Home
Menyusuri Sungai yang Membelah Asia Afrika
26-04-2010 | Natasha Dilla
“Malam ini aku harus tidur cepat”, pikirku setelah menunaikan ibadah solat isya. Terdengar ketukan seseorang di pintu kamarku. Ternyata ibuku. “Mau dibikinin apa buat besok?”, tanya beliau. “Emm.. apa aja lah!”, jawabku sekenanya. Tiba-tiba ibuku mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan dari dompetnya, “Nih, beli makanan kecil atu jig di Alfa buat besok!”. Segera aku melompat dan menyambar lembaran uang kertas tersebut dari tangannya. Air mineral, sebotol Love Juice, keripik Lays, kue kesukaan widi (kebetulan aku juga suka), dan permen adalah beberapa item yang kubeli untuk perjalanan aleut besok. Besok, kami akan menyusuri Sungai Cikapundung, mulai dari Babakan Siliwangi sampai Curug Dago. Setelah menyetel alarm di hape, aku segera memejamkan mata. Terdengar alunan musik ”Dew” dari hapeku. Aku bangun dari tempat tidur dan hendak memasak air panas untuk mandi. Sesampainya di dapur, aku melihat ada seseorang yang telah mendahului niatku itu. Ibuku yang melakukan hal itu rupanya. Tanpa basa-basi, aku segera kembali ke kamar, tidur lagi.... Zzzzz. Pukul lima subuh, aku mandi. Setelah sarapan ala kadarnya, aku berangkat menuju Sumur Bandung Straße Nummer vier. Di depan jalan, terlihat chaching sudah menungguku ditemani ayahnya. Setelah berbasa-basi mengenai keterlambatanku, kami segera menyetop angkot menuju kediaman sang koordiantor aleut. Terlihat sekumpulan orang memenuhi halaman kediaman sang koordinator. ”Assalammualaikum.” teriakku ketika sampai di dekat kerumunan tersebut. ”Dik, dari Unpad ya?” kelakar Bang Ridwan, salah seorang dari kerumunan tersebut. ”heheh.. iya, Pak” jawabku singkat. Kami dikumpulkan dalam sebuah lingkaran kecil di halaman rumah Ayan, koordinator Aleut. Berdoa adalah hal yang wajib dilakukan sebelum mengerjakan sesuatu. Kamipun berangkat menuju tujuan pertama, ”Circle K”. Bagi teman-teman yang hendak membeli perbekalan, sekaranglah saatnya. Setelah sempat berfoto di depan halaman ”Circle K”,...
+Baca terus ...
+Baca terus ...
Satu Jam Di SWARHA
25-11-2008 | Nurul Wachdiyyah
Pernah lewat jalan Asia Afrika? bagaimana dengan Alun-alun Bandung? Kalau pernah, sadarkah kalian akan gedung di sebelah Masjid Agung? GTepatnya belakang masjid Agung. Gedung empat lantai ini terletak dipojok kiri jalan Asia Afrika. Dia berdiri cuek tak terurus dan seluruh lantai dasarnya kini bergiat sebagai ruko. Nama salah satu toko di ruko itu terbaca jelas karena size fontnya dicetak raksasa bertuliskan: INDRA, MAHAL UANG KEMBALI. Awalnya saya diajak survei rute Bandung Lautan Api oleh teman-teman dari Bandung Trails. Setelah berhasil masuk Kantor Pos tanpa ijin dan mengendap-ngendap mirip maling, secara mendadak kami jadi kepingin nyobain masuk gedung didepannya, yaitu gedung SWARHA. Izinnya tidak berlama-lama dan tanpa surat pengantar. Kami cukup masuk ke toko kain bernama INDRA dan menemui ibu Chandra, sang owner gedung SWARHA. Kami tahu pemilik bernama bu Chandra itu setelah bertanya ke orang-orang ruko. Setelah sekian lama cuma bisa memandang gedung SWARHA dari luar, dari