PDFPrint

 

Dago Pakar Ternyata Banyak Ceritanya!

24-11-2008 | Ben Sudarmadji   Hari Minggu 3 Juni 2007, saya sengaja membawa anak dan istri trial run Tour Dago Pakar yang diadakan Opa Felix dan Mahanagari. Sebenarnya saya sejak kecil (awal 80-an) suka main main ke Hutan Dago Pakar (TAHURA Ir. H. Djuanda), namun baru kali ini jalan-jalan ke sana dengan sebuah perspektif baru yang bisa di bawa pulang ke rumah. Karena selain jalan-jalan lihat alam, Opa Felix menyempatkan menceritakan sejarah Dago Pakar yang ternyata sudah hampir setua sejarah perlistrikan di Bandung. Kata Opa, pada awal berdirinya Kota Bandung, kebutuhan penerangan kota Bandung masih mengandalkan lampu gas yang pabriknya gas-nya di Kiara Condong. Seiring dengan kemampuan ekonomi dan teknologi kota Bandung yang makin canggih, kemudian diliriklah wilayah dago pakar yang memiliki potensi tenaga air sungai yang cukup melimpah (untuk ukuran wilayah bandung saat itu) sebagai sumber tenaga alternatif. Singkat cerita, para insinyur belanda, mulai membuat jalur air yang dialirkan dari sungai Cikapundung ke semacam danau/water cachement di Dago Pakar (tempatnya mudah ditemukan, belok kiri sebelum sampai di tempat parkir Tahura). Ada yang bilang Goa Belanda sebenarnya adalah bagian dari rencana awal saluran air tersebut, tapi yang pasti akhirnya dibuat dan digunakan saluran air besar di bawah tanah antara goa belanda sampai ke danau/water cachement Dago tadi. (gak banyak yang tau kan kalo ternyata ada saluran air besar di bawah Tahura?) Ada cerita dari Tour guide lokal di sana bahwa si Goa Belanda yang bentuknya mirip trisula ini, banyak memakan nyawa inlanders dalam pembuatannya. Selain karena tidak diberi jatah makanan cukup, harus tidur di dalam penjara di dalam goa yang dingin dan lembab, juga karena prinsipnya "orang yang mengetahui rahasia strategis Belanda, tidak boleh keluar hidup-hidup!". Tapi kata dia juga, di Goa Belanda mah gak ada jurig (hantu), karena Standard Operating Prochedure tempat wisata itu adalah "dilakukan pembersihan dari segala jurig yang mungkin men...
+Baca terus ...

Siapakah Salah Satu Orang dibalik Indahnya bangunan – bangunan Kolonial di Bandung ?

17-07-2009 | Galih Mulya Nugraha Dia adalah Charles Prosper Wolf Schoemaker kelahiran tahun 1882 di Banyubiru, Salatiga Jawa Tengah. Entah apa jadinya kalau dia meneruskan karirnya di dunia militer. Karena latar belakang keluarganya keturunan militer, Schoemaker sempat mengenyam pendidikan militer dan menjadi letnan serta bekerja di korps Angkatan Darat kerjaan Belanda. C. P. Wolf Schoemaker memulai karirnya di Hindia Belanda sebagai Insinyur dalam kemiliteran, sebelum akhirnya menjadi Profesor di Technise Hogeschool Bandoeng (ITB sekarang).Tahun 1912-1913, karir rancang-bangunnya dimulai di Batavia saat Schoemaker merancang Rumah Sakit Gementee Batavia (sekarang RS. Ciptomangunkusumo). Sejak saat itu pria yang pernah menikah sampai 5 kali ini berpindah-pindah tempat kerja. Mulai dari kantor Moojen&Company. Hasil karyanya adalah stasiun kereta api kecil, komplek bengkel kereta api di Madiun, sampai menara air di Surabaya. Tahun 1914-1917, Schoemaker kembali ke pangku pemerintahan. Dia bekerja di departemen PU Gementee Batavia dan kali ini statusnya adalah direktur. Pasar hingga perencanaan bagian kota Batavia secara umum pernah dirancangnya. Tak lama, arsitek yang punya banyak julukan ini beralih ke perusahaan bernama Carl Shclieper & Company yang bergerak di bidang alat-alat teknik dan permesinan. Karena tugas, Schoemaker sempat tinggal cukup lama di Amerika untuk studi banding. Bulan mei tahun 1918, dia kembali ke tanah air dan memutuskan untuk tinggal dan bekerja di Bandung. Pada tahun 1921, Sekolah Tinggi Teknik Bandung (sekarang ITB) dibuka. Schoemaker mulai bekerja sebagai dosen disana mengajar mata kuliah Sejarah Arsitektur. Tahun 1924, laki-laki keturunan Jerman ini bergelar profesor di bidang pendidikan arsitektur. Gelar tersebut menyandang namanya hingga tahun 1941. Selain itu dia juga mendirikan biro arsitektur yang terkenal pada masanya, C. P Schoemaker en Associate Architecten en Ingenieurs. Bersama dengan salah seorang anak didik dan asistennya yang juga Proklamator Indonesia, I...
+Baca terus ...

