khantry design

Bersantai Sejenak di Masjid Raya Cipaganti

PDFPrintE-mail

Bookmark and Share

Salah satu jalan terbaik dan jalan termacet di kota Bandung adalah Jalan Cipaganti. Pepohonan Mahoni dan Angsana yang rimbun di kanan kiri jalan menaungi aspal jalan yang relatif mulus. Sejuk adem rasanya ketika berjalan kaki menapaki jalan Cipaganti (ketika tidak macet). Menyusuri jalan Cipaganti kita tidak saja hanya akan menemukan penjual cireng yang enak, iga bakar yang lezat, atau bolu bakar yang yummy. Di jalan ini terdapat sebuah bangunan yang sarat akan sejarah. Bangunan tersebut adalah masjid yang nyaman dan asri. Suasana di dalam masjidnya sama seperti jalan Cipaganti dikala sedang tidak macet, sejuk dan adem. Masjid Raya cipaganti, begitulah namanya. Tidak sulit menemukan masjid ini karena letaknya tepat dipinggir jalan yang jadi jalur utama menuju Lembang. Selain kenyataan bahwa masjid ini umurnya lebih dari 80 tahun lebih, perancang masjid ini adalah seorang Nasrani. Arsitek asal Belanda.

Masjid Raya Cipaganti atau dahulu dikenal dengan nama Masjid Kaum Cipaganti merupakan masjid pertama yang berdiri di kawasan pemukiman Eropa di Bandung utara. Dahulu, pemerintah kolonial membagi Bandung menjadi dua zona : sisi utara diperuntukan bagi orang barat dan sedikit bangsawan pribumi, sedangkan bagian selatan Bandung adalah kawasan bagi kaum pribumi dengan pusat pemerintahan di Alun-alun bandung. Kawasan utara atau dikenal juga sebagai Een Westerns Enclave (kawasan pemukiman orang barat)  mempunyai tata ruang kota yang sangat teratur dan diadaptasi dari pemukiman yang ada di Eropa. Karena mayoritas penduduk di kawasan utara ini adalah orang-orang yang berasal dari Eropa maka kepercayaan yang dianut di kawasan ini mayoritas adalah nasrani. Sebaliknya Islam jadi kepercayaan minoritas hingga sarana peribadatan umat islam di wilayah ini tidak ada.

7 Februari 1933, bupati Bandung R.A.A Hasan Soemadipraja mendirikan sebuah tempat peribadatan bagi umat Islam di kawasan Cipaganti. Pembangunan masjid ini mendapat sambutan positif dari masyarakat, terutama dari para pemeluk agama Islam yang berada di kawasan Bandung Utara. Professor Kemal Wolf Schoemaker yang menjadi arsitek bangunan ini.

Dia adalah pria asal Belanda. Profesor Kemal Wolf Schoemaker merupakan arsitek kenamaan Belanda yang merancang bangunan hotel Preanger dan Villa Isola. Dalam rancangannya, Schoemaker menggabungkan konstruksi bangunan dan lampu gantung di tengah masjid yang bergaya Eropa. Dia juga memasukkan unsur-unsur etnik Jawa dan Arab pada interior bangunan masjid ini. Ornamen jawa terlihat pada ukiran-ukiran tembok yang berbentuk bunga atau sulur-sulur, sedangkan unsur arab terlihat dari dekorasi kaligrafi yang menghiasi masjid ini.

Di tengah ruang shalat, Empat tiang penopang yang dipadukan ukiran lafadz hamdallah dengan warna hijau tosca, warna ini sekarang susah sekali ditemukan. Perpaduan warna hijau dan biru laut, terlihat begitu indah. Dari segi konstruksi, terlihat jelas langgam arsitektur Eropa. Ini tampak dari penggunaan kuda-kuda segitiga pada interior atap tajugnya (horseshoe arches). Hal lain yang menarik dari bangunan ini adalah lampu gantung bergaya Eropa klasik, yang menggayut di tengah langit-langit ruang utama tempat shalat.

