Last Updated on Monday, 26 April 2010 13:52 Written by Swestika Swandari Tuesday, 27 January 2009 22:47
Berikut adalah cerita jalan-jalan geng Mahanagari ke Gunung Padang Ciwidey hari Minggu tanggal 30 November 2008. Kami kesana untuk melihat batu-batu yang konon dianggap sebagai situs megalitik. Acara jalan-jalan ini saya publish hanya di milis Mahanagari dan disebar via sms ke temen-temen yang saya kenal dan mereka yang udah nitip "Lu, kalo mau jalan-jalan kasitau, ya!", seraya memberikan nomer hpnya. Jadi ayo ikutan milis Mahanagari hehehe
Sebelum baca cerita yang ditulis oleh teman Mahanagari yang baik hati dibawah ini, saya cerita dulu dikit. Ide ke Gn Padang Ciwidey ini datang dari temen saya yang bernama Cindy. Daripada dikitan yang kesana, mending rame-rame. Katanya the more the merrier. Jadilah saya ajak pak Bachtiar, pakar geograf yang gaul itu. Pak Bachtiar antusias setuju ikutan meski di hari-hari terakhir beliau membatalkan kehadiran karena urusan keluarga. Dua temen baru dari Jantera (PA-nya jurusan Geografi UPI. Klik disini) rekomendasi pak Bachtiar juga saya ajakin.
Di bumi Jawa Barat ini ada tiga Gunung Padang.
1. Gunung padang Cianjur. Situs ini beken sekali. Banyak orang yang tahu keberadaan Gn Padang di Cianjur tapi gak tahu sama sekali mengenai Gunung Padang di tempat lain.
2. Gunung Padang Ciwidey.
3. Gunung Padang Ciamis
Pada awalnya saya bertanya-tanya, kenapa namanya Gn Padang. Padang kan dalam bahasa Jawa, artinya terang. Gn. Padang Ciwidey atau Cianjur atau Ciamis kan di tanah Sunda. Kenapa mesti pake nama Padang, kenapa gak gunung Caang aja.
Wakwaww...
Setelah buka kamus,
Dalam bahasa Sanskerta, Padang artinya caang alias terang.
Dari kamus Basa Sunda yg disusun oleh R.A Danadibrata, Padang artinya:
1. Dalam bahasa Indonesia: tegal, lapangan
2. Dalam bahasa Sanskerta: caang (terang)
3. Kecap panganteb kana caang (kalo dikira-kira ini artinya adalah: caang pisan/terang sekali)
Cerita lengkapnya baca dibawah ini.
Hatur nuhun ka sadayana. Kemarin itu asik banget. Sampai ketemu lagi di jalan-jalan berikutnya.
-ulu-
JALAN-JALAN KE GUNUNG PADANG, CIWIDEY
30 November 2008
Jalan Ganesha - 07.10.
Ketika tiba di Jalan Ganesha depan gerbang ITB, saya hanya mengenali Ulu di antara serombongan orang yang duduk di situ. Gak tahu siapa yang datang pertama karena saya terlambat 10 menit (maaf..), pokonya udah ada Jesis, Rina, Rani, Fani, Pak Moro, Viky, Dimas, Oka dan Elfa. Gak lama kemudian Embe, Linda dan Hadi menyusul sambil membawa lontong dan roti goreng isi kacang hijau.. slrup. Lengkap sudah, total yang ikut ke Gunung Padang adalah 14 orang.
Eh, Gunung Padang itu tempat apa sih? Untuk anggota milis Mahanagari, sebelumnya ada gambaran sedikit tentang Gunung Padang dari Ulu bahwa kami akan melihat batu-batu besar. Saya sendiri selintas tahu ada situs megalitikum ini dari Pak Bachtiar saat jalan-jalan Mahanagari ke situ Lembang. Sebenarnya saya terkecoh (Viky juga) karena dari hasil Googling kata kunci "Gunung Padang", rata-rata merujuk ke Gunung Padang di Cianjur Selatan. Waduh, baru saat di jalan saya sadar, rombongan ini menuju Gunung Padang di Ciwidey. Kamana atuh? Jadi, Gunung Padang yang akan kami kunjungi terletak di Desa Rawabogo, Ciwidey, Kabupaten Bandung.
