Selamat Datang di Website Mahanagari

PDFPrint

Halo! Selamat datang bin wilujeng sumping,

Selamat datang di Website resmi Mahanagari, sekaligus toko kedua kami setelah Mahanagari di CiWalk (Cihampelas Walk). Mahanagari mendesain kaos-kaos bertema Bandung. Kami mengangkat tema sejarah, budaya, hingga kehidupan sosial Bandung ke dalam media kaos. Beli kaos Mahanagari dapat dilakukan via online. Masuki Shop Online, yang terdapat di panel atas dan kiri, pilih link untuk tshirt laki-laki dan tshirt perempuan, lalu pilih kaos yang Anda sukai. Ikuti prosedur pembeliannya dan jangan lupa: daftar dahulu sebagai member website ini ya!

Karena website ini juga bertujuan untuk kampanye pengetahuan mengenai Budaya Bandung, maka Mahanagari akan terus meng-update informasi mengenai Kota Bandung tercinta - mulai dari tempat-tempat yang seru untuk dijelajahi, makanan yang harus dicoba, sejarah yang harus diketahui, dan cerita-cerita menarik lain. Termasuk beberapa komunitas di Bandung yang aktif berkegiatan. Masuki Catatan Perjalanan, Cerita Bandung, Travel Guide, dan Komunitas-komunitas di Bandung di All About Bandung. Panel ini ada disebelah kiri Anda. Mahanagari dan kegiatan Jalan-jalan Budaya dapat dilihat di Bandung City Tour, klik di bagian atas ujung kanan web ini.

Album Foto Mahanagari yang berisi Local Genius Mahanagari, Weega Mahanagari, Contributing Designer dan Contributing Writer dapat diakses melalui tombol di panel kiri.  Album Bandung Tempo Dulu pun dapat anda nikmati jika anda register terlebih dahulu di mahanagari.com.

Untuk teman-teman yang tertarik untuk memesan kaos khusus atau ingin desain merchandise perusahaan atau komunitasnya di-upgrade agar se-keren desain-desain Mahanagari, silahkan klik tombol Special Order di bagian atas website ini.

Dan jangan lupa berikan komentar Anda di web ini ;)

Hatur nuhun & enjoy the site!

-www.mahanagari.com-

 

Menantang Jeram Sungai Cimanuk - Garut

25-11-2008 | Nurul Wachdiyyah Bagian paling menakutkan dari arung jeram itu cuma satu: Nagih pengen arung jeram lagi. Mahanagari dan teman-teman diajak anak-anak Darkcrossers untuk nyicip jeram sungai Cimanuk di Garut hari Sabtu, 9 Februari kemarin. Start dari Bandung pukul 07.30 dan sudah sampai Bandung lagi pada pukul 7 malam. Total ada 16 orang yang berangkat dari Bandung, 12 peserta. Emma, seorang Blogger sekaligus petani organik di Panaruban, Subang. Lalu ada Tessi, Nona Cimahi yang bekerja di Siemens Jakarta. Ada pula 2 fresh gradute Psikolog Unpad bernama Anwar dan Shinta. Berikutnya  Alwi yang baru saja pulang penelitian dari Papua dan teman kampusnya yang rame, ribut, dan energik, Ella. Dewi dan Yusi adalah dua dosen UPI Bandung, masing-masing  adalah dosen Bahasa jepang dan pendidikan Psikologi. Taufik, peserta yang termasuk sering tercebur ini adalah mahasiswa S2 ITB. Terakhir Lemet, bapak yang satu ini sudah langganan ikutan acaranya Mahanagari. Dan tentu saja ada Benben dan Ulu dari Mahanagari. Tiga lainnya adalah tim dari Darkcrossers: Dodi, Isan, Mas Andi, dan Meydi. 16 orang ini terbagi dalam 3 mobil: Cherokee, Kijang, dan sedannya Taufik. Sampai Cimanuk jam 10, setelah sebelumnya kita mampir dulu di pinggir jalan kota untuk mompa perahu. Jam 10.30 setelah briefing dan perkenalan, kita mulai nyemplung. Seorang dari kita mulai berkomentar “kok sungainya tenang gini ya” dan komentarnya berubah 180˚ setelah 1 jam berikutnya=D Selama 2 jam pertama saya gabung dengan satu perahu jagoan, isinya tim Rescue semua. Belum lagi saya perempuan satu-satunya, yang lain bapak-bapak semua. Jadi kalo saya ngedayung itu buat sopan santun aja=D Karena ingin mencoba perahunya Dark Crossers yang kelihatan besar dan anggun, saya pindah ke perahu yang dipegang Ihsan, setelah sebelumnya diceburkan secara sengaja oleh Dodi. Begitu juga yang lain. Tercatat hari itu yang tidak tercebur adalah Tessi. Sisa 3 jam berikutnya saya mendayung dari perahu Avon, yang kata Dodi adalah Mercedesnya Perahu. ...
+Baca terus ...

