khantry design

Jelajah Pangalengan - Seek For The Gold Mine With Mahanagari

PDFPrintE-mail

Bookmark and Share

Hari minggu 26 April 2009, di Itzerman Park (Taman Ganesa), terlihat sekerumunan orang. Beberapa di antaranya telah saya kenal, karena kami kerap bertualang bersama. Sekitar 40 orang ikut tergabung dalam kegiatan jalan-jalan Mahanagari kali ini. Tapi hanya satu orang yang akan menjadi tokoh terpenting hari ini : Pak Bachtiar selaku narasumber ! Beliau adalah peneliti, dosen, dan penulis cekungan Bandung. Tergabung dalam Kelompok Riset Cekungan Bandung, pak Bachtiar kerap kali bertualang sekitaran sisi kota untuk melakukan penelitian untuk tulisan-tulisannya.

Setelah briefing singkat, peserta dibagi ke dua regu untuk menempati dua truk yang tersedia. Saya memilih truk pertama karena di sini ada beberapa teman yang saya kenal baik, dan tentunya karena ada Pak Bachtiar di sini. Saya tidak mau ketinggalan banyak informasi penting dari beliau. Untunglah Truk TNI yang kami naiki cukup nyaman. Dengan biaya yang kami keluarkan, tentunya fasilitas yang kami dapatkan sangat sebanding. Untungnya, Saya yang sudah sangat terlatih karena hampir setiap hari menaiki Bus Damri, tentu terbiasa dengan kondisi transportasi masal.

Truk mulai melaju. Menyambar setiap tikungan dan jalan sempit. Burung-burung beterbangan dan pedagang kaki lima bertebaran. Semua kendaraan di depan kami langsung menyingkir saat melihat truk kami menerjang. Sopir truk kami memang yang sangat terlatih di antara rekan se-profesinya. Selama perjalanan, suasana di dalam truk tidak pernah garing karena pak Bachtiar senantiasa melemparkan joke-joke ringan disertai materi-materi seputar perjalanan. Beliau bercerita tentang danau Bandung, tambang emas, pesisir pantai danau Bandung, terjadinya gunung dan lain-lain. Suasana ini menjaga saya dari perasaan ngantuk, selain ancaman dari orang2 di depan saya yang akan memfoto saya apabila saya kedapatan tertidur.


Situ Cileunca – The Cukul Estate

Situ ini berada 45 km sebelah selatan Kota Bandung, tak jauh dari Kota Kecamatan Pangalengan. Genangan air seluas 180 hektar tersebut diapit dua desa, yakni Warnasari dan Pulosari. Terima kasih pada Belanda, yang telah membangunan danau indah ini selama 7 tahun (1919-1926) dengan cara membendung aliran kali Cileunca.

Di sini, truk pun berhenti. Para model mulai bersiap untuk melakukan Photo session : Galih, Ujang Endey, Yanstri dan Shela. Saya sendiri hanya berperan sebagai fotografer saat itu. Kami berfoto dilatarbelakangi semburan uap dari Geothermal Wayang Windu yang eksotis. Pemandangan danau ini sangat indah hingga merasuk sukma. Suatu saat nanti mungkin saya harus merasakan kegiatan arung jeram di aliran danau ini.

Waktu berfoto selesai, para model diangkut kembali untuk menuju tujuan selanjutnya, The Cukul Estate (tak ada hubungannya dengan Cukul Arwana). Cukul Estate ini tidak lain adalah lokasi perumahan bagi para petani teh beserta kebun-kebunnya. Terlihat di kanan-kiri permadani hijau-perkebunan teh yang sangat eksotis, yang tambah indah karena dibayang-bayangi awan yang dekat. Perlu diketahui bahwa perkebunan ini berada di ketinggian 1528 dpl. Telah terasa sekali suhu yang mulai menipis karena pada dasarnya suhu berkurang 0,6 derajat celcius setiap 100 meter dari permukaan laut, yang suhunya 26 derajat celcius.


Perjalanan menuju Tambang Emas (Adrenaline Mode : On !)

