PDFPrint

 

Dilema Angkot Bandung, Primadona yang Dicela

02-02-2010 | Dimas Sandya Pernah mampir ke Bandung? Atau pernah tinggal di Bandung? Pasti kenal dengan yang namanya angkot alias angkutan kota. Sesuai dengan namanya, angkot adalah alat transportasi perkotaan yang memiliki rute tetap tanpa memiliki jadwal keberangkatan atau pemberhentian yang pasti. Umumnya setiap angkot hanya memiliki satu rute yang terkoneksi dengan jaringan transportasi di suatu kota, yang dijelaskan melalui label besar di bagian depan dan belakang angkot, yaitu mengenai asal-tujuan serta nomor trayek, tanpa ada penjelasan mengenai rute yang dilewati. Dalam sistem transportasi perkotaan, angkot dapat dikelompokkan sebagai angkutan paratransit, yakni angkutan umum yang merupakan penerus (feeder) dari sistem angkutan yang berada pada hierarki di atasnya dan memiliki kompabilitas yang tinggi dalam melayani sudut-sudut perkotaan. Hingga saat ini, angkot merupakan salah satu alat transportasi publik yang paling terkenal, tidak hanya di Bandung, tetapi juga hampir di seluruh kota di Indonesia. Alasannya sederhana, angkot dapat melayani pergerakan penduduk kota yang seringkali disibukkan dengan berbagai aktivitas, hingga ke berbagai sudut kota. Selain itu, jika dibandingkan dengan angkutan umum lainnya angkot memiliki banyak kelebihan, misalnya saja biaya perjalanan yang relatif murah, (terutama untuk jarak dekat), jangkauan pelayanan dengan aksesibilitas dan mobilitas yang tinggi, serta biaya perawatannya yang tidak mahal. Tak heran jika saat ini, di Bandung terdapat sekitar 5346 angkot yang masih setia beroperasi di 38 trayek demi melayani kebutuhan perjalanan warga kota Bandung untuk berhilir mudik setiap harinya. Bicara tentang angkot, tak melulu soal kemudahan akses dan transportasi. Lebih dari itu, angkot justru lebih dikenal dan diingat orang karena ketidaknyamanannya. Bahkan sudah menjadi rahasia umum kalau angkot identik dengan kesemrawutan lalu lintas, supir yang ugal-ugalan, udara panas tanpa AC, dan tempat duduk yang berdesakan. Ya, image angkot terlanjur melekat ...
+Baca terus ...

4 Trip Bersepeda di Bandung

20-07-2010 | Nurul Wachdiyyah Bersepeda di Bandung? Ayo aja! Memang kontur kota Bandung itu naik turun, namanya juga daerah pegunungan. Beda sama Jakarta. Nah tulisan ini dibuat oleh seseorang yang suka bersepeda dan tidak punya sepeda. Alhasil, kalau jalan-jalan bersepeda rute pilihannya yang super 'friendly' alias gak nanjak-nanjak amat. Waktu untuk bersepeda pun gak lama-lama amat. Cukup 2-3 jam. 1. Keliling Museum di Bandung Dari museum Konperensi Asia Afrika, museum militer di Mandala Wangsit Siliwangi, sampai ke museum sejarah tatar parahyangan di Sri Baduga. Start jam 8 pagi dengan estimasi di tiap museum 30 menit - 1 jam, maka antara pukul 12 - 1 siang acara bersepedanya beres. Tinggal pulang atau cari makan dan ngadem di bawah rindangnya pepohonan taman kota Bandung. 2. Puter-puter di kawasan (belakang) Gedung Sate. Nah disini juga rasanya gak kalah seru sama poin no 1 diatas. Bedanya, ya disini cuma bersepeda aja. Kegiatan selebihnya adalah, emmm, kuliner! hehehe. Ada sop buah pak Ewok, agak belakang ada timbel Istiqomah, terus ada toko coklat di Jl. Progo! Risoles di jl. Citarum. Whahahaha, makan melulu kapan bersepedanya :D 3. Bersepeda menyusuri sejarah Bandung. Wuih! Ada jalan Asia Afrika, jalan Braga, dan terus ke Balaikota Bandung dan nongkrong disana. Dari rumah bawa bekal makanan & di Balaikota tinggal dimakan. 4. Kawasan jalan-jalan wayang di sekitar Pajajaran, sebuah wilayah segitiga emas, dikelilingi jalan Arjuna, Aruna, dan Pajajaran. Jalan-jalan kecil ini adalah jalan Bima, jalan Barata, jalan jalan Satrugna, dst. Perhatikan rimbunnya pepohonan di sepanjang jalan-jalan ini. Hwuaaaa cantiknyaaa! Pohon Angsana melulu tuh. Kalau bunganya sudah mekar, tinggl berguguran aja deh :D oh indahnya bersepeda sambil diguyur bunga-bunga angsana yang kuning cantik itu... Ayo yang biasa bersepeda di Bandung, ada yang mau nyumbang pengalaman jalan-jalan bersepedanya di Bandung? ...
+Baca terus ...

