khantry design

Jelajah Sisi Liar Gunung Tangkuban Parahu

PDFPrintE-mail

Bookmark and Share
Pagi itu udara di sekitar Terminal Ledeng terasa cukup dingin. Sinar matahari belum menyengat. Hanya lalu lalang angkot yang sedikit menambah hawa panas. Aku, bersama dua orang sahabatku, Adis dan Kime, masih menikmati pisang gorang yang diberikan oleh Ulu. Asapnya saja masih mengepul, pasti terbayang kan lezatnya. Sambil sesekali bercanda, kami berempat menunggu datangnya angkot krem dengan label Stasiun-Lembang yang siap mengantarkan kami untuk bertualang.

Ya, hari itu kami berencana untuk mengunjungi salah satu objek wisata paling terkenal di Jawa Barat, Gunung Tangkuban Perahu. Agar lebih menarik, kami sengaja memilih rute yang tidak biasa. Hanya satu modal kami saat itu, NEKAT!! Tanpa pernah tahu medan seperti apa yang akan kami temui. Bahkan untuk Kime, ini adalah perjalanan pertamanya ke Gunung Tangkuban Parahu. Pantas saja dia menggunakan sepatu teplek dengan tas jinjing di tangannya. Ulu malah sempat nyeletuk, “kayak mau ke mall, Ki..”, yang diiringi gelak tawa dari kami semua.


Aku sendiri belum pernah melewati rute ini. Satu-satunya informasi yang aku tahu, rute ini mengacu pada sebuah jalur yang dipaparkan Pak Budi Brahmantyo dan Pak T. Bachtiar dalam bukunya yang berjudul  Wisata Bumi Cekungan Bandung. Dalam buku itu, dijelaskan bahwa untuk mencapai Gunung Tangkuban Parahu kita bisa menjelajahi Hutan Jayagiri hingga tiba di puncak Gunung Tangkuban Parahu. Selanjutnya perjalanan diteruskan dengan menuruni lereng hingga ke Kawah Domas, menembus semak belukar, menapaki hamparan perkebunan teh, sampai akhirnya tiba di Ciater. Wow tampaknya seru, dan percayalah, apa yang kami temui ternyata jauh lebih menyenangkan dari yang kami bayangkan sebelumnya.

Oiya, Tangkuban Parahu adalah bahasa sunda untuk perahu yang terbalik. Bentuk Gn. Tangkuban Parahu memang seperti sebuah perahu yang terbalik atau menelengkup. Hal ini berkaitan dengan dongeng Sangkuriang dan Dayang Sumbi.

***
Waktu masih menunjukkan pukul 07.00 pagi. Tak lama berselang angkot yang kami tunggu menjelang. Segeralah kami menaiki angkot itu. Jangan bayangkan suasana yang penuh sesak. Entah kebetulan atau tidak, angkot yang kami naiki cukup lowong. Isinya hanya kami berempat dan tiga orang penumpang lainnya. Suasana yang nyaman tadi membuat kami asyik bercengkrama selama perjalanan. Jadilah waktu 45 menit seperti tak terasa. Tiba-tiba saja kami sudah berada di Lembang, dan berhenti tepat di sebuah pertigaan dengan sebuah plang bertuliskan “Makam Junghun”.

Di hadapan kami, terbentang jalan lurus sepanjang 2 km dengan sedikit mendaki menuju pintu masuk Hutan Jayagiri. Tetapi sebelum kesana, kami menyempatkan diri untuk mampir ke Makam Junghun seperti yang kami lihat di plang tadi. Lalu siapakah Junghun? Beliau adalah seorang ahli kina yang sangat terkenal pada saat bumi parahyangan ini masih berupa hamparan perkebunan. Percaya atau tidak, dulu negeri tempat kita berpijak ini adalah pengekspor kina terbaik di seluruh dunia. Ironisnya, ketika melihat Makam Junghun, tidak terlihat tanda-tanda kemasyhurannya. Area pemakaman itu tampak tidak terawat. Padahal, jasa yang diberikan Junghun tak ubahnya seperti Boscha dengan sumbangsihnya pada perkebunan teh di Indonesia. Jadi, bagi yang sudah pernah mengunjungi Makam Boscha di Perkebunan Teh Malabar, Pangalengan, pasti akan merasa miris dan sedikit mengelus dada melihat pemandangan di depan mata.