Ciri khas arsitektur Eropa yang mementingkan view,akan terlihat jelas dari arah jalan Sastra di depannya yang penuh dengan pepohonan rindang. Pemandangan bangunan masjid yang terbingkai indah dengan rimbunnya pepohonan, menjadi pemandangan yang sungguh luar biasa.

Pada awalnya masjid ini hanya terdiri dari satu bangunan utama, namun pada tahun 1954 masjid ini diperluas di sisi kanan dan kiri untuk menampung jemaah yang makin bertambah.

Karena letaknya yang ada di tepi jalan, masjid ini jadi cikal bakal penyebaran agama islam di kawasan Bandung Utara. Bahkan pada zamannya berkembang jadi pusat studi agama Islam. Jamaah masjid ini pada mulanya hanya masyarakat sekitar Cipaganti. Makin lama, banyak mahasiswa ITB berbondong-bondong beribadah disini (yang akhirnya memotivasi mahasiswa mendirikan Masjid Salman). Seiring berjalannya waktu, masyarakat dari berbagai wilayah lain turut menghidupkan suasana masjid ini.

Masjid Cipaganti pernah jadi markas Pembela Tanah Air (PETA) pada masa perjuangan merebut kemerdekaan. Para pejuang PETA membina dan menempa sisi spiritualnya di masjid ini sekaligus menyusun strategi meraih kemerdekaan.

Seiring perkembangan zaman dan pertambahan jumlah muslim di kawasan Bandung Utara, fungsi masjid ini meningkat. Selain jadi tempat ibadah, banyak kegiatan yang dilakukan pengelola masjid seperti pengajian ibu-ibu, pembinaan rohani bagi remaja dan pendidikan untuk anak-anak. Banyaknya pengunjung, didukung oleh suasana masjid yang nyaman dan teduh, membuat masjid ini tidak pernah sepi dari kegiatan, apalagi saat weekend atau liburan. Misalnya tabligh akbar, lomba-lomba seputar keislaman ataupun bazaar-bazaar yang menjual aneka macam barang. Selain masyarakat Bandung, banyak  wisatawan dari luar kota yang singgah di masjid ini entah hanya sekedar leyeh-leyeh, beristirahat dalam perjalanan, atau yang sengaja datang untuk mengujungi dan merasakan kenikmatan suasana sejarah di masjid Cipaganti.

Bicara tentang fasilitas, masjid ini mempunyai fasilitas yang cukup memadai seperti toilet, tempat wudhu, tempat penitipan barang, toko yang menjual aneka barang, termasuk penyediaan sarung bagi laki-laki ataupun mukena bagi wanita.

Masjid beralamat di jalan cipaganti no 85, terletak disebelah kiri jalan Cipaganti arah Lembang. Akses menuju masjid inipun terbilang mudah,hanya butuh beberapa menit perjalanan dari kawasan belanja Cihampelas, bagi pejalan kaki bisa berjalan melewati jalan Sastra, sedangkan untuk pengendara mobil dapat berputar di bawah jalan layang dan kemudian mengambil arah ke jalan Cipaganti. Kendaraan umum yang melewati masjid ini diantaranya angkot jurusan Ciroyom-Cicaheum, Kebon Kalapa-Ledeng, dan Margahayu Raya-Ledeng. Biasanya angkot-angkot tersebut juga “ngetem” didepan masjid tersebut untuk menaikkan penumpang.

Seiring perkembangan zaman, daerah sekitar jalan Cipaganti jadi kawasan belanja dan kuliner. Masjid Cipaganti jadi penyegar bagi mereka yang ingin rehat dari hiruk pikuk suasana belanja dan makan-makan.

Jadi kalau tiba-tiba nyasar atau lewat jalan Cipaganti, sesekali mampirlah ke masjid ini.

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Indonesian Arabic Chinese (Simplified) Dutch English Filipino French German Hindi Italian Japanese Korean Malay Portuguese Russian Swahili Thai Vietnamese
- - Contact Us - - About Us - - Jobs - - Help and FAQ - -
JoomlaWatch Stats 1.2.9 by Matej Koval