khantry design

Taraweh Keliling : Masjid Cipaganti & Masjid Al Ukhuwah Bandung

PDFPrintE-mail

Bookmark and Share

Ramadhan di Priangan. Begitu judul buku yang ditulis oleh kuncen kota Bandung, Haryoto Kunto. Buku ini menceritakan tentang kebiasaan masyarakat pada waktu Ramadhan di Bandung tempo dulu. Ada tentang botram, munggahan, ngabuburit, masjid Agung, sampai lebaran. Menarik.

Suatu hari nanti akan ada yang menulis catatan kegiatan di bulan Ramadhan 2010. Entah siapa. Pokoknya seseorang. Catatan ini akan jadi sejarah 80 tahun mendatang. Catatannya tentang Taraweh Keliling Mahanagari.

Taraweh Keliling (Tarling) dilakukan tujuh kali di tujuh masjid berbeda di kota Bandung. Akan ada perbedaan dari tiap masjid yang disambangi. Hal yang beda-beda ini bukan untuk dibandingkan lalu dijelek-jelekkan. Mana masjid yang bagus dan mana masjid yang jelek. Bukan itu. Tarling dilakukan untuk merasakan atmosfer ramadhan (spesifiknya taraweh) di tempat-tempat yang berbeda. Orang yang beda. Suasana yang beda. Malam ramadhan yang beda. Selain silaturahmi, tarling juga bisa jadi obat mujarab buat yang males taraweh (saya!), jalan-jalan, dan lain-lain.

Here goes :

1. Taraweh Keliling : Masjid Cipaganti
Kalau dirunut sesuai jalan sejarahnya, masjid Agung seharusnya jadi lokasi tarling yang pertama. Tapi untuk Tarling 2010 dimulai dari sebuah masjid yang terletak di jalan Cipaganti. Niatnya tarling dilakukan urut dari utara ke selatan. Pemilihan masjid Cipaganti sengaja dilakukan karena masjid Cipaganti adalah masjid raya di bagian paling utara kota Bandung.

13 orang tercatat mengikuti tarling masjid Cipaganti hari sabtu malam minggu (14/08). Yang belum buka puasa, ada makanan untuk buka puasa yang dibagikan gratis tiap hari sabtu disini. Catat ya : Sabtu Makanan Gratis! (Bonusnya pulang taraweh : Coke gratis!).

Masjid pertama di kawasan Bandung utara ini penuh sama jemaat. Rakaat sholatnya ada dua, 11 dan 23. Pihak masjid memberi waktu pada jemaat yang ingin taraweh 11 rakaat saja. Oiya, ada waktu sekitar 10 menit untuk yang mau melakukan sholat witir begitu rakaat ke 8 beres. Disaat geng jemaat 11 rakaat beres, mereka yang milih 23 rakaat melanjutkan sholatnya.

Bacaan ayat al quran Imam di masjid Cipaganti termasuk yang terbaik (buat saya pribadi). Entah kenapa, mungkin efek micprophone. Yang pasti, lafadznya, cengkoknya, indah menyentuh kalbu. Dramatis. Kebisingan suara kendaraan di jalan Cipaganti masih agak terdengar tapi tidak terlalu ganggu. 

Penceramah pada waktu kami tarling adalah dai yang populer di Bandung. Miftah Farid. Rasanya kami seperti tamu agung sampai-sampai yang ceramahnya mesti Pak Miftah. Semoga lain kali di masjid-masjid berikutnya ada Pak Aam Amirudin. Aa Gym juga boleh.

Keunikan masjid ini ada pada nilai historisnya. Sholat di masjid yang dirancang oleh arsitek keturunan Belanda ini mesti wajib masuk dibarisan tengah ruangan. Bangunan yang tengah. Karena bangunan aslinya sejak tahun 1930an ada disitu. Bangunan sayap kiri dan kanan adalah ekstensi. Sayangnya saya gak sholat di bangunan bersejarah itu. Di bangunan aslinya kita bisa lihat langit-langit yang nyungcung (mengerucut) dengan lampu yang bentuknya juga nyungcung ke bawah. Kaligrafi di pilar-pilar tiangnya juga jadul. Sholat disitu bikin gimana gitu. Seolah kita ada disana, 80 tahun yang lalu.

Usai taraweh, kegiatan dilanjut dengan makan-makan di Baso Malang Cipaganti. Kata temen-temen rasanya lumayan enak. Satu porsi paling mahal 15.000.


2.  Taraweh Keliling : Masjid Al Ukhuwah

Masyarakat mengenalnya sebagai masjid Pemkot. Letaknya ada di jalan Aceh, sebrangnya kantor Pemkot dan sampingnya BMC.

Disini jemaatnya banyak. Lebih banyak dari masjid Cipaganti rasanya. Bisa jadi karena ruangan yang luas bin gede. Langit-langitnya yang super tinggi buat sirkulasi udara yang masuk keluar dengan leluasa (meski dengan catatan, entah kenapa di akhir-akhir taraweh rasanya panas pisan disini). Masjid ini arsitekturnya sederhana (tidak terlalu ngerti arsitektur tapi rasanya gedung ini gak aneh-aneh). Yang unik, langit-langit masjid ini penuh rangka berlampu kuning (dan sebagian putih). Indah. Dan sedikit ada aura kemegahan. Oya, mimbar masjidnya juga menarik. Terang benderang dan luas disertai aksen kuning emas di dinding. Cantik.

Taraweh di masjid Ukhuwah dilakukan sebanyak 11 rakaat. Dari tiap seri rakaatnya ada doa-doa, pertanda masuk ke seri taraweh berikutnya (beda dengan masjid Cipaganti yang beres satu seri taraweh langsung lanjut).

Imam taraweh membaca surat-surat pendek. Separuhnya ada juga surat-surat panjang yang sudah tentu saya tidak hafal. Sama seperti di masjid Cipaganti, bacaan sholatnya relatif pendek.

Penceramahnya entah siapa. Seseorang bergelar Drs. Keanehan di masjid ini adalah, hijab antara jemaat laki-laki dan perempuannya dibuka! Hanya pada saat ceramah berlangsung saja.

Peserta tarling di masjid Al Ukhuwah adalah 9 orang. Lebih sedikit daripada tarling yang pertama. Entah kenapa. Tarling beres, tujuan berikutnya adalah makan. Kawasan kuliner jalan Aceh jadi sasaran. Bukan BMC (mahal!). Kali ini ke suatu blok depan rumah yang banyak PKL-nya. Ada pilihan kalau mau makan makanan berat. Hampir sebagian besar dari kami makan Batagor. Seporsi 10.000 (perpotong 2.000). Rasanya lumayanlah, gak terlalu enak tapi lumayan.

 

Foto oleh Ayu 'Kuke' Wulandari

 

bersambung...

Comments  

 
0 #1 2010-09-06 12:28
Kuke fotonya keren...:D
Quote
 
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Indonesian Arabic Chinese (Simplified) Dutch English Filipino French German Hindi Italian Japanese Korean Malay Portuguese Russian Swahili Thai Vietnamese
- - Contact Us - - About Us - - Jobs - - Help and FAQ - -
JoomlaWatch Stats 1.2.9 by Matej Koval