khantry design

Siluman Tulen di Puncak Gunung Manglayang

PDFPrintE-mail

Bookmark and Share

Minggu (02/08/09) keberangkatan yang dijadwalkan pagi pukul 6 molor hingga hampir menyentuh angka 7. Peserta yang datang dikala Bandung masih gelap, Gedebage, Margahayu, bahkan Jakarta, mesti rela menunggu. Briefing pun dimulai saja sambil menanti kedatangan beberapa peserta yang lain. Setelah perkenalan peserta, jalur, dan sedikit bahasan mengenai Gunung Manglayang, total 25 orang siap berangkat. Truk militer sewaan mengangkut dan membawa kami menuju Wana Wisata Batu Kuda di Ujung Berung. Melalui lokasi wisata inilah kami akan memulai petualangan menaklukan tanjakan Manglayang yang tidak ada habisnya.

Masuk melalui kawasan bernama Ciguruwik, truk meluncur mulus di jalanan yang hanya muat untuk satu kendaraan saja. Sisi kanan dan kiri adalah kompleks perumahan dan masyarakat yang lalu lalang menikmati hari minggu. Gunung Malangyang yang dari jauh terlihat biru kini mulai menghijau. Kami sudah dekat dengannya. Truk melaju menaiki jalan yang mulai menanjak. Mendekati lokasi wisata, truk sempat valid (naon valid? kata orang Sunda mah Palid) karena pak Toleh, sopir truk, lupa memindahkan gigi. Di tanjakan yang memanjang curam itu truk mundur mendadak. Beberapa peserta perempuan teriak ketakutan. Dengan sigap pak Toleh menginjak rem dan memundurkan truk secara perlahan. Begitu sampai di titik yang dia anggap cocok untuk restart mesin, dia berhenti dan mulai bergerak dengan gigi kendaraan yang sesuai. Brummm....truk maju. Pelan-pelan. This is the real rollercoaster...pengalaman pertama, jantung hampir copot di atas truk yang kami tumpangi.

Pohon pinus, udara sejuk, dan loket masuk. Artinya, kami sudah ada di dalam lokasi Batu Kuda. Semua peserta turun dari mesin cadas itu. Sebelum naik gunung, beberapa peserta menuntaskan bisnisnya di toilet yang tersedia. Setelah itu pemanasan. Kang Asep, salah satu peserta yang rumahnya di Ujung Berung mengatakan pemanasan ini sangat perlu mengingat jalur mendaki yang tidak biasa. Usai lk. 15 menit peregangan otot-otot di tubuh, kami siap maju tempur! Manglayang, kami datang!

27 orang, tambahan 2 orang peserta yang sudah menunggu di lokasi, terpencar-pencar jalannya. Yang jalannya cepat, dia lah yang berada di paling depan. Yang terseok-seok dan keasikan memotret, dia lah yang paling belakang. Saya berada diantaranya, dan di setengah perjalanan saya termasuk geng paling bontot, bersama-sama dengan Frisda, Dimas, Yanstri, pak Bachtiar, pasutri Ichsan dan Medina, Hamda, dan Deni.

Tanjakan demi tanjakan kami lalui. Tanjakan botak sampai tanjakan rimbun dan tanjakan batu. Pak Bachtiar berpesan, bila istirahat sejenak dari perjalanan saat mendaki gunung, jangan tunggu sampai keringat kita mengering. Hal ini dapat membuat badan kita jadi 'malas' dan justru bikin lebih cepat capek. Buat lah kondisi dimana tubuh kita adaptif dengan kontur pijakan yang naik turun (kebanyakan naik). Yang penting jalan terus, istirahat yang banyak dan pendek-pendek, dan jangan lupa persedian minum & cemilan penambah tenaga.

Pemandangan juga bisa menjadi pemicu untuk para peserta, terutama saya sendiri. Wana wisata Batu Kuda saja sudah berada di ketinggian 1.150 dpl. Jadi setelah 1.5 jam mendaki saya rasa saya sedang berada di ketinggian... 1.400 dpl. Mungkin begitu :D Pemandangan Bandung sangat terlihat jelas. Warna Bandung didominasi warna oranye, kebanyakan genting rumah. Padat menempel satu sama lain. Jalan nanjak lagi dan bertemu lagi sedikit lahan terbuka. Tempat kami bisa mengistirahatkan betis, paha, dan jantung. Tentunya, sambil foto-foto dan melihat pemandangan dong.

Sebagian besar peserta sudah sampai di puncak Manglayang. Sementara itu kami yang berada di barisan terakhir masih berjuang mencapai puncak. Semakin ke atas vegetasi hutan semakin lebat semakin merapat. Buah-buah kecil bulat warna-warni bermunculan. Seorang peserta bernama Yanstri sangat menyukainya. Akar-akar pohon dengan mantapnya berlagak tunggang. Siap dijadikan pegangan dan pijakan yang kokoh. Manglayang memang tidak biasa. Selain tanjakannya yang edun luar biasa nanjak untuk ukuran pemula, banyak akar-akar pohon yang berseliweran. Bukan akar sekedar akar, yang ini akarnya mantap-mantap! Akar yang ini, persis otot-otot binaragawan. Besar.