jembatan penyebrangan jalan, dan dari foto-foto tempo dulu, akhirnya bisa masuk juga ke SWARHA. Tuhan memang adil. Terkadang saya jodoh sama beberapa hal. Cepat atau lambat. Langsung atau tidak langsung. Salah satunya ya SWARHA. Dari lantai 3 dan 4 gedung ini saya bisa melihat view bank Escompto (Mandiri) & Masjid Agung dari angle yang berbeda juga. Jadilah tiga perempuan sore itu, saya & Siesca plus Jessis dari Bandung Trails, diantar seorang bapak yang saya lupa namanya, keliling SWARHA. Mari kita namakan saja bapak itu: Bapak Yang Baik (YB) SWARHA terdiri dari empat lantai. Lantai dasar digunakan untuk berjualan sekaligus tempat tinggalnya ibu Chandra sekeluarga. Kami melangkahkan kaki menuju jalan masuk ke lantai satu. Berupa tangga yang konon menurut Bapak YB belum pernah diganti sejak SWARHA pertama kali dibangun. Kami berhadapan dengan pintu kamar, kamar no 101. "Wah ruang 101", kata Siesca kagum. Benar teman-teman, dulunya SWARHA ini memang berufungsi sebagai hotel. Para jurna...
+Baca terus ...
+Baca terus ...
Sejarah Situ Cileunca
22-10-2008 | Nurul Wachdiyyah
Dari sekian banyak danau buatan di sekitar Bandung, Situ Cileunca adalah salah satu yang masih bisa dinikmati keberadaannya. Seandainya Situ ini ada di tengah-tengah kota Bandung, mungkin nasibnya akan sama dengan Situ Aksan yang sekarang sudah jadi kawasan perumahan. Dalam bahasa Indonesia, Situ artinya danau. Menurut penduduk sekitar, dahulu banyak terdapat pohon Leunca di daerah yang sekarang jadi situ, karenanya danau tersebut dinamakan Situ Cileunca. Situ Cileunca terletak di Pangalengan, Bandung selatan. Danau ini merupakan danau buatan yang dibangun di atas kawasan milik pribadi seorang Belanda bernama “Kuhlan”. Belanda membangun Situ Cileunca selama tujuh tahun lamanya yaitu sejak 1919-1926 dengan membendung sungai disana. Luasnya sekitar 180 Ha. Selama pembangunan, Situ yang diapit oleh dua desa yaitu Warnaan dan Pulosari tersebut, Belanda menyewa dua orang pintar untuk bekerja sebagai mandor, yaitu juragan Arya dan Mahesti Maka. dapat dikatakan listrik pertama kali bisa dinikmati oleh penduduk dan para Pleangerplanters di Pangalengan. Dalam menjalankan usaha pabrik tehnya, mereka membutuhkan energi listrik. Oleh karena itu, salah satu alasan membangun bendungan Situ Cileunca adalah untuk membangun jaringan listrik untuk wilayah Pangalengan hingga Bandung. Air Situ Cileunca menjadi modal penggerak turbin tiga PLTA utama di Pangalengan melalui sungai buatan juga yang bernama sungai Palayangan. PLTA tersebut bernama Plengan, Lamajan, dan CiKondang. PLTA Plengan dahulu merupakan salah satu sumber listrik kota Bandung di jaman kolonial sekaligus sebagai cadangan sumber air bersih kota Bandung. Danau seluas lembah Gasibu Bandung ini memiliki kapasitas 9,89 juta m3 air. Saat ini selain untuk keperluan jaringan listrik, keberadaannya sering dijadikan sebagai objek wisata. Sekedar menikmati pandangan pegunungan dan perbukitan teh hingga berperahu hingga ke pulau seberang dan memetik buah arbei atau strawberry. Airnya yang mengalir di sungai Palayangan juga d...
+Baca terus ...
+Baca terus ...