Dari 14 orang di rombongan, Elfa lah yang tahu banyak tentang Gunung Padang dan didaulat sebagai Guide perjalanan kali ini. Elfa dan Oka adalah anggota Jantera UPI (PA-nya Jurusan Geografi UPI). Elfa sendiri direkomendasikan karena pernah mengerjakan proyek pemetaan Gunung Padang sebagai bagian dari disertasi Pak Stephanus Djunatan, seorang dosen Filsafat Unpar (yang papernya juga menjadi sumber tulisan ini).
Setelah berdoa dan perkenalan singkat, jam 07.35 perjalanan dimulai. Rombongan dibagi dua, 6 orang bersama Jesis dan 8 orang bersama Pak Moro. Mengambil rute Jl. Ganesha-Pasteur-Kopo- Ciwidey. Jika ingin ke Gunung Padang Sendiri, ancer-ancernya dari arah Soreang ke Ciwidey, setelah perkebunan teh Gambung, di daerah Pasir Jambu ada SMP belok ke kanan. Kemudian bisa bertanya dimana desa Rawabogo atau Gunung Padang, penduduk tahu daerah tersebut.
Tiba pukul 09.30, kami memarkir mobil di warung di desa Rawa Bogo. Setelah turun dari mobil, Ulu sempat bertanya, "Perlu ke tempat kuncennya dulu?"
Elfa menjawab, "Kata Kang Bah (Pak Bachtiar-red) gak perlu, kalau mau ziarah baru ke kuncennya dulu."
Pikir saya, Tempat apaan ini yang mau didatengin? Ada ziarah segala. Pertanyaan yang akan terjawab kemudian.
Selanjutnya, kami berjalan di jalur yang nanjak terus. Ini bukan sekedar bukit seperti bayangan saya. Untunglah, sesekali ada jalan datar dan banyak pohon, walaupun saya ngas nges ngos kehabisan oksigen tapi hawanya sejuk sekali. Baru saya ketahui kemudian, kalau daerah tersebut bagian dari KPH Bandung Selatan, Perum PERHUTANI Unit III Jawa Barat. Wajar pula, jika pulangnya kami sempet berpapasan dengan orang yang membawa karung berdarah-darah berisi babi.
Untuk orang yang buta arah seperti saya, sebenarnya daerah ini agak membingungkan. Ada satu titik yang kami lewati adalah perbatasan Bandung Selatan dan Bandung Barat. Kami juga sempat berhenti di sebuah kawasan hutan pinus dan melihat daerah berair yang menurut Elfa adalah Waduk Saguling. Oh ternyata, Gunung Padang ini berada di wilayah perbatasan Ciwidey dan Cililin.
Setelah perjalanan sekitar 45 menit kami sampai ke pintu masuk dan membayar tiket Rp. 3000. Kami memasuki Wilayah wana wisata SPIRITUAL Gunung Padang. Dari cerita orang setempat di warung, ternyata memang banyak orang yang datang ke sana, semedi sampai tujuh hari tujuh malam. Oh, batu-batu itu juga tempat bertapa toh.
Gunung Padang. Pukul 11.00
Sebenarnya daerah bernama Gunung Padang di Jawa Barat ini berada di tiga tempat yaitu Gunung Padang Di Cikoneng Ciamis diduga berkaitan dengan Makam Keramat Kerajaan Galuh, Situs Megalitikum di Kabupaten Cianjur dan Gunung Padang di Rawabogo, Kabupaten Bandung ini. Dari hasil browsing, Gunung Padang dalam mitos sejarah sunda Ciung Wanara disebut-sebut sebagai tempat meditasi Prabu Sang Premana Dikusuma, Raja Kerajaan Galuh.
Gunung Padang secara harfiah dapat diartikan dengan Gunung yang terang benderang. Tetapi, jika dikaitkan fungsinya sebagai wana wisata spiritual, Gunung Padang dapat berarti kepribadian yang jelas.