The Story of Cendol Elizabeth vs Cendol Gentong Alkateri

24-08-2009 | Susi Dwiyanti Cendol namanya. Identik dengan dua kata: manis dan segar. Minuman ini biasanya disajikan sebagai pencuci mulut atau sebagai makanan selingan. Sesuai disajikan disiang hari. Meski pernah diakui sebagai kekayaan kuliner Malaysia, menurut sebuah situs bernama Wikipedia, (coba klik "http://ms.wikipedia.org/wiki/Cendol"), cendol berasal dari Indonesia atau tepatnya dari tanah Jawa. Walaupun begitu, es cendol itu juga populer di Malaysia, Singapura dan juga Thailand selatan. Ini bukan judul pertarungan antara dua pedagang es cendol, tapi membandingkan kekayaan yang terdapat dalam dua macam cendol sedap yang ada di Bandung. Hampir semua orang Bandung kenal dengan es Cendol Elizabeth. Pada saat pertama jualan, es cendol ini tak  bermerknya. Namun karena jualan di depan Toko Tas Elizabeth yang juga sangat terkenal di Bandung, maka orang menyebutnya dengan es Cendol Elizabeth. Sekarang resminya Es Cendol Elizabeth ini tidak berjualan lagi di depan Toko Tas Elizabeth, tapi di rumahnya sendiri, di jalan Pelindung Hewan, sekitar 1 km dari Toko Tas Elizabeth di jalan Oto Iskandardinata. Cendol Elizabeth ini jadi favorit banyak orang karena kelezatannya. Namun bila dilihat lebih jauh lagi, cendolnya lembut dan betulan memakai campuran suji dan pandan untuk membuat warna hijau cendolnya. Gulanya juga memakai gula jawa asli. Penulis pernah mengunjungi dapur es cendol Elizabeth pada akhir tahun 80an. Proses pembuatan cendol yang terbuat dari campuran tepung beras dan tepung sagu yang dimasak bersama campuran daun suji dan pandan. Wangi pandan menguar ke seluruh gang sempit, dan sekantong besar cendol bisa dibawa pulang saat itu. Sekarang, sekitar 20 tahun kemudian, di Jalan Pelindung hewan sudah ada counter khusus untuk berjualan cendol bahkan juga ada tambahan warung bakso dan batagor untuk menemani santapan cendol segar. Produksi cendolnya pun bisa mencapai ratusan ton sehari karena harus menyuplai supermarket-supermarket besar di Bandung, juga beberapa katering bahkan p...
+Baca terus ...