Manglayang, menurut pak Bachtiar, berasal dari kata "Layang". Seiring berjalannya waktu, terjadilah secara alami penambahan kata "ma" dan sekarang menjadi Manglayang. Beberapa batu besar kami lewati. Pak Bachtiar bercerita mengenai batu tersebut. Menurutnya batu-batu tersebut berasal dari debu-debu gunung yang meletus. Mereka menumpuk dan akibat digantung-gantung oleh ratusan, ribuan tahun, mereka memadat, mengeras. Beberapa batu lainnya adalah lemparan dari dalam gunung.

Pukul 11 hampir pukul 12, kami tiba di puncak. Napas tersengal-sengal dan senyum lelah campur gembira karena akhirnya sampai juga di puncak. Puncak Manglayang adalah pelataran yang cukup luas dan rimbun pepohonan menutupi pemandangan alam sekitarnya. Terdapat makam yang entah perpenghuni atau tidak. Makam tersebut dijadikan objek sesajen. Ada puntung rokok, ada bunga-bunga, ada makanan, buah kelapa, dll. Seorang teman menelanjangi puntung rokok, menyobek kulitnya dan membaca merknya. Dia tertawa, "Merk rokoknya Siluman tulen!", kami tertawa. Rokok yang ada-ada saja ya. Ya, unsur mistis ini adalah sisi positifnya adalah kerimbunan yang terjaga. Bagian lain di Gunung tersebut bisa jadi dibabat, habis ditebang. Tapi, dimana ada makam, dimana ada sesajen, hampir tidak ada yang berani macam-macam dengan popepohonan disekitarnya.

Adalah pemandangan yang lumrah bila kita melihat makam di puncak bukit atau gunung. Kami sejenak melepas lelah. Pak Bachtiar adalah kakek-kakek tanpa lelah. Dia menjelaskan proses terbentuknya Gn. Manglayang. Menurutnya, jalan yang tadi kami susuri adalah anak dari gunung Manglayang. Dan puncak tempat terakhir dan paling tinggi yang kami pijaki adalah ibunya Manglayang. Jadi bayangkan, kami belum menjajaki mbahnya Gunung Manglayang! Puncak tersebut hanya satu dari beberapa puncak yang lebih tinggi lainnya. Wuiwww....

Kegiatan berikutnya adalah makan siang! Beberapa peserta yang tidak membawa bekal makanan kecipratan makanan dari peserta lain yang bawa. Berbagi, itu yang penting. Pengalaman nomor sekian, setelah deg-degan di atas truk, menempuh jarak dan tanjakan, menonton pemandangan, maka berbagi makanan adalah satu dari sekian pengalaman asyik. Makan selesai, berikutnya adalah ngobrol-ngobrol santai. Udara gunung mulai menusuk-nusuk tulang. Dingin. Waktunya pulang, tapi eitt!, foto keluarga duluuu.

Pukul 2 siang, Manglayang kami turuni. Lagi-lagi saya bersama gerombolan siberat. Berada di paling belakang. Selisih waktu antara kami dengan peserta terdepan ternyata sangat jauh. Wow...entah bagaimana cara mereka turun. Mungkin terbang. hehehe. Perjalanan turun tidak lah semudah yang dibayangkan. Seperempat jalan pertama, lutut mulai menegang. Berikutnya otot lutut gemetaran, dan terakhir menular ke ujung-ujung jari kaki, kesakitan. Manglayang riskan dengan jurang. Meski tidak murni jurang, tapi kalau oleng ke kanan atau ke kiri atau kedua-duanya, ya wasalam. Mungkin menyangkut di batang pepohonan atau terjun bebas ke lembahnya. Hiii....ekstra hati-hati, nih. Di tanjakan botak (artinya gak ada rumput, yang ada tanah lempung yang licin), sebaiknya turun duduk. Anggap seperti sedang di perosotan. Atau ya, turun pelan-pelan saja.

Pukul 15.30 kami masih belum sampai di kaki gunung. Matahari sore muncul. Kami sudah dekat dengan temen-temen yang lain, tinggal menuruni satu bukit lagi. Tapi nanti dulu, ada matahari sore, bukit, rerumputan, dan pemandangan kota Bandung. Paket yang menawan dan sayang dilewatkan.

Kami duduk di punggung bukit, melepas lelah dan memerdekakan pandangan. Kami membicarakan banyak hal. Mulai dari bukit manusia purba, kemampuan melihat perbedaan genetis seseorang, dan trek jalan-jalan berikutnya. Berat rasanya beranjak dari tempat kami duduk-duduk mesra. Ya berat di tubuh, ya berat di hati :P Namun yang lain menunggu...

Turun gunung, kami disuguhi es buah. Wah asyik! Apalagi kalau ada baso. Sayang gak ada :D Setelah beberes barang bawaaan dan sholat, kami semua pulang kembali ke tempat pertama kami berangkat, Taman Ganesha. Sampai jumpa lagi, kawan-kawan. Selamat menikmati sakit otot di esok hari. 27 orang di keesokan harinya, kesakitan di sekujur paha. hahahaha seru nih :D





Foto oleh M Ichsan Harja Nugraha

Comments  

 
+1 #1 2009-08-07 21:50
wow pengen euy kesana, kalo ada lagi jalan-jalannya saya ikutan yak
Quote
 
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Indonesian Arabic Chinese (Simplified) Dutch English Filipino French German Hindi Italian Japanese Korean Malay Portuguese Russian Swahili Thai Vietnamese
- - Contact Us - - About Us - - Jobs - - Help and FAQ - -
JoomlaWatch Stats 1.2.9 by Matej Koval