Dari segi geografi, Wana wisata Spiritual Gunung Padang/ Negara Padang terletak di Gunung Padang / Pasir Pamipiran, berada di ketinggian 1224 m dpl. Gunung ini merupakan bagian dari rangkaian pegunungan di Bandung selatan yang terbentuk pada zaman Miosen. Gunung ini hasil dari erupsi dalam (inner-eruption) dari gunung berapi pada zaman tersebut.
Batu-batu besar yang terlihat sekarang adalah batuan magma beku yang muncul karena pengikisan akibat perubahan cuaca dalam jangka panjang. Secara alamiah, batuan tersebut membentuk komposisi batuan yang bertingkat. Dihubungkan dengan fungsinya sebagai situs spiritual, kepercayaan setempat kemudian membaginya menjadi 17 tingkat yang menggambarkan siklus hidup manusia.
Tingkatan tersebut secara umum menggambarkan tiga fase siklus hidup.
Fase A: Kelahiran dan Masa anak-anak.
1. Cikahuripan
2. Lawang Saketeng
Lawang Kadua
3. Batu Palawangan Ibu
4. Batu Paibuan
5. Batu Panyipuhan
6. Batu Poponcoran
Fase B: Masa Dewasa
7. Batu Kaca Saadeg
8. Batu Gedong Peteng
9. Batu Karaton
10.Batu Kutarungu
Fase C: Masa Kebijaksanaan
11. Masjid Agung
12. Batu Bumi Agung
13. Batu Korsi Gading
14. Batu Pakuwon Prabu Siliwangi
15. Batu Lawang Tujuh
16. Batu Padaringan/ Leuit Salawe Jajar
17. Puncak Manik
Orang-orang yang ziarah akan didampingi kuncen untuk meditasi di 17 belas tingkat tersebut. Tujuan seharusnya adalah mengenal diri sendiri hingga akhirnya bersatu dengan Tuhan dan alam, tapi entahlah apa motivasi tiap peziarah yang datang sekarang. Dan walaupun motivasi kami -yang ikut jalan-jalan- kali ini berbeda-beda, tapi dapat dipastikan kami datang bukan untuk berziarah, hehe. Kami tidak mengunjungi keseluruhan 17 tingkat, karena lokasinya acak dan bertebaran. Tapi, kami dituntun Elfa untuk mampir ke 9 tempat, 5 diantaranya sebagai berikut:
- Batu Lawang Saketeng. Berbentuk seperti gapura, merupakan pintu masuk yang menggambarkan kesadaran akan eksistensi sebagai manusia dan hubungannya dengan Tuhan serta alam semesta. Sesuai namanya, lawang ini sangat sempit. Tapi tenang, Pak Moro aja masuk kok, hehe
- Batu Palawangan Ibu. Komposisi batu di tempat ini membentuk konfigurasi seperti saluran (maaf) vagina, mengingatkan kita pada proses kelahiran. Saya sendiri kurang berimajinasi, masih bingung apakah terlihat demikian.
- Batu Poponcoran. Konfigurasi batu membentuk jalur untuk dilewati orang. Bagi peziarah, Poponcoran adalah ujian terakhir dari Fase A, sebagai simbol dia siap masuk ke tahap selanjutnya.
- Batu Kaca Saadeg. Merupakan batu vertikal yang mirip dengan cermin, merupakan momen untuk refleksi diri.
- Batu Mesjid Agung
Ada tiga tempat yang berada di puncak gunung , Mesjid Agung merupakan puncak ke 1. Kami harus manjat-manjat sedikit untuk sampai ke puncak. Semua bisa naik ke atas, bahkan Ulu yang tangannya masih tertempel pen bekas kecelakaan. Dan.. Subhanallah. We O We ... WOW.. kami bisa melihat ke delapan penjuru mata angin. Tanpa harus menjadi peziarah, di atas saya bisa menyadari Kuasa Tuhan. Dari puncak terlihat waduk Saguling lebih jelas, gunung-gunung di daerah barat dan selatan, sawah-sawah, menebak-nebak yang manakah Gunung Patuha beserta Kawah Putihnya. Sadar woi.. manusia itu kecil. Hmm..betah deh diem di situ.
