naik pulang? Nanang, yang pernah naik ke Cartenz Pyramid saja akhirnya setelah mengarungi separuh jalan naik pakai tangga akhirnya menumpang naik lori karena, capek euy!
Ditemani Pak Salim dari Indonesia Power kami memberanikan diri naik lori yang bikin deg-degan itu. Tapi deg-degan itu terbayar dengan view sepanjang perjalanan (yang sebenarnya Cuma sekitar 200 meteran saja) yang keren banget. Di bawah, kami kemudian dibawa ke ruangan turbin oleh Pak Salim untuk melihat-lihat, dan tentu saja, berfoto-foto, hehehe.
Dari PLTA Lamajan yang seru, terutama karena naik lori tuanya itu, perhentian selanjutnya adalah perkebunan teh Malabar. Perkebunan teh tertua di Indonesia ini (didirikan oleh Bosscha pada 1896) merupakan produsen teh kelas satu sampai sekarang, yang kata Adis, tehnya namanya teh putih. Teh ini diekspor ke luar negeri, dan yang dipasarkan di Indonesia hanya teh kelas duanya saja. Sayangnya, pas kita ke sana sedang ada tamu negara dari DPR RI sehingga kita ga bisa berjalan-jalan melihat rumah Bosscha, dan waktu juga tidak mengijinkan kita untuk mengeksplorasi gunung Nini yang katanya merupakan sebuah titik tempat Bosscha mengamati perkebunannya.
Dari Perkebunan Malabar kami menuju Situ Cileunca. Danau buatan sejak jaman Belanda ini ternyata keren juga. Kami berhenti disini untuk makan siang (atau sore, karena kami baru makan sekitar jam setengah tiga) dan untuk berlatih arung jeram sebelum mengarungi sungai Palayangan yang menjadi arena arung jeram kali ini. Jam setengah empat, kami sudah siap dengan perlengkapan arung jeram dan mulai mengusung perahu kami ke Situ Cileunca untuk berlatih. Setelah berlatih mendayung dan dianggap cukup mahir (dan ditenggelamkan oleh sang skipper di Situ Cileunca, untuk ngetes pelampung katanya), kami mengusung perahu lagi menuju sungai Palayangan, yang airnya memang berasal dari Situ Cileunca.
Sungai Palayangan tergolong pada sungai dengan tingkat kesulitan Class III - IV. Memiliki banyak jeram yang cukup menjanjikan, sayangnya pas kami mengarungi sungai itu kemarin, debit air sedang berkurang sehingga tingkat kesulitan agak berkurang. Tapi untuk para pemula seperti kami yang sebelumnya belum pernah berarung jeram, sungai ini menyenangkan kok. Diarungi sekitar 2 jam, selain teriak-teriak setiap kali ada jeram, kami juga sibuk perang air dengan perahu tetangga. Kelakuannya semuanya seperti anak kecil. Seperti kata Oden, kegiatan ini adalah sebuah kegiatan yang amat menyegarkan setelah dikurung rutinitas, dan buat Oden, dikurung Jakarta yang macet dan menyebalkan.
Acara arung jeram baru berakhir pada sekitar pukul tujuh di situ Cileunca lagi. Dari sini, kami dengan badan segar, pengetahuan baru dan teman baru, mengarungi lagi perjalanan menuju Bandung. Segar dan senang. Ga heran, sepanjang jalan semua orang bernyanyi ga keru-keruan, hehehe…
| < Prev | Next > |
|---|