4 Toko Buku Keren di Bandung

30-04-2010 | Nurul Wachdiyyah Toko buku. Ada banyak buku, tersusun di rak-rak lemari, dan kalau baca mesti berdiri. Oiya. ada lirikan pak Satpam yang mengawasi juga. Hiii... Kalau di Bandung sih kita punya alternatifnya. Toko buku alternatif ini sebenarnya agak-agak mirip perpustakaan. Kegiatan utamanya memang berjualan buku, tapi banyak juga kegiatan lainnya yang mendukung kegiatan literasi. Bahkan ada pula yang tidak nyambung dengan buku. Kalau ada waktu luang, sempatkan mampir ke beberapa toko buku berikut ini. Bisa jadi sana anda akan betah karena suasana tokonya, mungkin pula jadi sering-sering datang karena bergabung dalam kegiatan yang ada di toko ini. Atau ketika ingin sendiri tenggelam dalam buku-buku, hmmm...tetap menyenangkan. 1. Tobucil Bagi kami, Toko Buku Kecil yang disingkat Tobucil ini adalah pelopor toko buku alternatif di Bandung. Dahulu Tobucil mengusung moto Support Your Local Literacy Movement. Untuk mendukung semangatnya, Tobucil bikin beberapa Klab. Semacam komunitas kecil yang berkumpul di hari tertentu dan membahas tema dari Klab tersebut. Ada Klab Nulis, Klab Baca, Klab Desain, Klab Klasik, Klab Jazz, dll. Itu dulu, sekarang kegiatan literasinya ditambah dengan dengan kegiatan kreatif lain yang khas, yaitu hasta karya. Semacam Klab Rajut, klab ini khusus membuat sesuatu yang dibuat secara manual, alias hand-made.  Tobucil ini cocok deh sama namanya, tokonya kecil mungil. Meski kecil, semangat Tobucil besar sekali dan sering jadi tempat bagi banyak orang berinteraksi satu sama lain dalam kegiatan-kegiatannya. Lihat Tobucil dan kegiatan di http://tobucil.blogspot.com/ Tobucil ada di Jl. Aceh no. 56 Bandung 40113 Buka - Tutup : 08.00 - 20.00 2. Roemah Buku Ini dia satu toko buku favorit kami berikutnya. Roemah Buku! Kalau kesini benar-benar serasa di rumah. Seperti rumah kita sendiri tapi bayangkan ruang tamu dan ruang kita nonton tivi dan berkumpul bersama keluarga dijadikan sebagai toko buku. Ada sedikit rak besar yang berdiri menampung secara rapi buku-bu...
+Baca terus ...

Jelajah Sisi Liar Gunung Tangkuban Parahu

15-07-2009 | Dimas Sandya Pagi itu udara di sekitar Terminal Ledeng terasa cukup dingin. Sinar matahari belum menyengat. Hanya lalu lalang angkot yang sedikit menambah hawa panas. Aku, bersama dua orang sahabatku, Adis dan Kime, masih menikmati pisang gorang yang diberikan oleh Ulu. Asapnya saja masih mengepul, pasti terbayang kan lezatnya. Sambil sesekali bercanda, kami berempat menunggu datangnya angkot krem dengan label Stasiun-Lembang yang siap mengantarkan kami untuk bertualang. Ya, hari itu kami berencana untuk mengunjungi salah satu objek wisata paling terkenal di Jawa Barat, Gunung Tangkuban Perahu. Agar lebih menarik, kami sengaja memilih rute yang tidak biasa. Hanya satu modal kami saat itu, NEKAT!! Tanpa pernah tahu medan seperti apa yang akan kami temui. Bahkan untuk Kime, ini adalah perjalanan pertamanya ke Gunung Tangkuban Parahu. Pantas saja dia menggunakan sepatu teplek dengan tas jinjing di tangannya. Ulu malah sempat nyeletuk, “kayak mau ke mall, Ki..”, yang diiringi gelak tawa dari kami semua. Aku sendiri belum pernah melewati rute ini. Satu-satunya informasi yang aku tahu, rute ini mengacu pada sebuah jalur yang dipaparkan Pak Budi Brahmantyo dan Pak T. Bachtiar dalam bukunya yang berjudul  Wisata Bumi Cekungan Bandung. Dalam buku itu, dijelaskan bahwa untuk mencapai Gunung Tangkuban Parahu kita bisa menjelajahi Hutan Jayagiri hingga tiba di puncak Gunung Tangkuban Parahu. Selanjutnya perjalanan diteruskan dengan menuruni lereng hingga ke Kawah Domas, menembus semak belukar, menapaki hamparan perkebunan teh, sampai akhirnya tiba di Ciater. Wow tampaknya seru, dan percayalah, apa yang kami temui ternyata jauh lebih menyenangkan dari yang kami bayangkan sebelumnya. Oiya, Tangkuban Parahu adalah bahasa sunda untuk perahu yang terbalik. Bentuk Gn. Tangkuban Parahu memang seperti sebuah perahu yang terbalik atau menelengkup. Hal ini berkaitan dengan dongeng Sangkuriang dan Dayang Sumbi. *** Waktu masih menunjukkan pukul 07.00 pagi. Tak lama berselang angkot yang kami...
+Baca terus ...