Tidak ada yang lebih tegang dalam perjalanan ini selain dua supir truk yang bertugas mengantar kami menuju tempat terdekat dengan lokasi tambang. Mereka bertanggung jawab atas nasib puluhan nyawa, tanggung jawab dinas, serta truk TNI yang harganya ratusan juta rupiah. Jalan yang kami harus lalui sangat sempit, hanya pas untuk dilalui mobil bak, selain itu hanya terdiri dari tanah yang diratakan dengan bebatuan, sedangkan di kanan kiri terlihat jurang yang menganga.

Para peserta tegang bagai penumpang Adam Air yang mengalami turbulensi, terdengar suara derak besi setiap truk melewati jalanan yang bergerinjul. Beberapa peserta berdiri untuk menghindari nyeri pantat yang beradu dengan kursi padat. Untunglah berkat keahlian yang luar biasa dari para sopir ini, kami dapat melalui rintangan tersebut dengan selamat. Mereka layak mendapatkan two thumbs up dari Roeper dan Ebert ! Fiuhh…!


The Gold Miner !
Kami mulai menerobos perkebunan teh dan alam liar guna mencapai lokasi penambangan. Di kawasan ini, kita masih bisa menemukan elang hitam, ulat-ulat bulu raksasa, lintah-lintah coklat yang eksotis, hingga cacing-cacing sepanjang setengah 30 cm ! Jalanan setapak sangat terjal dan licin, beberapa kali terdengar suara hentaman tubuh peserta dengan tanah, atau teriakan-teriakan sporadis pertanda “hampir” terjatuh. Sengatan matahari dan hawa panas turut memeriahkan penderitaan perjalanan ini, tapi semua itu akan terbayar oleh pemandangan yang akan kami saksikan nanti…

Suara gemercik air mulai sayu terdengar, artinya tujuan kami tidak jauh lagi jaraknya. Dan benar saja, saya dapat melihat dengan jelas tenda-tenda biru tempat para penambang itu tinggal. Sejujurnya ini bukanlah pemandangan yang indah, tapi tetap saja terlihat eksotis bagi mata “kota” saya. Kami sampai di lorong pertama tempat para penambang emas bekerja, panjangnya hampir 20 meter ke dalam dan 7 meter vertikal ke bawah. Dalam tempat sempit ini, para penambang bahkan dapat merokok dengan tenang, sedangkan bagi kami bernapas saja sulit. Satu hal yang tidak boleh dilakukan para penambang di dalam “gua” ini adalah buang angin, karena dapat merusak konstelasi dan keseimbangan ekosistem para pekerja lainnya di dalam gua. Tapi, overall, saya kagum dengan keahlian dan kerja keras para penambang ini yang rela menggali berton-ton tanah hanya untuk menemukan berkilo-kilo emas…

Para penambang ini tinggal di rumah-rumah semi permanen bahkan non-permanen yang dapat dibongkar dengan mudahnya. Satu rumah ini biasanya ditempati satu keluarga penambang, yang terdiri dari suami-istri dan anak yang tinggal secara harmonis. Sang suami menambang emas, para istri menyiapkan makanan dan logistik, sedangkan anak-anaknya bermain ria. Mereka menempati lokasi ini sekitar lima tahun yang lalu, sejak tempat ini ditinggalkan oleh perusahaan penambangan terkemuka.

Para keluarga penambang disini kebanyakan berasal dari kabupaten Garut, yang letaknya sekitar 2-3 jam perjalanan dari lokasi ini. Mereka tinggal selama 15 hari atau bahkan sampai sebulan sebelum kembali ke kota untuk menukar hasil yang mereka dapat dengan uang yang tidak seberapa. Terbayangkah bagi anda, penderitaan mereka yang harus terperangkap dalam lokasi terpencil ini selama sebulan tanpa televisi, alfamart dan facebook ?

Di sana sini terlihat peralatan untuk mengikis batu kuarsa yang terbuat dari kaleng-kaleng bekas, ban-ban bekas, serta kayu-kayu bekas, dipadukan menjadi satu. Lalu digerakkan oleh tenaga kinetik aliran air. Setelah emas dan perak yang tersisa telah terpisah dengan batu kuarsa, mereka akan diurai kembali dengan menggunakan air raksa. Sungguh proses yang melelahkan.