Area pemakaman itu dipagari dengan sebuah gerbang yang terkunci. Untung saja ada celah tembok dan sebilah kayu yang seolah menjadi tangga untuk kami memasuki makam tersebut. Di sekeliling makam, tampak deretan pohon kina. Menurut pengurus makam ini, kina yang ditanam di Lembang adalah kina hasil hibrida antara bibit kina dari luar negeri dengan bibit lokal. Hal ini terkait perbedaan karakteristik dari kedua jenis kina tersebut, yakni kina dari luar negeri memiliki batang yang tinggi tetapi getahnya sedikit, sebaliknya kina lokal memiliki batang yang rendah tetapi getahnya banyak. Alhasil hibrida yang dihasilkan dari kedua jenis ini memiliki batang yang tinggi dan getah yang banyak. Itulah kenapa kina tersebut memiliki kualitas yang sangat baik. Oya soal pemilihan lokasi di Lembang, konon menurut Junghun tanah di Lembang adalah tanah yang paling cocok untuk perkebunan kina. Satu hal lagi yang menarik, dari sana kita bisa melihat pemandangan Obsevatorium Boscha yang berdiri anggun di atas bukit. Cantik sekali. Hmm, itu salah satu scene terbaik yang saya lihat dalam perjalanan ini.

Cahaya matahari sudah mulai terik. Tapi perjalanan kami yang sebenarnya baru saja dimulai. Dengan langkah mantap kami memasuki gerbang Hutan Jayagiri sambil memandangi indahnya patahan Lembang yang membentuk gawir-gawir alam. Jalur ini dibuka dengan trek yang cukup menanjak. Apalagi saat itu masih musim hujan, jadilah tanah setapak itu menjadi licin dan berair. Kime, tentu saja yang paling kerepotan. Dengan nafas tersengal dia terus berusaha mendaki, sementara kami bertiga malah asyik berfoto-foto. Hutan Jayagiri memang indah, khas dengan deretan pinus yang membuat kami seolah tenggelam dalam rerimbunan. Tapi hutan ini tidak lebat, sinar matahari bisa dengan bebas menelesup celah-celah ranting dan dedaunan. Sungguh pemandangan yang menarik, dibarengi dengan udara yang sejuk dan kicau burung yang sesekali menyeruak.

Perjalanan kami lanjutkan dengan menyusuri jalan setapak, yang seolah telah terbentuk dari jejak-jejak para petualang yang telah melewati jalur ini sebelumnya. Untuk kami yang baru pertama kali mengunjungi Jayagiri, tentunya ini sangat membantu. Tak terasa 2 jam sudah berlalu, dan kami masih terus mengikuti kelok jalan setapak itu, hingga kami tersadar bahwa kami sepertinya menempuh arah yang salah. Tanpa kompas dan peta, atau petunjuk lainnya, kami memang tak tahu dimana koordinat kami sekarang dan kemana seharusnya kami melangkah. Tadi memang ada persimpangan, satunya jalan menanjak, yang lan jalan menuju  sungai. Kami pilih jalan menuju sungai. Tetapi itu malah mengantarkan kami ke sebuah padang yang enatahlah apa namanya. Tapi kami sadar itu bukan arah yang dituju. Kami mulai bingung.

Akhirnya kami kembali ke persimpangan tadi, dan mencoba arah lainnya. Tetapi sepertinya ini bukan trek jalan setapak. Ini adalah jalur air dari puncak bukit. Sangat terjal dan licin. Beberapa kali kami saling berpegangan agar bisa sampai ke atas, dan setibanya di sana kami masih belum tahu haru kemana. Lelah, tiba-tiba menyeruak di sekujur tubuh kami, hingga kami putuskan beristirahat sejenak. Parah sekali, kami tidak membawa bekal apa-apa kecuali sebotol air minum yang kubawa dan sewadah mi goreng yang Ulu bawa. Tanpa ragu, hidangan itu akhirnya menjadi milik bersama dan habis dalam sekejap. Kami mendapat energi baru, sambil terus berpikir ke mana sebaiknya kami teruskan arah perjalanan. Tiba-tiba kami melihat serombongan orang sedang berjalan dari jarak yang tak cukup jauh. Segera saja kami kejar. Kami tanya arah yang benar, dan mereka bilang ini memang jalur meuju Tangkuban Perahu. Mereka bahkan menunjukkan sebuah menara telekomunikasi, yang hanya tampak sebesar telunjuk, dan mengatakan bahwa itulah puncak Tangkuban Perahu. Fiuuhh, kami lega.

Setidaknya kami kembali ke jalur yang benar. Perjalanan pun dilanjutkan.