Pepohonan Pinggir Jalan Kota Bandung

26-05-2010 | Ismail Agung Jalan-jalan di Kota Bandung, hmm seru nih. Tapi sekarang kalau jalan-jalan di Bandung cuacanya jarang adem. Malah seringnya kepanasan. Hari gini panas-panasan bisa kena kanker kulit. Nah, enaknya sih jalan-jalan ke tempat teduh, yang banyak pohonnya. Tapi tahu nggak, pohon apa saja sih yang biasanya ditanam di sekitar jalanan kota Bandung. Ini dia: 1. Angsana (Pterocarpus indicus). Pohon yang rata-rata umurnya 15 tahun ini punya bunga warna kuning dan mengeluarkan harum yang semerbak. Pohon Angsana termasuk ke dalam pohon yang perakarannya baik dan dapat mengikat nitrogen, mampu membantu memperbaiki kesuburan tanah. Karena tajuknya yang rindang, Angsana juga populer sebagai tanaman peneduh dan penghias tepi jalan di perkotaan. Akan tetapi pohon-pohon Angsana yang ditanam di tepi jalan, kebanyakan berasal dari stek batang yang berakar dangkal, sehingga mudah tumbang. Lagipula, pohon-pohon peneduh yang sering mengalami pemangkasan akan menumbuhkan cabang-cabang baru (trubusan) yang rapuh dan mudah patah. 15 %nya saja yang ada dalam kondisi baik. Pohon yang ditanam sekitar tahun 1990 ini kondisinya sudah cukup mengkhawatirkan. Beberapa diantaranya sudah rapuh dan meranggas karena terserang penyakit sehingga harus ditebang. Kalau di Bandung, pohon Angsana bisa dilihat di jalan Diponegoro dan beberapa ruas jalan lainnya. 2. Mahoni (Swietenia macrophylla), Pohon ini yang paling banyak ditanam setelah pohon Angsana. Beberapa diantaranya baru ditanam untuk menggantikan pohon Angsana yang sudah ditebang. Perawakannya yang kokoh serta permukaan daun yang menonjol seperti otot perut mengesankan bahwa pohon ini sangat gagah. Pohon Mahoni cocok sebagai tanaman peneduh jalan karena berumur tahunan, tidak mudah terkena hama atau penyakit, tidak mudah tumbang dengan struktur kayu yang kuat, tumbuh lurus ke atas dengan tajuk tinggi di atas batas ketinggian kendaraan. Pada saat memasuki pertengahan musim kemarau, pohon mahoni seperti juga pohon jati sering merontokkan daun-daun ...
+Baca terus ...