The Waterjun (Bahasa inggris untuk “air terjun” – bagi yang belum tahu)
Setelah cukup lama menghabiskan waktu di lokasi penambangan, kami segera berangkat menuju lokasi air terjun yang “katanya” sangat indah. Dan ternyata benar saja, setelah melewati bebatuan sungai yang ganas, akhirnya hinggap juga di lokasi air terjun ini. Dan benar saja, air terjun ini hanya dapat diungkapkan dengan satu kata : “Eksotis !” (perasaan kata ini sudah berkali-kali saya pakai he he...). Tingginya ratusan meter, aliran airnya jatuh menerjam, lembah di depannya membentang sempit bagai green canyon dan hempasan airnya sangat menyegarkan.

Untuk bisa mendekati air terjun ini, kita harus merelakan setengah badan kita terendam air. Beberapa peserta nekad mengambil resiko ini, karena tentunya sudah membawa pakaian ganti, saya yang tidak membawa pakaian ganti tentu hanya bisa mengamati dari jauh. Tapi semua itu akan berubah. Demi membantu menyebrangkan seorang peserta, tubuh saya yang tidak stabil karena menginjak batu licin, terpaksa harus merasakan nikmatnya kecemplung air. HP saya bertipe Nokia 3310 yang sudah selayaknya masuk musium turut terendam, sehingga beberapa fungsi utamanya seperti untuk menelpon, mengirim sms dan membuka internet harus padam total. Sekarang fungsinya hanyalah untuk ganjel kulkas.

Karena kagok basah, saya pun memutuskan untuk turut melihat air terjun dari dekat. Wah, benar juga, mantap pisan, suatu pengalaman yang tidak akan terlupakan. Menyesallah kamu, orang-orang yang tidak mengunjungi situs air terjun ini…


The Way home…
Perjalanan pulang merupakan sebuah suasana yang sangat romantis-melodramatis, sebuah klimaks, sebuah penderitaan yang nikmat (seperti halnya rasa cinta). Kami melewati jalan yang berbeda dengan jalan kami datang. Kali ini kondisi jalannya lebih terjal dan melelahkan. Kami berhadapan dengan batu-batu rapuh dan aliran yang melawan dari atas. Ditambah dengan hujan deras yang memperberat medan. Untunglah saya adalah satu-satunya peserta yang membawa payung (sedangkan yang lainnya menggunakan ponco). Pelajaran yang saya dapat adalah : Jangan membawa payung untuk perjalanan di alam, sangat tidak praktis !

Baju dan celana yang basah menyerap suhu tubuh saya, sehingga angin bisa masuk dengan leluasa ke dalam tubuh. Kondisi ini akan saya pertahankan hingga saya sampai ke rumah nanti. Dengan lain kata, selama sekitar 5 jam saya mengenakan pakaian dan celana basah (hingga ke dalam), ditambah deru angin sore yang menerabas masuk melalui sela-sela truk. Hampir pukul 19.30 malam kami tiba di Bandung. Perjalanan diakhiri di tempat dimana perjalanan ini dimulai, taman Ganesha.

Foto oleh Rizky dan T. Bachtiar
Foto Oleh T. Bachtiar
Untuk foto lebih banyak lihat di www.mahanagari.multiply.com

Comments  

 
0 #3 2009-06-17 12:08
asyik pisan ih...
jadi kabita
kalo pulang indo mau ikutan ah...

khabar2i ya Kang
Quote
 
 
0 #2 2009-06-16 16:35
Quoting Hassan Windoedipoero:
:-* mantap ini tulisan,,, bagai sore di hari yang lalu...


Kang Hassan apanya Rizky? nama belakangnya kayak yang kenal hehehe
Quote
 
 
0 #1 2009-06-13 07:44
mantap ini tulisan,,, bagai sore di hari yang lalu...
Quote
 
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Indonesian Arabic Chinese (Simplified) Dutch English Filipino French German Hindi Italian Japanese Korean Malay Portuguese Russian Swahili Thai Vietnamese
- - Contact Us - - About Us - - Jobs - - Help and FAQ - -
JoomlaWatch Stats 1.2.9 by Matej Koval