Jalur kami lewati kali ini tampaknya adalah sebuah trek mobil offroad yang penuh dengan genangan air hingga menyerupai sungai kecil. Adis malah sempat bergaya seolah-olah sedang menaiki sampan sambil berdiri di gundukan tanah yang memanjang. Ada-ada saja memang, tapi kami memang benar-benar menikmati setiap kejutan dalam perjalanan ini. Tak lama kemudian, kami pun tiba di suatu areal yang mirip hutan, namun tidak pohon-pohonnya tidak terlalu tinggi. Rupanya lokasi itu adalah jalur trek motorcross yang biasa diliwati para crosser melintasi Hutan Jayagiri. Disana kami juga berpapasan dengan serombongan orang dari sebuah kompleks perumahan di Bandung, yang sedang berwisata ke Gunung Tangkuban Parahu. Menariknya, kostum yang mereka kenakan begitu santai, beda sekali dengan kami yang baru saja nyasar. Kalau wajah kami penuh peluh keringat, kucel, dan kelaparan, mereka tampak segar dan bersih. Bahkan ada seorang wanita yang membawa anjing pudelnya, dengan topi lebar dan kaca muka yang begitu besar. Ckckck..kami seperti bukan sedang di hutan..

Lantas untuk beberapa saat kami berjalan bersama rombongan itu. Namun, sikap mereka yang berisik membuat kami jengah. Tiba-tiba saja kami memutuskan untuk berpisah dan menyelinap masuk ke dalam rimbun hutan, setelah sebelumnya bertemu dengan orang lokal disana yang baru saja pulang dari Tangkuban Perahu melalui jalur hutan. Eh..rombongan itu rupanya malah mengikuti kami. Dasar. Kami jadi terdorong bergerak secepat mungkin agar tak terkejar. Melewati jalur bebatuan, melompati batang pohon melintang, sampai menyeberangi alur sungai kecil, hingga akhirnya menemukan jalan aspal. Ya, akhirnya setelah 4 jam berjalan tanpa tahu arah, kami tiba di tempat parkir Gunung Tangkuban Parahu. Peluh, lelah, dan letih yang tadi menusuk, sekarang jadi tak terasa lagi. Dengan senyum mengembang dan wajah memerah, kami pun tak sabar menaiki kendaraan ontang-anting yang mengantarkan kami ke puncak Gunung Tangkuban Parahu.

Melihat kawah Gunung Tangkuban Parahu memang tak pernah membuatku bosan. Apalagi sangat jarang ada kawah gunung api aktif yang bisa dilihat sedekat ini. Harum belerangnya membawa nuansa eksotis suasana pegunungan. Saat menikmati pemandangan Kawah Ratu, kami serasa melihat mangkuk raksasa yang sangat besar dan dalam.  Cuaca juga cukup cerah sehingga lekukan tanah pada dinding kawah terlihat sangat jelas. Benar-benar pemandangan yang mengagumkan. Tapi sayang, begitu menyusuri bibir Kawah Ratu, indahnya panorama ini sedikit terganggu dengan padatnya tenda-tenda para penjual cinderamata. Kawasan wisata ini jadi seperti tak tertata. Dan yang paling menyebalkan, banyak pedagang menawarkan barang dagangannya dengan cara memaksa. Fasilitas umumnya pun minim sekali. Ah, pantas saja beberapa waktu lalu, kawasan wisata ini dicoret dari daftar tujuan wisatawan asing. Sayang sekali bukan..

Gunung Tangkuban Parahu merupakan salah satu gunung berapi yang masih aktif di Pulau Jawa. Konon,  gunung ini pernah meletus beberapa kali, mengeluarkan isi perutnya sehingga menghasilkan sembilan kawah yang tersebar di berbagai tempat di sekitar puncak gunung. Salah satunya Kawah Domas, dan itu menjadi tujuan kami berikutnya. Setelah puas menikmati ketan bakar di puncak gunung, tanpa berlama-lama kami pun meneruskan perjalanan menuruni lereng Gunung Tangkuban Parahu dengan trek menurun sepanjang 1,2 km. Sambil melewati undakan tanah menyerupai anak tangga dengan pembatas kayu hutan, kami begitu menikmati indahnya pepohonan di sepanjang jalur ini.  Pastinya kesempatan untuk berfoto dan mengabadikan momen-momen seru tidak kami tak sedikit pun kami lewatkan.