Menapaki Situs Megalitikum Gunung Padang Ciwidey

27-01-2009 | Swestika Swandari Berikut adalah cerita jalan-jalan geng Mahanagari ke Gunung Padang Ciwidey hari Minggu tanggal 30 November 2008. Kami kesana untuk melihat batu-batu yang konon dianggap sebagai situs megalitik. Acara jalan-jalan ini saya publish hanya di milis Mahanagari dan disebar via sms ke temen-temen yang saya kenal dan mereka yang udah nitip "Lu, kalo mau jalan-jalan kasitau, ya!", seraya memberikan nomer hpnya. Jadi ayo ikutan milis Mahanagari hehehe Sebelum baca cerita yang ditulis oleh teman Mahanagari yang baik hati dibawah ini, saya cerita dulu dikit. Ide ke Gn Padang Ciwidey ini datang dari temen saya yang bernama Cindy. Daripada dikitan yang kesana, mending rame-rame. Katanya the more the merrier. Jadilah saya ajak pak Bachtiar, pakar geograf yang gaul itu. Pak Bachtiar antusias setuju ikutan meski di hari-hari terakhir beliau membatalkan kehadiran karena urusan keluarga. Dua temen baru dari Jantera (PA-nya jurusan Geografi UPI. Klik disini) rekomendasi pak Bachtiar juga saya ajakin. Di bumi Jawa Barat ini ada tiga Gunung Padang. 1. Gunung padang Cianjur. Situs ini beken sekali. Banyak orang yang tahu keberadaan Gn Padang di Cianjur tapi gak tahu sama sekali mengenai Gunung Padang di tempat lain. 2. Gunung Padang Ciwidey. 3. Gunung Padang Ciamis Pada awalnya saya bertanya-tanya, kenapa namanya Gn Padang. Padang kan dalam bahasa Jawa, artinya terang. Gn. Padang Ciwidey atau Cianjur atau Ciamis kan di tanah Sunda. Kenapa mesti pake nama Padang, kenapa gak gunung Caang aja. Wakwaww... Setelah buka kamus, Dalam bahasa Sanskerta, Padang artinya caang alias terang. Dari kamus Basa Sunda yg disusun oleh R.A Danadibrata, Padang artinya: 1. Dalam bahasa Indonesia: tegal, lapangan 2. Dalam bahasa Sanskerta: caang (terang) 3. Kecap panganteb kana caang (kalo dikira-kira ini artinya adalah: caang pisan/terang sekali) Cerita lengkapnya baca dibawah ini. Hatur nuhun ka sadayana. Kemarin itu asik banget. Sampai ketemu lagi di jalan-jalan berikutnya. -ulu- JALAN-JALAN KE GUNU...
+Baca terus ...

Keliling Museum di Bandung (I) : Museum Geologi

16-10-2009 | Bang Aswi Pernahkah membayangkan bagaimana rasanya jika diri sendiri yang mengalami petualangan tokoh yang diperankan oleh Ben Stiller pada film “Night at Museum”? Atau, menikmati perburuan harta karun sekaligus belajar sejarah bersama tokoh yang diperankan Nicolas Cage pada film “National Treasure”? Ya, andai saja kita bisa menikmati sejarah sebegitu gamblangnya seperti dalam film-film tersebut, tentu semua orang di dunia ini akan lebih menyukai sejarah. Akan tetapi, kita bisa belajar sejarah dari peninggalan yang berhasil dikumpulkan dan dikoleksi. Ini jauh lebih menyenangkan daripada hanya belajar dari teks-teks buku yang mungkin akan mengerutkan kening. Dan salah satu tempat yang bisa menyediakan semua informasi sejarah itu adalah museum. Di Indonesia, museum yang pertama kali dibangun adalah Museum Radya Pustaka. Selain itu, ada pula Museum Gajah yang dikenal sebagai yang terlengkap koleksinya di Indonesia. Sedangkan Bandung, sebagai kota pariwisata yang kini lebih dikenal akan jajanan khas dan FO-nya, juga memiliki beberapa museum yang layak untuk disinggahi. Bukan hanya Museum Geologi yang sudah sangat terkenal, tetapi juga beberapa museum lainnya seperti Museum Pos Indonesia, Museum KAA, Museum Mandala Wangsit Siliwangi, Museum Sri Baduga, Museum Virajati Seskoad, dan Museum Barli. Museum Geologi Keberadaan Museum Geologi berkaitan erat dengan sejarah penyelidikan geologi dan tambang di wilayah Nusantara yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17 oleh para ahli dari Eropa. Setelah di Eropa terjadi revolusi industri pada pertengahan abad ke-18, mereka sangat membutuhkan bahan tambang sebagai bahan dasar industri. Pemerintah Belanda sadar akan pentingnya penguasaan bahan galian di wilayah Nusantara. Dengan jalan itu diharapkan perkembangan industri di Belanda dapat ditunjang. Maka dibentuklah Dienst van het Mijnwezen pada 1850. Kelembagaan ini berganti nama jadi Dienst van den Mijnbouw pada 1922, yang bertugas melakukan penyelidikan geologi dan sumberdaya min...
+Baca terus ...

Jadwal Kegiatan

<<  September 10  >>
 Mo  Tu  We  Th  Fr  Sa  Su 
    2  3  5
  6  7  8  9101112
13141516171819
20212223242526
27282930   

Translate This Page

Indonesian Arabic Chinese (Simplified) Dutch English Filipino French German Hindi Italian Japanese Korean Malay Portuguese Russian Swahili Thai Vietnamese
Facebook Image
- - Contact Us - - About Us - - Jobs - - Help and FAQ - -
JoomlaWatch Stats 1.2.9 by Matej Koval