Rafting di Sungai Palayangan

22-10-2008 | Nurul Wachdiyyah Musim hujan enaknya olahraga apa ayoo? ... Arung jeram! Rekomendasi yang cukup asik untuk berarung jeram di Bandung adalah sungai Palayangan. Sungai Palayangan menjadi pilihan terbaik kegiatan arung jeram di Bandung. Debit air yang stabil sepanjang tahun & pemandangan yang indah dengan jarak cukup dekat menjadi nilai tambah sungai Palayangan ini. Terletak 45 Km di Selatan Bandung, tepatnya di kota Pangalengan yang terkenal sebagai daerah penghasil susu dan sayuran. Titik start kegiatan arung jeram sungai Palayangan berada di tempat wisata Situ (situ=danau) Cileunca yang berada pada ketinggian 1200 M diatas permukaan laut dengan suhu antara 12 C – 20 C. Situ Cileunca merupakan danau buatan dengan luas lebih dari 14.000 Ha, dikelilingi oleh hutan pinus, perkebunan teh dan sayuran menjadi sumber utama air Sungai Palayangan. Pada kondisi normal, bukaan pintu air adalah 2 M3 perdetik, sedang pada musim hujan dengan volume air yang melimpah bukaan pintu air dapat mencapai lebih dari 4 M3 perdetik. Pada awalnya sungai Palayangan hanya difungsikan sebagai sarana 'pengangkut' air dari Situ Cileunca menuju PLTA. Sama halnya dengan Situ Cileunca, sungai Palayangan juga sungai buatan. Bentukan sungai Palayangan yang berbatu-batu dengan air yang mengalir lumayan deras memberikan berkah yang lain bagi para penduduknya. Yakni wisata arung jeram. Walaupun relatif sempit, Sungai Palayangan tergolong pada sungai dengan tingkat kesulitan Class III - IV. Dengan lintasan pengarungan sepanjang 5 Km pada gradien 30o - 65o, kegiatan arung jeram di Sungai Palayangan mampu memberi tantangan yang menjanjikan, tidak hanya bagi pemula namun juga bagi rafter yang pernah mengikuti kegiatan arung jeram. Arung jeram di Palayangan akan menghabiskan waktu sekitar 45 menit - 1 jam. Air sungai Palayangan ini cukup bersih, karena Air Sungai Palayangan ini suatu saat ketika sudah sampai di Bandung, akan diolah oleh PDAM Bandung menjadi air bersih untuk diminum warga Bandung. Jadi kalau keminum sedi...
+Baca terus ...

Geowisata Bandung Selatan

27-01-2010 | Nurul Wachdiyyah Jalan-jalan. Tema yang sedang jadi tren hampir dua tahun belakangan ini di Bandung. Tema jalan-jalan yang saat ini sedang berlangsung di Bandung adalah Geowisata karena perdua-bulannya diselenggarakan oleh TRUEDEE, sebuah Penerbit di Bandung. Loh kok penerbit? Iya. Mereka adalah penerbit buku berjudul Wisata Bumi Cekungan Bandung (WBCB) yang jadi pedoman jalan-jalan yang bertemakan GEOTREK. Jalan-jalannya dipandu oleh penulis buku tersebut, yaitu T. Bachtiar (TB) dan Budi Brahmantyo (BB). Keduanya adalah dedengkot geografi, geologi, dan budaya di Bandung. Sebenarnya masih banyak yang jadi ahlinya kedua bidang diatas, hanya saja bapak-bapak tersebutlah yang aktif mendekati masyarakat umum melalui acara jalan-jalan. Geotrek adalah rute perjalanan menyusuri beberapa kawasan tertentu yang saling terhubung satu sama lain. Lintasan yang dilalui  mengandung unsur sejarah hunian dan budaya kawasan, asal usul kawasan, serta bentukan geologi dan geografi. Wisata geotrek ini bernama Geowisata. Selain menggunakan kendaraan umum, hampir setengahnya dari Geotrek dilakukan dengan berjalan kaki. Karena itu, kondisi tubuh yang sehat itu syarat mutlak kalau ikutan jalan-jalan model gini. Buku ini memuat sembilan trek Geowisata. Truedee mengajak masyarakat umum untuk cicip jalur Geotrek yang terdapat dalam buku berhalaman 276 ini. Geowisata geotrek I dilakukan pada bulan Agustus 2009. pada akhir tahun 2009, Truedee kembali menyelenggarakan geowisata geotrek II. Tujuannya adalah Bandung selatan, yaitu kawasan Gunung Puntang di lereng Gunung Malabar dan Pangalengan. Pagi pukul 6.28 jalan Ganesa depan kampus ITB sudah ramai oleh kerumunan orang. Salah satunya kelompok Geotrek II. Kami diminta kumpul setengah tujuh pagi. Keberangkatan menuju Pangalengan dijadwalkan pukul 7 pagi. Jumlah pesertanya mencapai 60 orang dan dua minibus siap mengangkut kami menuju tempat lokasi. Bandung hari sabtu pagi, tidak terlalu ramai. Bahkan terusan Buah Batu juga bisa dilewati dengan cukup mulus. Sa...
+Baca terus ...