Keliling Museum di Bandung (III): Museum Konperensi Asia Afrika

16-10-2009 | Bang Aswi Museum Konperensi Asia Afrika (KAA) dibuat untuk mengabadikan peristiwa KAA yang diselenggarakan pada 18-25 April 1955. KAA tersebut merupakan peristiwa yang sangat bersejarah bagi politik luar negeri negara Indonesia. Pembangunan museum KAA dipelopori oleh Joop Ave dan Dirjen Protokol dan Konsuler Deplu, bekerjasama dengan Depdikbud, Pemda Tingkat 1 Jawa Barat, serta Universitas Parahiyangan. Museum KAA diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 24 April 1980, sebagai puncak peringatan 25 tahun KAA. Museum KAA menempati Gedung Merdeka, yang hingga saat ini menjadi milik DPR/MPR dan berada di bawah pengawasan Sekretariat Negara, khususnya di bawah Departemen Luar Negeri yang kemudian menjadi UPT dari Direktorat Diplomasi Publik. Pengelolaan gedung tersebut di bawah Pemerintah Propinsi Jawa Barat. Museum KAA memamerkan sejumlah koleksi berupa benda-benda tiga dimensi dan foto-foto dokumenter peristiwa pertemuan Tugu, Konperensi Kolombo, Konperensi Bogor, dan Konperensi Asia Afrika tahun 1955. Program Museum KAA yang rutin adalah pameran tetap, ceramah, bimbingan, pemanduan, dan kerjasama. Fasilitas Museum KAA adalah ruang pameran tetap, ruang pameran temporer, audio visual, pemutaran film, ruang auditorium, ruang perpustakaan, ruang penyimpanan koleksi, dan ruang administrasi. Museum Konperensi Asia Afrika Jl. Asia Afrika No. 65 Bandung 40111 Telp. (022) 4233564/ 4238031, Faks. (022) 4238031 Waktu Buka: Senin - Jum'at, Pukul 08.00 - 15.00 WIB Hari Sabtu, Minggu, dan Libur Nasional TUTUP Harga Tiket Masuk: Gratis Foto Museum Konperensi Asia Afrika oleh Harmein Armia di Flickr ...
+Baca terus ...

Jadwal Kegiatan

<<  September 10  >>
 Mo  Tu  We  Th  Fr  Sa  Su 
    2  3  5
  6  7  8  9101112
13141516171819
20212223242526
27282930   

Translate This Page

Indonesian Arabic Chinese (Simplified) Dutch English Filipino French German Hindi Italian Japanese Korean Malay Portuguese Russian Swahili Thai Vietnamese
Facebook Image
- - Contact Us - - About Us - - Jobs - - Help and FAQ - -
JoomlaWatch Stats 1.2.9 by Matej Koval