Keterangan -yang sok ilmiah- dari saya di atas sebagian besar dikutip dari Paper Pak Stephanus Djunatan yang dipresentasikan di The 2nd Annual Conference for the International Association for Comparative Mythology (IACM), Ravenstein The, Netherlands, 19 – 21 Agustus 2008. Hanya secuil-secuil informasi yang saya cantumkan dan terjemahan ngasal, jika ingin membaca lebih lengkap bisa diunduh di http://www.iacm.bravehost.com/DJUNATAN.pdf
Di kesemua tempat tersebut, terdapat bukti-bukti bahwa ada peziarah yang datang. Hampir di semua tempat ada bekas kelapa muda, bau menyan ngahiliwir, dan sisa-sisa makanan seperti wafer, rujak, kopi, heuheu.. (Ada yang nyeplos, belom dimakan ama jinnya....wew). Satu hal yang disyukuri banget, hari minggu itu cuaca cerah. Kalau hujan, jalannya akan licin dan beresiko jatuh di bebatuan.
Perjalanan pulang, kebalikan dari pergi. Turun terus, jadi kerasa banget betis dan paha sakit. Sekitar jam 2, kami sudah kembali ke tempat parkir mobil, numpang shalat di Mesjid daerah itu sementara perut kekerebekan minta makan. Tapi di daerah Ciwidey gak ada tempat makan yang recommended. Sementara ganjel aja sama yang ada.
Bakso Mang H. Donal, pukul 15.30
Sesuai saran Linda dan Mbak Rina yang penasaran seperti apa Es Sunami yang katanya enak, kami mampir makan sore di Bakso Mang Haji Donal. Menu utamanya bermacam-macam bakso, tapi ada juga bubur ayam, pempek dan nasi goreng. Karena telat makan siang jadi habis cepat saking lapernya hehe, untung sakit maag nya Fani pagi harinya gak kambuh ya..
Saya lupa, ada yang pesen es sunami? Gimana enak?
Jalan Ganesha, pukul 17.00
Sampai di Bandung, sekitar jam 5 sore. Sempet ada kata penutup dari Ulu dan bersyukur banget hari itu cerah sekali. Tak ada yang ngaku nyarang hujan, walaupun mungkin payung ungu punya Ulu adalah penangkal hujan. Saya sih percaya doa kami pagi hari agar tidak hujan dikabulkan oleh Allah SWT. Acara jalan-jalan ditutup dengan foto bersama. Wilujeng patepang deui..
Dari saya, maaf reportasenya mirip curhat di blog sendiri. Gpp kan? Saya seneng bisa kenalan ama temen-temen baru, yah ga sempet ngobrol ama semua sih. Tapi ada 3 apoteker loh yang ikut jalan-jalan (Tika, Rani, Rina), trus Ada Fani Ibu guru ex Wiga MAhanagari, Pak Moro yg dosen TI Unjani, trus Embe -kurban atau office boy sih? hehe-, Viky yang rute kerjanya Uber-Banjaran, Linda yang segala tempat dia hafal, Elfa dan Oka yang kaya cecak yang nempel di dinding, Hadi yang berbahasa Jawa, Dimas yang pendiam, Jesis dan Ulu, hmm.. tukang ngaleut tea, pasti pada kenal, hehe.
Satu lagi, kalau Ulu bersedia ngatur, kita ke situs Megalitikum yang di Cianjur yux?? Hehe
Hatur nuhun Mahanagari.
| < Prev | Next > |
|---|





Comments
Sipp lah..
Pami hoyong update info jadwal 'jalan-jalan Mahanagari' mangga atuh ngiringan mailing list mahanagari di mahanagari@yaho ogroups.com
Dijamin moal tinggaleun info. Salam,
Benben
Hatur nuhun pisan sharing impona, seru euy... Ajak-ajak nya pami aya deui...
salam,
mangkum
RSS feed for comments to this post.