Menapaki Situs Megalitikum Gunung Padang Ciwidey
27-01-2009 | Swestika Swandari
Berikut adalah cerita jalan-jalan geng Mahanagari ke Gunung Padang Ciwidey hari Minggu tanggal 30 November 2008. Kami kesana untuk melihat batu-batu yang konon dianggap sebagai situs megalitik. Acara jalan-jalan ini saya publish hanya di milis Mahanagari dan disebar via sms ke temen-temen yang saya kenal dan mereka yang udah nitip "Lu, kalo mau jalan-jalan kasitau, ya!", seraya memberikan nomer hpnya. Jadi ayo ikutan milis Mahanagari hehehe Sebelum baca cerita yang ditulis oleh teman Mahanagari yang baik hati dibawah ini, saya cerita dulu dikit. Ide ke Gn Padang Ciwidey ini datang dari temen saya yang bernama Cindy. Daripada dikitan yang kesana, mending rame-rame. Katanya the more the merrier. Jadilah saya ajak pak Bachtiar, pakar geograf yang gaul itu. Pak Bachtiar antusias setuju ikutan meski di hari-hari terakhir beliau membatalkan kehadiran karena urusan keluarga. Dua temen baru dari Jantera (PA-nya jurusan Geografi UPI. Klik disini) rekomendasi pak Bachtiar juga saya ajakin. Di bumi Jawa Barat ini ada tiga Gunung Padang. 1. Gunung padang Cianjur. Situs ini beken sekali. Banyak orang yang tahu keberadaan Gn Padang di Cianjur tapi gak tahu sama sekali mengenai Gunung Padang di tempat lain. 2. Gunung Padang Ciwidey. 3. Gunung Padang Ciamis Pada awalnya saya bertanya-tanya, kenapa namanya Gn Padang. Padang kan dalam bahasa Jawa, artinya terang. Gn. Padang Ciwidey atau Cianjur atau Ciamis kan di tanah Sunda. Kenapa mesti pake nama Padang, kenapa gak gunung Caang aja. Wakwaww... Setelah buka kamus, Dalam bahasa Sanskerta, Padang artinya caang alias terang. Dari kamus Basa Sunda yg disusun oleh R.A Danadibrata, Padang artinya: 1. Dalam bahasa Indonesia: tegal, lapangan 2. Dalam bahasa Sanskerta: caang (terang) 3. Kecap panganteb kana caang (kalo dikira-kira ini artinya adalah: caang pisan/terang sekali) Cerita lengkapnya baca dibawah ini. Hatur nuhun ka sadayana. Kemarin itu asik banget. Sampai ketemu lagi di jalan-jalan berikutnya. -ulu- JALAN-JALAN KE GUNU...
+Baca terus ...
+Baca terus ...
3 Tips Menghadapi Sopir Angkot di Bandung
30-04-2010 | Nurul Wachdiyyah
Katanya paling enak naik angkot di Bandung, karena kalau kemana-mana di bandung itu jaraknya dekat. Namun sayangnya, angkot di Bandung sering bermasasalah, yang paling kentara dan kerasa adalah masalah pelayanan supir angkot. Jadi supaya tegar ketika naik angkot, begini tipsnya: 1. Siapkan uang receh. Kemungkinan sakit hati ketika menerima uang kembalian yang kurang bisa diminimalisir. 2. Jangan berharap angkot tidak akan ngetem karena mereka akan ngetem. Pasti akan ngetem, sudah ada dalam SOp mereka. 3. Kalau angkot ngebut, sesuaikan dengan kebutuhan anda. kalau anda sedang buru-buru, bersyukurlah. Kalau anda merasa terganggu dengan ngebutnya si supir, segera ingatkan supir dengan kata-kata yang halus supaya mereka tidak marah dan makin ngebut. Disarankan untuk mencolek dan mengedipkan bulu mata kepada supir(hanya untuk wanita). ...
+Baca terus ...
+Baca terus ...