Jalan-jalan Menghirup Aroma Teh Pangalengan

06-08-2009 | Zahra Fatimatuz Kali ini jalan-jalan Mahanagari (27/06/09) arahnya ke selatan Bandung, ke sebuah kabupaten bernama Pangalengan. Tur kali ini bertemakan Teh Pangalengan karena selama perjalanan akan mengunjungi beberapa tempat yang menyangkut teh. Tapi sebenarnya ada kegiatan yang tidak berhubungan dengan teh juga. Jadwal jalan-jalan hari ini ada lima tempat. Pertama ke PLTA Lamajan, lalu ke Perkebunan Teh Malabar, lanjut ke makam dan rumah Bosscha, terus ke pabrik teh, dan diakhiri dengan berendam air panas di hot spring Cibolang. Perjalanan kami dimulai dari meeting point yaitu di taman Ganesha. Setelah absen, kenalan, dan mengumpulkan peserta (yang berjumlah 26 orang), brummm…kita berangkaatt! Awal perjalanan masih belum 'panas', pemandangan masih berupa jalan tol. Semua orang masih ngantuk nampaknya, jadi pada tiduuurr…grok… Mulai seru waktu kami sampai di daerah selatan, waktu pipa kuning besar mulai kelihatan. Tour guide kita, Teh Linda mulai cerita tentang si pipa kuning ini. Jadi, pipa kuning yang melintang di bukit itu adalah pipa yang mengalirkan air dari PLTA Lamajan. PLTA Lamajan dan Pipa ini dibuat oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1825 untuk mengalirkan air dari PLTA dan menggerakkan turbin yang menghasilkan listrik. Sampai sekarang, PLTA Lamajan dan si pipa kuning ini masih dipakai untuk menyediakan listrik untuk wilayah Jawa dan Bali. Kondisinya masih 95% oke, hebat yah! Yang sudah pernah lihat, pasti tahu kalo pipa kuning ini panjaaanggg dan ada di bukit. Nah, cara pegawai melakukan maintenance dari kantor adalah dengan naik Lori ke bawah si pipa. Untuk mencek si pipa ya jalan naik tangga, yang jumlahnya 1200 anak tangga. Wooo….kebayang jaman dulu, udah mah naik tangga segitu banyak, ngecek pipa segitu gede, ga ada teh botol dingin pula kan buat nyenengin tenggorokan. Orang jaman dulu emang hebat-hebat… Lori itu apa sih? Lori itu kereta kecil, seperti delman. Bedanya tidak menggunakan tenaga kuda melainkan menggunakan rel dan mesin. Sedangk...
+Baca terus ...

Jadwal Kegiatan

<<  September 10  >>
 Mo  Tu  We  Th  Fr  Sa  Su 
    2  3  5
  6  7  8  9101112
13141516171819
20212223242526
27282930   

Translate This Page

Indonesian Arabic Chinese (Simplified) Dutch English Filipino French German Hindi Italian Japanese Korean Malay Portuguese Russian Swahili Thai Vietnamese
Facebook Image
- - Contact Us - - About Us - - Jobs - - Help and FAQ - -
JoomlaWatch Stats 1.2.9 by Matej Koval