{mosimage}Tak sampai satu jam, aroma belerang dari Kawah Domas telah menyambut kedatangan kami. Tampak bebatuan belerang berserakan dimana-mana. Disana juga terdapat beberapa kolam kecil dari sumber air panas alami, tapi bukan untuk berenang. Airnya panas sekali, bahkan sampai mendidih. Yang menarik, pengunjung bisa merebus telur di kolam itu. Tinggal tunggu beberapa menit saja, telur rebus siap dinikmati. Kita juga tak perlu repot-repot membawa telur, karena disana banyak pedagang yang menjual telur, meski dengan harga yang berlipat-lipat. Di kolam lainnya, dengan air yang tidak terlalu panas, kita bisa merendam kaki sambil berisitirahat sejenak. Kabarnya air belerang memang berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit kulit sekaligus memberi efek terapi pada tubuh. Jadi, setelah pegal berjalan, kaki kami kini serasa dipijat. Rasanya enak sekali.

Setelah puas berelaksasi, perjalanan dilanjutkan menuju ke bawah untuk menyusuri aliran sungai kecil dan mencari jalan setapak ke arah Ciater. Kali ini kami kembali ke hutan. Tapi bukan deretan hutan pinus seperti di Jayagiri. Hutan ini lebih tepat disebut semak belukar. Agak susah memang untuk menemukan jalan ini karena jarang dilalui oleh pendaki. Awalnya kami sempat khawatir akan tersesat lagi. Apalagi sepanjang jalan kami menemui banyak ilalang-ilalang tinggi yang menutupi jalan. Satu-satunya petunjuk kami adalah arah panah yang ditinggalkan oleh pendaki sebelumnya. Kami pun patuh mengikuti rute ini, sambil terus mengikuti jalan setapak hingga tiba petualangan ini mengantarkan kami ke perkebunan teh Ciater.

Sesaat kami tak percaya, kalau kami sudah sampai perkebunan teh. Setelah tadi deratan hutan pinus, aroma belerang, semak belukar, kali ini yang ada di hadapan kami adalah rimbunnya daun teh. Hijau dan sangat menyejukkan mata. Saking senangnya, kami bahkan sempat tidur-tiduran di atas rimbunnya pohon teh. Selanjutnya, inilah saatnya tea walk. Ajaib, itu yang kami rasakan ketika menyusuri celah-celah jalan di kerapatan kebun teh. Tanpa tahu jalur ini menuju ke mana, kami begitu santai menyusuri setiap jengkal alur bukit teh ini, sambil bergerak menuju tujuan akhir kami yaitu: menemukan (lagi) jalan aspal. Setelah lebih dari 1 jam melenggang di bukit hijau, kami pun sampai di Jalan Raya Ciater, Subang.

Tak terasa ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Jadi, sudah sekitar 10 jam kami berpetualang, dan sekarang saatnya pulang. Tapi naik apa ya? Tidak ada kendaraan umum yang bisa mengangkut kami langsung ke Bandung dari sini. “Gimana klo kita nebeng mobil kol sayur aja?!”, sahut Ulu tiba-tiba. Ide cemerlang. Ah, kenapa tidak terpikirkan ya. Lantas dengan gaya ala backpacker yang kekehabisan ongkos, kami pun mejeng di pinggir jalan sambil mengacung-acungkan jempol, pertanda minta tumpangan pada kendaraan yang lewat. Benar saja, tak berapa lama, sebuah kol sayur hitam lantas berhenti. Setalah mengutarakan maksud kami untuk menumpang, pak supir yang baik hati itu mempersilahkan kami untuk naik. Terima kasih pak, dan inilah akhir dari perjalanan kami.

***
Entah sudah berapa kilometer jarak yang kami tempuh hingga sejauh ini. Tapi kami tak peduli. Pulang dengan menaiki mobil kol sayur ala film Petualangan Sherina adalah ending yang sempurna untuk perjalanan ini. Terus terang saja, saking girangnya, kami malah sibuk foto-foto di atas mobil kol sambil bergaya ala tukang sayur, lengkap dengan topi dan keranjang sayur. Kaki kami memang terasa berdenyut, tapi rasa lelah dan letih sirna ketika sepoi angin Lembang mengantarkan kami kembali ke Bandung. Aku pikir, ini adalah salah satu petualangan terbaikku. Semuanya serba spontan dan tidak diduga. Kalau suatu hari kamu ingin mendapatkan pengalaman yang berbeda ketika pergi ke Tangkuban Parahu, rasanya rute ini patut dicoba. Jangan lupa siapkan fisik prima, karena kita akan menjelajahi Hutan Tangkuban Parahu. Selamat mencoba!

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Indonesian Arabic Chinese (Simplified) Dutch English Filipino French German Hindi Italian Japanese Korean Malay Portuguese Russian Swahili Thai Vietnamese
- - Contact Us - - About Us - - Jobs - - Help and FAQ - -
JoomlaWatch Stats 1.2.9 by Matej Koval